Tampilkan postingan dengan label Pertunjukan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertunjukan. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Mei 2010


Aku sudah berada di Ubud kembali. Dua setengah hari di Singapura berlalu dengan cepat. Aku beruntung, semua rencana yang ada di benakku berjalan dengan lancar selama aku disana. Aku pun sempat mengunjungi tiga museum. Kawan baikku dari Jakarta bergabung denganku di hari Sabtu siang untuk melihat museum peradaban yang selalu aku kunjungi bila di Singapura karena pameran-pameran khususnya selalu spektakuler. Kali ini kami menikmati perhiasan-perhiasan dari jaman Mughal di India. Luar bisa sekali penataannya. Aku hanya dapat bermimpi museum semacam ini ada di Indonesia.

Malamnya kami bertemu lagi di gedung pertunjukan berbentuk mirip durian yang terkenal untuk pertunjukan Broadway Chicago. Kami tidak percaya bahwa kami sudah merencanakan perjalanan ini sejak awal bulan Desember yang lalu. Waktu berlalu dengan cepat dan tidak hanya itu, kami senang bahwa akhirnya kami dapat mewujudkannya. Pertunjukannya luar biasa, seperti biasa. Aku selalu mengagumi badan para penari yang terjaga staminanya. Mereka tidak kurus tetapi begitu lentur dan ‘efisien.’ Dedikasi yang luar biasa terhadap seni! Selesai pertunjukan, aku kembali dibuat kagum oleh grup tari dimana kawanku bekerja. Mereka begitu kompak. Aku menikmati sesi pengambilan gambar mereka dibawah poster pertunjukan yang begitu meriah.

Aku kembali ke hotel dengan berjalan kaki melalui jalan dibawah tanah yang lagi-lagi membuatku berdecak kagum karena keterkaitannya satu sama lain dalam rentang ruang yang tidak kecil. Aku berjalan cukup jauh melalui lorong-lorong dengan toko-toko menarik sepanjang jalan. Sudah hampir tengah malam tetapi masih banyak orang yang menggunakan lorong pintas ini dan aku merasa aman di negara-kota ini. Aku tidak berjalan terlalu cepat, aku menikmati suasananya. Kota ini adalah salah satu tempat dimana aku mempunyai kesempatan untuk banyak berjalan kaki. Bahkan dibawah matahari pun aku tidak keberatan karena udaranya bersih.

Sebelum ke bandara di siang hari, di hari terakhirku, aku menemui dua kawanku di sebuah museum yang baru di buka di Chinatown. Museum mengenai kehidupan orang Cina di rumah-toko di Singapura. Aku yakin museum ini benar-benar dibentuk dari rumah penjahit yang dulu menghuni bangunannya. Beruntung aku mengunjungi museum ini dengan dua kawanku yang keturunan Cina dari Jakarta dan Medan. Keduanya memberi keterangan mengenai mengapa rumah keturunan Cina penuh barang dan bagaimana mereka hidup berkoloni dalam satu atap. Bahkan tata letak dan bau kakus rumah-toko ini begitu mendekati aselinya. Aku tersedak.

Kami mengunjungi museum uang di seberang museum Cina sebelum bersantap siang dan berpisah. Aku memeluk kedua kawanku. Aku senang kami telah melewatkan waktu bersama. Aku beruntung mempunyai banyak kawan dan kesempatan untuk mengunjungi banyak tempat. Aku menikmati setiap langkahku menyusuri daerah-daerah baru, sendiri atau bersama kawan. Tidak ada yang lebih indah daripada mementang pandangan dan pengetahuan seluas mungkin.

Tiba kembali di rumah di Ubud sebelum tengah malam, aku syukuri. Aku beruntung, dimanapun aku berada, aku bisa menikmati.

Kawanku dan kawan-kawannya yang datang dari Jakarta.

Rabu, 17 Februari 2010

Terkenang masa lalu…


Itu mungkin ungkapan yang tepat untuk hariku kemarin. Dulu waktu aku kecil, kalau liburan, kadang-kadang aku bermain di rumah kawan perempuan yang rumahnya berdekatan dengan rumahku. Tetapi ada satu sobat kental yang rumahnya cukup jauh untuk ditempuh dengan jalan kaki atau naik sepeda, sehingga kalau aku ingin main ke rumah sobatku ini aku harus mencocokkan jadual Mama untuk mengantar dan menjemputku. Aku cukup sering main ke rumah sobatku ini karena kami bisa kreatif bersama dalam bermain. Satu kali aku mengalami kecelakaan kecil di rumahnya yang lapang karena kami bermain selancar menggunakan bantal-bantal besar dan aku pun terantuk sehingga dahiku bengkak sebesar bola pingpong. Aku pikir, mungkin karena kejadian itu dahiku sampai kini tidak pernah kembali rata. Aku tidak menyesalinya karena kenangan dahi-tidak-rata itu ada bersamaku selamanya.

Kembali ke kenangan masa lalu, kemarin aku bertandang ke apartemen sobat baikku hampir lima tahun belakangan sejak kami tinggal di Jakarta. Sejak aku sering mengunjunginya di Manila, kami bak dua anak perempuan kecil yang tidak terpisahkan sejak pagi hari sampai jam pulang ke rumah di sore hari. Karena tidak ada kegiatan khusus hari ini, kami pun bermain bersama di apartemennya. Pembantu dan anjingnya selalu senang bertemu dengan aku jadi bertandang ke apartemennya selalu menyenangkan. Waktu aku datang, pembantunya telah menyiapkan menu layaknya ada pesta kecil di rumah. Selat biji lengkap, selat sayur, dan pate ikan kesukaanku yang disantap dengan biskuit tipis dan roti.

Dan sobatku yang tergila-gila minum teh ini mengeluarkan peralatan minum teh gaya Cina yang dimilikinya. Karena pernah tinggal di Jepang, peralatan minum teh gaya Jepang-nya beragam tetapi aku sudah sering melihatnya. Ini pertama kalinya dia menyajikan teh dengan gaya Cina. Aku melongo melihat dia memilah alat minum terbuat dari keramik yang hendak dipakainya dari sebuah nampan bambu kesukaannya. Alat minum keramik yang disisihkannya merupakan hiburan sendiri bagiku. Aku menyempatkan bertanya fungsi masing-masing piring kecil, teko, moci…

Dan… penyajian teh dengan gaya Cina memang luar biasa. Kawanku baru mendapatkan teh kualitas unggul dari Taiwan sehingga dia ingin berbagi denganku. Daun teh yang baik, katanya, adalah daun yang tetap berbentuk seperti daun sesudah disiram air panas berkali-kali. Daun tehnya memang nampak kering dan keriting waktu masih di wadah. Aku mengambil selembar dan membuka daun kusut yang masih panas itu, kawanku benar, bahkan tulang daunnya masih utuh. Tidak heran kalau harganya tinggi!

Lalu kawanku pun meneruskan kuliah mengenai teh dan peralatannya. Dia mengeluarkan beberapa teko tua yang dia dapatkan di Cina. Teko-teko itu dihias begitu apik dan detil namun ukurannya hanya segenggam tanganku yang kecil ini. Jadi teh yang baik tidak dihasilkan dari sejumput daun teh yang direndam air berjam-jam, tetapi direndam sekitar tiga-puluh detik lalu dituang di cawan berukuran satu tegukan (untuk aku dua tegukan). Daun teh yang baik bisa tahan dituang ulang lebih dari delapan kali! Delapan cawan. Tidak ada artinya. Tetapi tunggu dulu! Aku bertanya pada kawanku apakah aku bisa menjadi mabuk gara-gara kebanyakan minum teh. Dia bilang… bisa! Minggu yang lalu kawan perempuannya jatuh dari kursi sesudah dua jam minum teh. Aku termangu-mangu. Aku sudah di rumah waktu dia mengingatkan kalau aku mungkin memerlukan kamar mandi sepanjang siang untuk mengeluarkan teh yang aku minum bersamanya sesudah makan siang itu. Ya, aku telah meneguk bercawan-cawan teh tanpa terasa.

Waktu berjalan cepat. Seperti di Jakarta, pergi ke satu tempat sesudah senja memerlukan persiapan paling tidak tiga jam sebelumnya. Aku dan kawanku telah membeli tiket menonton grup musik tahun 1970-an, Chicago, yang manggung di mungkin satu-satunya gedung pertunjukan mega di Manila. Konon bangunan ini sudah berdiri sejak tahun 1960-an, milik salah seorang konglomerat Filipina. Gedung bulat gaya koliseum ini nampak lusuh seperti suasana Manila pada umumnya. Serasa masuk ke mesin waktu… Dan grup-grup musik yang akan mengadakan pertunjukan di gedung ini tahun ini pun grup-grup dari tahun 1980-an seperti Michael McDonald, Backstreet Boys (mungkin sekarang sudah jadi Backstreet Papas), Babyface, dan Julio Iglesias. Tetapi aku salut pada gedung yang aktif mengundang musisi yang pernah ternama bahkan masih karena terhitung legendaris.

Dan pemain grup musik Chicago sudah nampak sepuh! Kalau mereka sudah manggung hampir empat-puluh tahun lamanya, dan mereka memulai tenar di usia dua-puluhan maka… Konon hanya empat pemain utama yang masih asli, sisanya sekitar enam orang adalah pemain baru. Seperti grup musik Yes yang aku tonton beberapa tahun yang lalu, suara mereka sudah tidak sepenuh tenaga seperti waktu mereka mengeluarkan albumnya dua atau tiga-puluh tahun yang lalu. Tentu, tarikan napas mereka lebih pendek dan stamina untuk bergoyang sudah berbeda.

Apapun, aku sangat menikmati pertunjukan semalam. Grup musik pembuka yang bernama Midlife Crisis (cocok dengan semangat pertunjukan) main kira-kira satu jam lamanya, dan grup musik Chicago main hampir dua jam. Mereka pandai, mereka seperti mengakhiri pertunjukan setengah jam sebelum mereka benar-benar mengakhirinya sehingga memberi rasa tegang penonton untuk meminta mereka memainkan tambahan lagu dan menjadi gatal untuk berdansa sebelum para musisi lenyap ke belakang panggung. Ya, penontonnya rata-rata berusia midlife crisis atau hampir memasuki masa itu seperti… aku!


Grup musik Chicago dari kejauhan.