
Aku sudah berada di Ubud kembali. Dua setengah hari di Singapura berlalu dengan cepat. Aku beruntung, semua rencana yang ada di benakku berjalan dengan lancar selama aku disana. Aku pun sempat mengunjungi tiga museum. Kawan baikku dari Jakarta bergabung denganku di hari Sabtu siang untuk melihat museum peradaban yang selalu aku kunjungi bila di Singapura karena pameran-pameran khususnya selalu spektakuler. Kali ini kami menikmati perhiasan-perhiasan dari jaman Mughal di India. Luar bisa sekali penataannya. Aku hanya dapat bermimpi museum semacam ini ada di Indonesia.
Malamnya kami bertemu lagi di gedung pertunjukan berbentuk mirip durian yang terkenal untuk pertunjukan Broadway Chicago. Kami tidak percaya bahwa kami sudah merencanakan perjalanan ini sejak awal bulan Desember yang lalu. Waktu berlalu dengan cepat dan tidak hanya itu, kami senang bahwa akhirnya kami dapat mewujudkannya. Pertunjukannya luar biasa, seperti biasa. Aku selalu mengagumi badan para penari yang terjaga staminanya. Mereka tidak kurus tetapi begitu lentur dan ‘efisien.’ Dedikasi yang luar biasa terhadap seni! Selesai pertunjukan, aku kembali dibuat kagum oleh grup tari dimana kawanku bekerja. Mereka begitu kompak. Aku menikmati sesi pengambilan gambar mereka dibawah poster pertunjukan yang begitu meriah.
Aku kembali ke hotel dengan berjalan kaki melalui jalan dibawah tanah yang lagi-lagi membuatku berdecak kagum karena keterkaitannya satu sama lain dalam rentang ruang yang tidak kecil. Aku berjalan cukup jauh melalui lorong-lorong dengan toko-toko menarik sepanjang jalan. Sudah hampir tengah malam tetapi masih banyak orang yang menggunakan lorong pintas ini dan aku merasa aman di negara-kota ini. Aku tidak berjalan terlalu cepat, aku menikmati suasananya. Kota ini adalah salah satu tempat dimana aku mempunyai kesempatan untuk banyak berjalan kaki. Bahkan dibawah matahari pun aku tidak keberatan karena udaranya bersih.
Sebelum ke bandara di siang hari, di hari terakhirku, aku menemui dua kawanku di sebuah museum yang baru di buka di Chinatown. Museum mengenai kehidupan orang Cina di rumah-toko di Singapura. Aku yakin museum ini benar-benar dibentuk dari rumah penjahit yang dulu menghuni bangunannya. Beruntung aku mengunjungi museum ini dengan dua kawanku yang keturunan Cina dari Jakarta dan Medan. Keduanya memberi keterangan mengenai mengapa rumah keturunan Cina penuh barang dan bagaimana mereka hidup berkoloni dalam satu atap. Bahkan tata letak dan bau kakus rumah-toko ini begitu mendekati aselinya. Aku tersedak.
Kami mengunjungi museum uang di seberang museum Cina sebelum bersantap siang dan berpisah. Aku memeluk kedua kawanku. Aku senang kami telah melewatkan waktu bersama. Aku beruntung mempunyai banyak kawan dan kesempatan untuk mengunjungi banyak tempat. Aku menikmati setiap langkahku menyusuri daerah-daerah baru, sendiri atau bersama kawan. Tidak ada yang lebih indah daripada mementang pandangan dan pengetahuan seluas mungkin.
Tiba kembali di rumah di Ubud sebelum tengah malam, aku syukuri. Aku beruntung, dimanapun aku berada, aku bisa menikmati.
Kawanku dan kawan-kawannya yang datang dari Jakarta.