Rabu, 05 Mei 2010


Beberapa saat belakangan, aku berkutat dengan apa yang dikenal sebagai writer’s block. Tidak hanya dalam hal menulis jurnal harianku ini tetapi juga dalam hal menulis surat! Yang mengherankan aku, bukan aku tidak mempunyai ide di kepala, tapi banyak! Aku sempat berpikir untuk kembali menulis dalam Bahasa Inggris dimana bahasanya lebih efisien dalam menterjemahkan rasa tetapi aku masih ingin bertahan untuk konsisten menulis menggunakan bahasaku sendiri. Tetapi ini akibatnya…

Hari ini aku memutuskan untuk tinggal di rumah lagi. Ada yang tidak aku suka sesudah meninggalkan rumah terlalu lama, rumah menjadi bau apek, mungkin karena selama berminggu-minggu dalam keadaan tertutup. Aku berniat untuk membereskannya hari ini. Aku menjemur dan membersihkan barang-barang yang ada di ruang tamu termasuk bantal-bantal dan mencuci apapun yang bisa aku cuci. Sayang matahari sedang bergeser dan hanya bersinar di sepertiga teras saja.

Sesudah berkutat menyelesaikan menyeterika tumpukan cucian sejak dua hari, aku merentang tubuhku lebih jauh. Aku mulai mencuci jendela kamar tidurku. Matahari sudah mulai turun dan ini saat yang paling tepat karena hawa tidak begitu panas dibandingkan bila ada matahari pagi. Aku puas karena aku berhasil menyelesaikannya sehingga besok pagi aku tinggal mencuci jendela ruang tamu yang lebih mudah dilakukan karena tidak perlu memanjat.

Life is like cooking; before choosing
what you love,
try everything.
Paulo Coelho
Beberapa hari ini aku juga berkutat dengan ‘tantangan’ kawan baikku untuk menemukan ‘apa yang suka aku lakukan dalam hidup.’ Aku kurang suka dengan istilah ‘life purpose’ atau ‘tujuan hidup’ karena istilah itu lebih sulit didefinisikan dibandingkan dengan menentukan apa yang suka kita lakukan dalam hidup. Aku menonton film lawas Chocolat kemarin. Aku sempat bingung waktu membeli DVD-nya karena ceritanya kuingat jelas sehingga aku berpikir aku sudah menontonnya. Rupanya aku telah berhasil membayangkan ‘filmnya’ waktu membaca bukunya. Singkat cerita, ada yang menarik dari pesan yang disampaikan di film ini.

Chocolat mengisahkan tentang seorang wanita yang membawa keceriaan di sebuah kota kecil dengan aneka karya coklat buatannya. Keceriaan yang dia bawa tidak membuat senang beberapa orang terutama pihak gereja yang lokasinya berseberangan dengan toko coklat ini. Menurut pihak gereja, coklat (atau kesenangan) membuat orang lupa beribadah. Singkat cerita, pemilik toko coklat ini harus bertarung melawan masyarakat yang mengecam usahanya dan kemudian melawan diri sendiri. Ada yang menarik dari karakter pemilik toko coklat yang ceria dan menikmati hidup ini, sering dia mengingatkan pelanggannya yang ortodoks untuk tidak selalu mengikuti ‘yang seharusnya dilakukan.’ Atau, pesannya adalah, keluarlah dari pakem kadang-kadang.

Aku suka pesan itu karena kadang-kadang aku masih merasa terlalu mengikuti pakem sehingga aku tidak begitu bebas mengekspresikan diri. Kurang berani mencoba sesuatu yang baru, atau mempertimbangkan segala sesuatu terlalu dalam. Lupa untuk mempraktekkan slogan sepatu Nike yang terkenal itu Just do it!

Jadi apa yang hendak aku sampaikan sekarang? Aku suka apa yang didefinisikan oleh Coelho di atas. Aku masih dalam proses memilih apa yang aku suka. Aku ingin melakukan semua tanpa tujuan!

Meja setrika di museum kehidupan orang Cina di Singapura.