
Ubud kembali lengang karena besok adalah hari penutupan perayaan Hari Raya Galungan. Hari kesepuluh yang disebut Hari Raya Kuningan. Aku kembali mendengar kesibukan diluar biasa dari tetangga belakang yang orang Bali. Sejak pagi aku mendengar mereka mencacah daging atau yang disebut nglawar (kata kerja). Kalau aku tidak salah, nglawar biasanya dilakukan oleh pria dalam keluarga. Yang pasti kegiatan ini tidak hanya dilakukan oleh perempuan.
Beberapa tempat usaha sudah mulai tutup hari ini. Toko kue pun sudah tidak menerima pesanan. Aku terlambat memesan kue untuk hantaran hari raya. Tidak banyak yang bisa aku lakukan karena kegiatan bisnis sudah mulai berhenti dan baru dimulai lagi hari Minggu. Aku pun hanya mengisi bensin dan berbelanja di pasar swalayan sekalian mengambil buku pesananku di toko buku di kompleks pasar swalayan tersebut. Buku mengenai kiat menghidupkan jiwa wirausaha dalam diri. Aduh! Seorang kawan merekomendasikan.
Aku berbelanja lumayan banyak kali ini jadi waktu menyadari kalau komputer di kasir sedang mengalami gangguan, aku hanya bisa tersenyum. Antrean mulai panjang karena mereka melakukan transaksi secara manual alias mempekerjakan runner (terjemahannya kira-kira ‘orang yang disuruh lari-lari menyampaikan pesan’). Jadi karena setiap barang ditera oleh alat pembaca kode bar maka kode dan harga tidak kelihatan tanpa mesin infrared itu. Disini runner berfungsi untuk mencari barangnya di rak lalu membacakan kode dan harganya untuk kasir. Kasir lalu mencatatnya di sehelai kertas dan menghitung secara manual berapa total belanjaan dan kembalian bila ada.
Aku memilih untuk tidak kesal karena tidak ada yang bisa aku lakukan, aku harus membeli buah-buahan. Aku tersenyum-senyum sendiri melihat wajah malu dan paniknya petugas kasir dan betapa sibuknya runner lari kesana-kemari. Sambil menunggu, aku mulai mengecek keranjang belanjaanku yang nampak agak sarat. Aku tidak mau menunggu runner berlarian mencari kode barangku yang jenisnya bisa mencapai lebih dari sepuluh. Aku berencana hanya mengambil buah-buahan dan air minum saja; dan menunda pembelian sisanya. Aku tidak tega pada antrean di belakangku yang sudah mulai memanjang, juga di tiga kasir lainnya. Ini bukan yang pertama kalinya di pasar swalayan ini dalam seminggu terakhir. Konon mereka baru saja mengganti sistem komputernya sehingga masih tersedak kadang-kadang.
Aku masih menunggak beberapa pekerjaan rumah. Banyak kawan tidak percaya kalau akhir pekan juga mempunyai pengaruh terhadap ritme kegiatanku. Mereka pikir karena aku tidak mempunyai atasan maka setiap hari adalah akhir pekan. Salah! Lingkunganku yang membuat aku ‘sadar akhir pekan’ seperti kawan mengobrolku di dunia maya yang mengobrol dari kantor. Akhir pekan menjadi sunyi karena berkurangnya kegiatan ini. Selebihnya benar, kurang lebih sama karena aku masih bisa berolahraga dan berbelanja dengan ritme yang sama. Meskipun kelihatannya hari biasa dan akhir pekan sama bagiku tetapi aku tetap tak sabar menanti datangnya akhir pekan.
Penjor di Jalan Kajeng, Ubud.