
Kadang-kadang aku merasa lucu. Di Ubud, aku menunggu hujan berhenti untuk mandi karena pancuran mandiku beratap langit. Sebetulnya ada juga pancuran di bawah atap tetapi aku kurang suka karena curah airnya kurang kuat, lagipula karena lokasinya, pengalaman mandi beratapkan langit sungguh luar biasa rasanya. Mengapa aku harus menunggu hujan untuk mandi? Sepele, karena hujan, terutama kalau lumayan lebat akan membuat rambutku basah padahal aku hanya mencuci rambut sebelum tidur malam. Jadi kalau terpaksa, aku pun mandi dengan tutup kepala plastik seperti yang sering kita jumpai di hotel.
Karena alasan itu, jadual harianku tergantung pada curah hujan. Meskipun tutup kepala plastik bisa menjadi jalan keluar tetapi aku tidak selalu siap untuk mandi dibawah hujan. Sering aku menggigil kedinginan meskipun aku mandi dengan air hangat. Kalau ada waktu dan sedang santai, aku sangat menikmati mandi dibawah hujan karena rasanya luar biasa, campuran air hangat dan dingin pada saat yang sama.
Jadilah beberapa hari ini aku menghadapi tantangan untuk mengatur hari seputar jadual mandi. Aku beruntung mempunyai jadual yang bisa aku tentukan sendiri jadi urusan sepele ini tidak menjadi isu besar. Seperti pagi ini. Sudah pukul 6:30 tetapi diluar masih gelap seperti waktu terlambat satu jam lebih. Ritme tubuhku pun mengikuti ritme alam. Aku tidak bersemangat memulai hari dan tidak bisa merencanakan apa-apa, apalagi hari ini hari Minggu. Hujan turun sejak pagi, meskipun kadang berhenti. Aku mondar-mandir antara menyeterika pakaian dan bercakap-cakap di dunia maya dengan seorang kawan di Yogya tetapi tidak memutuskan untuk melakukan kegiatan diluar rumah.
Singkat cerita, akhirnya pagiku berakhir dengan kesibukan luar biasa karena aku memutuskan untuk mencoba mesin cuci yang baru diperbaiki sebulan yang lalu. Alat penstabil voltase jebol karena itu aku tidak menyadari mesin cuci tersebut watt-nya melebihi kapasitas alat. Tidak ada seninya kalau urusan kecil ini tidak bermasalah. Aku tersenyum sendiri setelah melewati pagi yang tidak kuduga menjadi pagi yang sibuk. Hidup sendiri memang penuh seni!
Daun basah di jembatan Campuhan.