
Aku tidur nyenyak sekali semalam untuk membayar ritme dini hariku kemarin pagi. Aku memulai hari pada pukul 3 pagi untuk berangkat ke bandara pukul 4. Waktu matahari terbit, aku sudah berada di ruang tunggu keberangkatan. Agak aneh memang, sesudah bepergian satu bulan, aku masih melakukan perjalanan yang sudah aku dan kawanku rencanakan sejak lama. Ada saat dimana momen hanya datang satu kali, dan aku senang bisa bergabung dengan kawanku yang bekerja di kelompok tari terkenal di Jakarta ini. Kelompok ini berangkat ber-90 untuk menonton Chicago, pertunjukan Broadway yang terkenal itu. Aku mengenal beberapa personilnya karena keterlibatanku di beberapa pertunjukan mereka di masa lalu.
Bali masih setengah tidur waktu aku menyantap hidangan pagiku di satu-satunya rumah makan yang sudah memulai kegiatannya sejak pukul 5 pagi. Tidak lama kemudian aku terlibat pembicaraan yang seru dengan seorang wanita Jerman yang bepergian dengan anak perempuannya. Pembicaraan berakhir dengan membahas apa yang dia lakukan di Bali, yang menurutku unik, yaitu berkecimpung di seputar urusan bambu sebagai perlengkapan rumah. Dia juga berbagi apa yang ingin dia lakukan di tahun kedepan. Bersekolah masak di Perancis sebagai persiapan membuka kedai hidangan penutup di Berlin kemudian. Aku tertarik ‘mewawancarai’nya karena beberapa waktu terakhir ini beberapa kawan menanyai aku mengenai apa yang bisa aku lakukan dengan kursus permuseuman yang baru aku ambil. Singkatnya, apa yang ingin kau lakukan dalam hidup ini?
Aku tiba di Singapura sebelum waktu santap siang. Aku makan siang bersama kawan baikku yang orang Swedia yang aku kenal di Jakarta sejak sepuluh tahun yang lalu. Sudah lama kami tidak berjumpa, bertahun-tahun, tetapi semuanya masih terasa sama. Paling tidak, kami tetap merasa apa yang kita lalui bersama bertahun-tahun yang lalu. Perjalanan-perjalanan dan santap siang-santap siang bersama kami. Kami memutar kembali cerita lama sambil memutakhirkan apa saja yang kami lakukan beberapa tahun belakangan. Dia telah memilih Singapura sebagai kota peristirahatannya. Dia memang gadis kota yang perlu ke gimnastik setiap hari dan menyantap hidangan ala kota.
Aku tidak berlama-lama di pusat perbelanjaan kota Singa ini meskipun banyak pusat pertokoan baru bermunculan. Aku tidak menyempatkan dan meluangkan energiku hanya untuk melihat-lihat saja. Aku kembali ke hotel setelah mengecek toko buku besar kegemaranku, bahkan untuk buku pun aku harus menekan pedal rem. Aku mempunyai terlalu banyak buku yang belum sempat aku buka. Buku bisa menunggu, seperti buku pemenang Booker Man Prize 2008 The White Tiger yang baru aku baca sekarang, sesudah resensi mengenai buku ini berakhir.
Aku mencoba untuk beristirahat sebelum santap malam dengan kawan baik kawanku yang sudah lama aku kenal. Aku tidak bisa tidur tetapi tidak melakukan apa-apa sejenak di tempat tidur menyegarkan malamku. Kami bersantap malam di rumah makan kegemaran kami semua di tepi sungai yang terkenal. Negeri kota ini sedang berhawa lembab, badanku basah kuyup karena berjalan kaki cepat dari hotel. Satu hal yang gemar aku lakukan di negeri kota ini, berjalan kaki! Aku bisa merasakan otot-ototku mengeras waktu berjalan cepat. Indah!
Kawanku ini berencana untuk pindah ke Ubud pada satu titik, dalam waktu segera. Dia mengatakan dia tidak bisa membayangkan hidupnya kembali ke Amerika, negara asalnya. Lagi-lagi aku memakai dia sebagai obyek observasiku, aku menanyakan apa rencananya dan apakah dia tahu apa yang hendak dia lakukan di kemudian hari. Jawaban yang panjang lebar darinya membantuku untuk menata apa yang ada di benakku. Pekerjaan rumahku belum selesai. Aku masih harus melakukan observasi lanjutan untuk menjawab pertanyaan kawan-kawanku mengenai apa rencanaku ke depan. Banyak orang terpaku dengan hanya melakukan kegiatan yang berkaitan dengan rencana hidupnya. Aku tidak. Aku melakukan semua yang menjadi perhatian dan keinginanku yang mampu aku lakukan sekarang. Aku percaya rencanaku ke depan akan berbuah dari kegiatan-kegiatan yang aku kerjakan sepanjang perjalanan. Itu aku.
Salah satu apartemen di Manila. Ya, aku belum mengambil sepotong gambar pun dari kota ini.