
Hari ini hari besar umat Hindu di Bali. Pagi-pagi bau dupa sudah memenuhi udara waktu aku membuka jendela. Tukang kebunku pagi-pagi sudah datang untuk menyapu halaman dan menyiapkan merajan sebelum sesajian khusus Hari Raya Galungan diletakkan, biasanya sebelum jam 12 siang. Aku membersihkan ruang tamu saja, tidak mencuci baju. Sejak aku kembali, beberapa kawanku ingin datang melihat rumahku. Ada bagusnya karena artinya aku harus siap menerima tamu setiap saat. Aku tidak keberatan karena dengan berbagi aku berterimakasih setiap saat atas keberuntunganku mempunyai rumah yang nyaman dan indah.
Aku mencatat sambil memasukkan sisa kalung-kalung yang belum terjual ke dalam kotak yang baru aku pesan. Aku memberinya penampilan baru sekaligus mempertimbangkan untuk memberi diskon berat untuk menghabiskan stok. Aku ingin memulai sesuatu yang sama sekali baru. Membuat kalung batu dengan manik perak sudah aku lakukan sejak tahun 2007 jadi bulan depan genap sudah tiga tahun. Beberapa hari ini aku terkena sindroma ‘been there, done that.’ Aku ingin melakukan sesuatu yang baru.
Sementara aku suka melebarkan sayap dan melebarkan pandangan, kadang aku merasa ditengah kontradiksi antara dua keyakinan. Beberapa hari ini beberapa kawan mendiskusikan Facebook versus BlackBerry. Ada yang pro terhadap keduanya, ada yang kontra pada salah satu seperti aku. Seberapapun menariknya BlackBerry yang mirip laptop mini, aku sama sekali tidak tertarik untuk memakainya mungkin karena aku tidak memerlukannya. Aku mempunyai akses internet hampir setiap waktu, dan aku menyetir mobil sendiri, jadi memakai BlackBerry bukan merupakan kebutuhan. Selain itu, aku menjadi tidak suka pada alat satu ini karena terbukti telah ‘merampas’ perhatian orang-orang yang sedang bersamaku. Entah kenapa, pemakai BlackBerry memberi perhatian lebih pada alatnya daripada orang yang duduk di hadapannya. Aku tidak mau terjebak pada perilaku yang sama.
Facebook? Aku mengerti alasan banyak orang yang tidak menyukainya sama sekali. Kebetulan aku mempunyai ketelatenan untuk mempelajari fitur situs jejaring sosial ini sehingga aku tidak mempunyai kekuatiran yang sama dengan mereka yang tidak berminat meluangkan waktu untuk mempelajarinya. Aku menikmati cara berkomunikasi melalui situs ini karena ‘mudah’ dan banyak sekali informasi yang bisa aku dapat dari paling tidak 105 orang yang berkawan denganku. Mulai dari acara yang sedang berlangsung di berbagai kota, sampai pada artikel-artikel menarik yang mungkin tidak bisa kutemukan sendiri.
Tetapi, di satu sisi ini menyenangkan, di sisi lain bisa kurang menyenangkan. Beberapa kawan mempunyai perilaku yang kurang menyenangkan yang seharusnya tidak membuatku heran. Tidak semua orang memahami etika berkomunikasi yang umum. Kalau tidak mau kesal, aku harus membatasi interaksi. Aku bisa mengerti kawan-kawan yang memilih sebagai penonton. Aku ikut menikmati kehidupan beberapa kawan perempuanku yang baru mengadopsi bayi, paling tidak ada tiga kawan yang usianya sudah diatas 44 tahun waktu mereka mengadopsi. Aku takjub dan salut kepada mereka. Dan kawan-kawan yang memenuhi hidupnya dengan terus berkarya seni atau membantu orang lain. Aku menonton kisah-kisah ini setiap hari, silih berganti.
Sementara kawanku takjub pada apa yang aku lakukan, aku merasa belum cukup melakukan sesuatu. Aku menghabiskan sepanjang sore ini untuk mencari… sekolah! Ada beberapa program doktor yang aku minati meskipun program master dibidang selain linguistik juga menarik perhatianku. Rupanya aku sedang mencari tantangan ‘yang aman.’
Pelangkiran temporer untuk Hari Raya Nyepi di depan rumahku.