Jumat, 28 Mei 2010


Sudah dua hari ini hujan turun seharian di Ubud. Kemarin aku melewatkan waktu berjalan kaki ke kota bersama kawan baikku. Dimulai dengan bersantap pagi, mengunjungi beberapa toko, dan berbelanja di pasar; dan diakhiri dengan santap siang yang panjang karena hujan deras datang dan pergi. Kebetulan rumah makan tempat kami bersantap siang nyaman jadi kami tidak keberatan untuk duduk lebih lama menikmati derasnya hujan. Hari sudah sore waktu kami tiba kembali di rumah dalam keadaan setengah basah. Aku menikmati berjalan kaki jauh belakangan untuk melatih jantung. Kegiatanku sehari-hari tidak terlalu melelahkan secara fisik.

Hari ini kembali hujan sejak dini hari. Badanku sulit diajak kerjasama karena suasana terasa muram. Beberapa orang senang menikmati hujan di rumah, aku juga bisa menikmati tapi aku merasa kurang kreatif dibandingkan bila aku merasakan hangatnya matahari. Ada beberapa hal yang masih belum aku kerjakan, setiap hari aku mengatakan masih ada beberapa hari sebelum bulan ini berakhir dan tidak terasa kalau tiga hari itu tidak lama. Itu pekerjaan yang mempunyai tenggat waktu, ada juga beberapa hal tanpa tenggat waktu yang masih dalam perencanaanku meskipun beberapa kawan sudah mulai menanyakan. Apalagi kalau bukan koleksi kalung karyaku.

Kalau hujan begini setiap hari, semua terasa lembab, terutama pakaian di lemari. Aku membuat pakta baru dengan diri sendiri sejak kemarin untuk menggilir pakaian di lemari, tidak hanya mengenakan pakaian yang baru dicuci atau yang berada di tumpukan paling atas. Kebiasaan kita semua. Karena lembab, semua barang di rumah mudah berbau tidak enak. Apalagi pakaian yang berada di dalam lemari. Dengan membiasakan memakai pakaian dari tumpukan paling bawah, aku memberi kesempatan yang sama pada pakaian-pakaian itu untuk dicuci dan dijemur.

Ada lagi yang membuat aku menggali pakaian ‘lama.’ Pesta! Besok aku akan menghadiri perayaan ulangtahun seorang kawan baik yang mengirim pesan kepada para undangan untuk memakai pakaian putih dengan sentuhan batik sedikit, atau pakaian batik dengan sentuhan putih sedikit. Aku kurang menyukai memakai pakaian ‘siap pakai,’ aku lebih suka menciptakan pakaian dari apa yang aku punya. Aku menemukan sarung polos dengan aksen jahitan bikinan India, tube penutup dada, dan jaket dari bahan yang sama dengan sarungnya. Semua berwarna putih. Selendang batik bisa aku pilih besok pagi. Semuanya sudah aku siapkan sekarang karena besok aku berencana mengikuti kelas yoga di pagi hari dan hanya mempunyai waktu satu jam untuk bersiap.

Jam berapa ini? Hujan baru berhenti.

Kucing di studio kawanku yang pelukis.