Jumat, 14 Mei 2010


Aku memasuki ritme baru. Tiba-tiba aku dan kawan baikku di Ubud sulit menemukan waktu untuk bertemu. Sesudah tidak menghabiskan waktu bersama enam minggu, kami masing-masing mempunyai ritme dan kebiasaan baru. Dan yang pasti, kami tidak terbiasa untuk melibatkan satu sama lain sehingga sulit mencari waktu dimana kami benar-benar bebas dari komitmen lain. Sejak aku kembali hampir dua minggu ini, sudah tiga kali kami mencoba mengatur pertemuan tetapi belum ada waktu yang sesuai.

Dan kakakku! Sesudah berbulan-bulan, baru semalam kami akhirnya bertemu di dunia maya. Kami bergosip dan berdiskusi mengenai banyak hal sampai tengah malam waktuku. Ini seninya berkomunikasi dengan kawan di zona waktu yang berbeda. Dengannya waktu kami berbeda empat belas jam. Ada untungnya aku terbiasa bangun pagi jadi aku bisa mengobrol dengan kawanku di berbagai negara sejak pukul empat pagi. Ya, aku sangat menikmati obrolan kami. Mudah-mudahan ini akan membuka ‘ritme bersama’ kami sehingga kami dapat bertemu lebih sering. Aku memperkenalkan Facebook padanya dengan meminjamkan akun kosongku. Seperti urusan agama, Facebook adalah kepercayaan yang tidak dapat diperdebatkan. Jadi aku senang kakakku bersedia membuka diri untuk mengenal salah satu cara berkomunikasi ini, paling tidak. Seperti keponakanku yang akhirnya diam-diam mempunyai akun yang aku tidak tahu memakai nama apa. Tidak penting, yang penting dia bahagia dengan kepercayaannya.

Tadi pagi aku mengikuti pergulatan batin kawanku di Manila yang sedang mengepak barang-barangnya untuk pindah ke Shanghai. Dari statusnya di Facebook aku baru mengetahui kalau barang antik Cina akan disita bila masuk kembali ke Cina (dimana kawanku harus memberitahu jasa pengepaknya karena terlanjur tidak dipisahkan); kalau buku, DVD, alat elektronik bahkan lampu, dikenakan pajak yang besar bila masuk Cina; kalau obat, vitamin, dan kosmetik tidak diperbolehkan masuk (aku tidak tahu bagaimana dia bisa mengatasi itu), dan yang terakhir dia masih menyangsikan bagaimana dia bisa mengakses Facebook dan YouTube di Cina! Aku dan beberapa kawan dekatnya merasa Aduh! karenanya. Ada waktu dalam hidup dimana beberapa hal tidak berjalan seperti yang kita inginkan. Aku bersimpati.

Tadi siang aku bersantap siang dengan kawanku sejak kecil. Kami tinggal di kompleks dan sekolah yang sama sampai SMP. Tiga puluh tahun sudah berlalu sejak kami terakhir bersama di bangku sekolah tetapi kami tidak merasa kami benar-benar ‘terpisah’ apalagi sejak ada Facebook yang membuat kami mengikuti kegiatan satu sama lain sejak hampir dua tahun yang lalu. Menarik. Seperti pengalaman dengan kawanku di Ubud, sudah lama kami merencanakan untuk bertemu di Jakarta, tempatnya bermukim, tetapi tidak berhasil. Mungkin karena aku tidak menyempatkan untuk bertemu, yang pasti sesudah bertahun-tahun, baru hari ini kami duduk bersama dan bercakap-cakap. Seru sekali, sayang kawanku harus segera menemui kawannya yang lain.

Akhir pekan sudah kembali tiba, betapa cepatnya. Aku sudah menyiapkan beberapa pekerjaan rumah untuk aku kerjakan akhir pekan ini. Aku mempunyai beberapa ide yang masih di awang-awang, aku harus segera menariknya turun ke bumi alias merealisasikan.

Cincin dari jaman kejayaan Mughal yang dipamerkan di ACM, Singapore.