Selasa, 11 Mei 2010


Cuaca di Ubud tidak dapat diramalkan beberapa hari ini. Kadang-kadang panas, tiba-tiba hujan; atau kebalikannya. Beberapa hari ini aku terperangkap di rumah karena ada saja hal-hal terjadi diluar rencana. Seperti waktu tiba-tiba koneksi internet hilang sesaat sebelum aku meninggalkan rumah. Pelayanan Telkom begitu bagus sekarang jadi begitu aku lapor, mereka akan segera mengirimkan teknisi, artinya… aku harus menunggu di rumah. Teknisi datang dalam dua jam dan hanya beberapa menit saja kabel yang kendor di gardu bisa diperbaiki.

Hari Minggu kemarin aku memerangkapkan diri di rumah gara-gara aku terlibat komunikasi seru dengan salah seorang kawanku di Ubud sejak pagi. Awalnya kami bertukar informasi mengenai kegiatan seni di sekitar kita. Kebetulan dia adalah anggota dewan sebuah yayasan di Amerika yang memberi bantuan ke para seniman yang karya seninya dapat menyuarakan atau membuat perubahan di dunia. Kebetulan kawanku yang lain pernah berbagi denganku sebuah usulan membuat satu karya seni spektakuler mengenai bumi. Aku mencoba memasukkan usulan kawanku ini ke yayasan tersebut untuk mendapatkan tanggapan. Aku senang kalau aku dapat membantu kawanku mewujudkan impiannya.

Besok adalah Hari Raya Galungan, hari besar yang dirayakan orang Bali setiap enam bulan sekali. Kesibukan sudah dimulai sejak pagi ini dengan ditandai bunyi orang mencincang daging untuk lawar, hidangan khas hari raya. Dan tak lama kemudian bau harum semerbak masakan berbumbu sedap memenuhi rumahku yang jendelanya terbuka bila pagi hari. Aku membayangkan lauk itu disantap dengan nasi panas. Pasti sedap!

Tanpa mengeluh, ada saja hal-hal yang menahanku untuk duduk tenang. Malam minggu kemarin aku jatuh terjerembab di jalan raya dekat Campuhan karena daun yang basah. Lututku sedikit memar sampai hari ini sehingga aku tidak bisa mengikuti kelas yoga hari ini. Lalu listrik padam malam minggu itu dan beberapa jam malam tadi. Dan tadi pagi aku menumpahkan cairan dari kotak penghilang lembab yang berakibat dengan rasa lengket di lantai kayu kamar tidurku yang tidak mudah dihilangkan. Ada lagi semut yang berumah di gantungan jemuran baju yang harus aku atasi. Aku geli sebetulnya karena hidup sendiri dekat dengan alam benar-benar membuat sibuk.

Semalam aku dan kawan baikku diundang makan malam di rumah seorang kawan yang baru saja kerampokan di rumahnya. Aku tidak berani menanyakan pengalaman pahit dia ini karena aku tahu kawanku ini sensitif. Sesudah bercerita mengenai kisah cinta masing-masing sepanjang malam (ya, aku serasa menghabiskan waktu bersama dua kawan perempuanku karena topik pembicaraan kami), akhirnya kawanku bercerita juga mengenai masuknya tiga perampok melalui dinding rumahnya yang berbatasan dengan tanah kuburan. Kawanku masih agak trauma dengan kejadian ini sehingga dia menyewa jasa dua penjaga untuk menjaga rumahnya selama 24 jam. Rumahnya benar-benar terpencil jauh di dalam sesudah melewati sawah dan tanah kuburan. Sepi! Seni lain hidup di daerah gelap dan sepi.

Karena tidak banyak yang bisa aku lakukan sebelum dan sesudah Hari Raya Galungan (sekitar 12 hari!) maka beberapa hari ini aku banyak membaca mengenai pengalaman batin seorang bintang film porno (konon) tenar. Judulnya penuh intimidasi tetapi isinya lebih ke perjalanan penderitaan batin seseorang dari keluarga tidak bahagia yang melarikan diri masuk ke dunia pornografi sebagai mata pencaharian. Kisahnya hampir klise tetapi dia menuturkannya begitu baik dengan bahasa yang sederhana. Aku memahami pergulatan batinnya sebagai pekerja di bidang yang ‘tidak biasa.’

Dari buku ini aku dapat memahami lebih jauh mengenai tingkat produktifitas bila diukur dari tingkat tekanan hidup. Ha! Mudah-mudahan pernyataanku ini bisa menjelaskan mengapa aku sekarang tidak menulis seproduktif dulu. Belakangan, aku terlalu santai! Mungkin karena kurang ada tekanan?!

Sapi nandi di kuil orang India di daerah Chinatown, Singapura.