Sabtu, 08 Mei 2010


Today don't beg,
don't ask,
just thank God
in silence
for all the blessings
in your life.
Paulo Coelho
Hari ini berlangsung dengan ‘sepi.’ Aku tidak memulai hari dengan huru-hara pagi seperti yang sering aku lakukan. Tanpa rencana, aku memutuskan untuk pergi ke Denpasar meskipun matahari sudah mulai naik. Hari Raya Galungan sudah dekat, kegiatan dimana-mana mulai memuncak sebelum orang Bali merayakan hari raya enam-bulanan hari Rabu depan. Kegiatan akan menurun kira-kira tiga hari sejak hari Selasa sore. Karena alasan ini, aku memutuskan untuk membereskan urusanku di Denpasar segera.

Aku menghabiskan waktu dengan tenang di sebuah toko swalayan yang banyak menjual barang impor. Aku memilih tempat ini karena rumah makannya menyenangkan, masakannya juga unik. Aku begitu lapar setibanya di Denpasar. Di kompleks pertokoan ini aku bisa melakukannya semua; membeli buku, bersantap siang, dan berbelanja kebutuhan dapur. Bali sedang tidak sibuk, tidak banyak wisatawan berkeliaran di daerah wisata ini. Lagi-lagi aku merasa beruntung telah diberi kesempatan untuk tinggal di pulau dewata ini. Matahari dan semuanya terasa cukup dalam skala berbeda dengan kota metropolitan.

Malam ini aku menghadiri pembukaan pameran karya seni seorang kenalan keturunan Jerman. Aku berjalan kaki dari rumah menuju galerinya meskipun masih gerimis dan sudah mulai gelap. Aku selalu menikmati pertemuan dengan artis-artis yang tinggal di Ubud yang berasal dari budaya lain. Lagi-lagi aku terinspirasi dari cara mereka berkarya persis seperti kemarin waktu aku mengunjungi kawan baruku yang seniman batik. Kawanku yang berdarah setengah Filipina ini sedang menyelesaikan koleksinya musim ini untuk diperagakan di enam kota di Amerika mulai bulan depan. Aku ternganga melihat dia membuka batik karyanya satu per satu dengan penuh perasaan. Dia mengatakan betapa jarangnya dia mempunyai kesempatan melihat sebagian besar karyanya di waktu dan tempat yang sama karena biasanya sebagian masih ada di pengrajin atau penjahit. Jadilah kemarin, kami bertiga (dengan dua kenalan baruku), menjadi penonton untuk karya-karya barunya. Kawanku menghargai waktu kami untuk memberi ‘reaksi’ atas karya seni dia. Aku mengerti apa yang dia maksud dan rasakan. Aku kagum luar biasa terhadapnya, terhadap artis di dalam dirinya, dan kesabarannya yang luar biasa.

Hari sudah hampir berakhir. Bertemu dengan begitu banyak artis dua hari ini, aku kembali bertanya pada diri sendiri, apa yang sudah aku lakukan?

Karya kawanku yang dipamerkan mulai malam ini.