
Kata kunciku hari ini adalah disiplin! Banyak temanku menganggap aku sudah disiplin dalam banyak hal. Mereka sering berpesan untuk aku lebih santai dalam berbuat atau bersikap. Tetap, aku merasa belum cukup. Pagi ini aku berputar sekitar rumah membereskan banyak hal kecil yang belum aku selesaikan, sebutkan: membersihkan lukisan yang aku beli di Manila dari kertas bungkus yang menempelnya (sudah dua bulan lebih lukisan ini menanti aku urus), merapihkan tirai di kamar tamu, membuang makanan yang sudah tidak dapat dimakan, mencuci wadah-wadahnya, mengisi alat-alat kebersihan yang habis,…
Ini contoh disiplin kecil yang sering aku abaikan. Aku juga sering tidak menghabiskan makanan yang aku buka dari bungkusnya sehingga aku mempunyai beberapa bungkus makanan atau toples berisi setengah. Aku menunda membereskan barang-barang yang kubeli yang masih harus diperlakukan ini-itu sebelum dipakai. Aku tidak segera mencuci alas kaki yang perlu dicuci sehingga 3-4 alas kaki berjajar di dekat pintu dalam keadaan perlu dicuci. Dan yang pasti… sudah beberapa saat aku tidak melakukan yoga dengan dalih tidak ada waktu padahal aku tidak menyempatkan. Pagi ini aku menemukan cara baru untuk menumbuhkan kembali semangatku untuk melakukan yoga. Aku memilih musik baru, lokasi baru, dan cara baru beryoga. Ternyata aku jadi bersemangat melakukannya. Aku makin percaya teori yang mengatakan selalulah mengemas sesuatu dengan paket baru untuk mendapatkan semangat baru hal/barang lama tersebut.
Aku juga bertekad untuk mengatur waktu bercakap-cakap dengan seorang teman perempuan, teman mengobrolku di dunia maya beberapa bulan belakangan. Mengobrol dengan dia selalu asik karena dia bersedia menjadi ‘tempat sampah’ku setiap saat. Juga sebaliknya. Kami bisa berada di dunia maya setiap saat, sejak bangun sampai tidur malam, keluar-masuk. Belakangan aku amati, yang paling fatal adalah bila kami mulai mengobrol sejak pagi, di jam produktif kami. Aku tidak tahu bagaimana dia menyikapi tugas-tugas kantornya, yang pasti aku mengobrol sambil melakukan sesuatu tetapi tentunya tidak bisa maksimal karena aku sering mendekat ke komputer untuk mengecek dan meneruskan obrolan kami. Sejak aku tinggal di Ubud, ada saatnya kami bisa mengobrol seru dan akhirnya kecanduan. Aku bertekad untuk mulai hari ini aku akan mengatur, bukan obrolannya, tetapi jam mengobrolnya. Aku perlu mendisiplinkan diri dan dia untuk tidak mengobrol sebelum pukul 17 waktuku atau waktu dia. Seperti pergi ke kantor, jam bermain pun perlu diatur. Aku senang karena aku mampu melakukannya setelah menyadari dimana letak kesalahannya.
Pemilik rumahku datang ke rumah sebelum aku pergi pagi ini. Aku malu sekali dan sekali lagi mengingatkanku pada kedisiplinanku yang masih berlubang. Pasangan itu mengirimi aku sepiring besar aneka buah-buahan sebagai ucapan Hari Raya Galungan kemarin dan rangkaian sepuluh hari sampai Hari Raya Kuningan nanti. Mereka yang merayakan dan aku yang mendapat perhatian? Ya, biasanya aku mengirimkan kue kepada mereka, kali ini aku terlewat karena kedisiplinanku sedang turun. Aku malu!
Untuk pertama kalinya sejak tokoku yang kedua dibuka, aku dan kedua pegawaiku mengadakan rapat. Aku melakukannya karena kami baru mengalami pengalaman pertama kehilangan barang karena, mungkin, dikutil oleh tamu. Sebuah gelang tua dari Timor yang mungkin nilainya tidak fantastis tetapi kejadian ini mengesalkan sekali. Kami semua merasa kecolongan. Pegawaiku nampak puas dengan forum terbuka yang aku adakan. Aku juga senang berkesempatan untuk berbicara dari hati ke hati dengan mereka. Lagi-lagi aku perlu kedisiplinan untuk mengadakan ini secara berkala, tidak hanya bila ada kejadian saja.
Hari ini adalah hari libur nasional jadi kebanyakan toko dan bank tentunya masih tutup. Aku percaya Kuta kebanjiran turis dari Jakarta akhir pekan panjang ini. Aku bersantap siang dengan pegawai perempuanku yang sedang hamil enam bulan. Dia nampak sehat dan bahagia, aku turut senang. Kami bersantap siang di warung dengan hidangan khas rumahan di dekat salah satu tokoku. Warung kegemaranku sejak dibuka tiga tahun yang lalu. Kami berbincang-bincang mengenai banyak hal. Aku kelihatannya harus menyempatkan untuk menyentuh pegawaiku secara berkala. Aku perlu kedisiplinan juga dalam hal ini.
Sepiring buah-buahan kiriman pemilik rumahku.