Tampilkan postingan dengan label Senirupa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Senirupa. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Maret 2010


Seperti kawanku. Aku menikmati kemewahan bersama-diri-sendiri hari ini. Meskipun hari ini akhir pekan tetapi bukan saatku bersantai di pagi hari, aku mempunyai tumpukan cucian baju yang cukup tinggi, mobilku juga sudah dua hari tidak aku nyalakan mesinnya. Aku tidak bisa berlama-lama di tempat tidur. Aku memulai rutinitasku di rumah seperti yang sudah-sudah. Dan pagi ini istimewa karena… mesin cuciku mendadak mati tanpa ada tanda-tanda sebelumnya.

Menyelesaikan mencuci baju dengan tangan bukan hal yang menyenangkan terutama karena ada dua handuk mandi! Berat! Seorang mekanik datang di siang hari dan memberi berita kurang menyenangkan karena otak dari mesin cuci terbakar artinya… sama dengan aku harus membeli mesin cuci baru tanpa bodi. Aku tersenyum saja karena mesin cuciku ini akan berulang tahun ke-dua tiga hari lagi. Aku mencatat ulang tahunnya karena menurutku penting secara teknis. Dan aku lupa berterimakasih kepada mesin cuci yang sudah banyak membantuku hampir dua tahun ini. Ya, aku percaya itu, kalau barang pun perlu diberi penghargaan.

Udara di Ubud sangat menyenangkan. Sejuk tanpa hujan. Cucianku sebagian bisa kering, sebagian masih berat seperti batu. Aku melewatkan pagi mempelajari CorelPainter yang ternyata fiturnya tidak banyak berbeda dengan Photoshop yang sudah aku kenal. Waktu berlalu cepat. Aku meneruskan membaca The Geography of Bliss yang tidak sempat aku buka selama aku bepergian. Buku ini benar-benar menghibur karena seperti cermin bagiku, bagaimana kita melihat orang menilai arti kebahagiaan. Pengarang buku ini pandai menulis. Dia mampu menyampaikan apa yang kita rasakan secara singkat dan tepat, dengan humor. Salah satu contoh yang aku temui hari ini, yang menurutku pas sekali dengan pengalamanku meskipun bukan urusan berterimakasih.
Yes, I’m not as polite as I was. I no longer say “thank you” or “please,” since these niceties are never reciprocated.
Aku mengakhiri hari dengan sangat baik. Aku berjalan kaki ke kota untuk menghadiri pembukaan pameran lukisan tiga bersaudara yang tidak mempunyai kaki, dan tangannya tidak tumbuh sempurna. Aku mengenal mereka saat Bude-ku yang pelukis membuka pameran lukisan permanen ayahnya di salah satu museum terkenal di Ubud sekitar lima tahun yang lalu. Entah kenapa ketiga bersaudara ini lekat di hatiku dan nampaknya aku pun lekat di hati mereka. Sejak itu aku berusaha membantu apapun yang bisa aku lakukan untuk mereka bisa berkarya. Pameran pertama mereka yang aku hadiri bertempat di galeri yang sama, galeri privat milik orang Jerman, empat-belas bulan yang lalu. Waktu itu aku membeli satu lukisan mereka.

Aku sempat berbincang dengan mereka sebelum pameran resmi dibuka. Mereka memakai kaos pemberian Bude-ku, mereka juga bercerita mengenai bemo pemberian Bude untuk kendaraan mereka. Mengamati mereka, aku tahu apa yang membuat aku serasa lekat dengan mereka, enerji positif mereka yang tidak ada habisnya memancar dari senyum mereka. Mereka cermin untukku. Lukisan mereka adalah media untuk mengekspresikan impian mereka untuk hidup seperti yang lain dengan anggota tubuh yang lengkap. Seperti lukisan Frida Kahlo, aku menangkap kegetiran di beberapa karya mereka. Secara teknik, karya mereka kali ini lebih matang goresan dan pewarnaannya. Aku senang dengan kemajuan mereka.

Aku berjalan pulang dengan hati riang. Beberapa kawan seniman menawarkan tumpangan yang aku tolak dengan halus karena aku perlu berolahraga. Selain itu, sudah lama aku tidak ‘menyentuh’ Bali secara langsung. Kebetulan Pura Lebah di Sungai Campuhan yang aku lewati sedang memperingati hari jadinya dua hari ini. Aku menyempatkan untuk berhenti di jembatan untuk menyatu dengan kampungku ini. Tidak lupa aku berterimakasih untuk nikmatnya berkesempatan tinggal di dunia sebelah sini.

Ketiga bersaudara yang menjadi cerminku.

Jumat, 05 Maret 2010


Dua-puluh-empat jam sudah aku berada di rumahku di Ubud. Senang rasanya kembali ke rumah meskipun aku menikmati setiap detik perjalananku melihat dunia dan berkenalan dengan warganya. Ubud terasa segar sejak kemarin. Rupanya kombinasi matahari dan hujan di siang hari membuat temperatur jadi menyenangkan. Tetapi karena ketidaktelitianku dalam memberi instruksi, separuh dinding hijau di kamar mandiku berubah menjadi coklat. Aku pikir pegawaiku sudah mengerti apa yang aku inginkan karena biasanya aku cukup detil dalam memberikan instruksi tetapi rupanya aku salah. Aku tidak menginstruksikan dia untuk menyiram dinding hijauku. Tidak apa, ini akan menjadi tantanganku untuk menjadikannya hijau kembali.

Rumahku kotor sekali waktu aku datang. Lantai kamarku berpasir dan sarang laba-laba ada dimana-mana, di kepala, di kolong, diantara barang-barang… Luar biasa cepatnya para laba-laba membuat sarang. Aku tidak tahu bagaimana mereka tahu kalau rumah tidak berpenghuni. Di beberapa tempat sarangnya bahkan utuh dan rapi, dengan seekor laba-laba bertengger di pusatnya. Luar biasa! Hal yang sama juga aku temui di dapur. Kadang-kadang aku merindukan dapur yang bersih layaknya dapur di rumah di kota tetapi nampaknya itu bakal sulit aku dapatkan sekarang karena ada bagian dapurku yang terbuka sehingga binatang kecil bisa berkeliaran. Itu konsekuensi hidup dekat dengan alam, kawanku mengingatkan. Namun… hidup dekat dengan alam menyenangkan! Jadi memang ada bayarannya.

Hari ini aku tinggal di rumah untuk membereskan pekerjaan-pekerjaan rumah yang harus aku tindaklanjuti. Rasanya banyak yang harus aku lakukan termasuk mempelajari dua program baru yang baru aku pasang di laptop. Aku ingin menggali lebih dalam mengenai desain dijital. Foto esai-ku banyak digemari kawan-kawan yang ingin belajar membuat tetapi aku tidak tahu bagaimana cara mengajarinya karena aku pun belajar tanpa sistem. Ya, aku tidak sabar untuk segera mulai menggali kemampuan dua program ini.

Dan sebelum hari berakhir, aku dan kawan baikku menghadiri pembukaan pameran lukisan kenalan kami orang Jerman. Pasangan ini tinggal di Ubud enam bulan setiap tahunnya dan sesudah mengumpulkan lukisan hampir dua tahun lamanya, malam ini pamerannya dibuka di sebuah galeri kontemporer terkemuka di Mas. Aku turut senang untuknya. Lukisannya luar biasa halus dalam pengerjaan. Warnanya halus menyatu dan ‘bergelombang’ seperti bergerak. Seperti Rothko dalam versi yang lebih geometris karena garisnya jelas. Aku salut karena pelukisnya sudah tidak muda lagi. Dan yang istimewa lagi adalah judulnya yang puitis yang menurutnya dia dapatkan dalam proses melukis. Luar biasa!

Aku banyak bertemu wajah-wajah yang kukenal tinggal di Ubud. Lucunya kebanyakan adalah orang yang sudah berusia lanjut. Aku mungkin termasuk di golongan kecil orang muda yang hadir tadi. Aku senang melihat kebersamaan orang sekampung saling mendukung kegiatan yang lain.

Aku sudah siap untuk istirahat setelah hari yang padat. Versiku.

Salah satu lukisan kenalanku itu.

Senin, 01 Maret 2010


Aku baru saja selesai mengepak barang-barangku untuk perjalanan nanti malam. Genap sembilan-belas hari aku berada di Manila, lebih panjang dari yang aku rencanakan. Sampai aku merasa seperti hendak bepergian saja bukan kembali ke rumah asalku. Mungkin kawanku benar kalau Manila telah menjadi salah satu rumahku karena disini aku mempunyai kesibukan yang sama dengan di Jakarta, bahkan lebih daripada di Ubud. Aku pun sudah tidak berbelanja seperti aku melihat satu tempat dengan ‘mata baru.’ Rencanaku berbelanja pakaian yang harganya lebih masuk akal daripada di Jakarta pun tidak kesampaian karena aku tidak meluangkan waktu. Aku sudah lebih baik dalam berkomunikasi dengan diriku dalam kaitannya dengan berbelanja. Bisakah aku hidup tanpa ini?

Ada satu hal yang masih belum bisa aku sembuhkan dari penyakit ingin berbelanja. Berbelanja barang seni! Aku sudah membeli beberapa barang seni karya seniman Filipina sejak aku mulai sering berkunjung kesini hampir dua tahun yang lalu. Dan karya seni yang menambatku beberapa tahun terakhir ini adalah karya seni dari bahan daur ulang! Aku benar-benar telah menjadi Miss Junk seperti Mama di masa akhir hidupnya. Buat aku, menciptakan satu karya seni dari bahan baru lebih mudah karena kreativitas tidak terbatas, tetapi berkarya dari bahan yang sudah ada sebelum karya dibuat membutuhkan kreativitas murni.

Hari Sabtu yang lalu, di taman tempat pasar hari Sabtu, berlangsung pasar seni tahunan Art in the Park yang sudah diadakan kurang lebih empat kali. Kata kawanku. Pasar seni dibuka sejak pukul 14:00 sampai dengan pukul 22:00. Tadinya aku pasrah kalau tidak bisa melihat pasar seni ini karena rencananya aku kembali ke Indonesia lebih awal. Apapun, aku tak sabar menunggu pukul 14:00 hari Sabtu kemarin. Kawanku yang seniman daur ulang juga mempunyai stan di pasar seni ini.

Matahari sudah mulai turun namun masih terasa membakar. Pengunjung pasar seni lumayan banyak dan kelihatan kalau mereka adalah peminat seni atau dari kalangan seni. Banyak yang membawa kamera foto profesionalnya untuk memotret berbagai obyek: karya seni dan pengunjung. Memang terasa spesial berada di tengah keramaian orang seni. Kita bisa merasakan aura kreativitas di udara. Aku mengalami naik-turun emosi dari petualangan melihat dan ingin berbelanja barang seni ini. Lain rasanya dengan berbelanja pakaian di toserba.

Aku kehilangan satu instalasi Santo khas Filipina. Yaitu gambar Santo diatas kayu tua menggunakan cat oranye bergaya shabby chic kegemaranku. Entah kenapa aku merasa instalasi ini tidak akan menjadi milikku dan benar waktu aku datang kembali ke stannya, instalasi ini telah terjual. Mataku tidak bisa berpindah ke instalasi lain meskipun masing-masing unik dan menarik. Dari pengalaman ini, waktu aku jatuh cinta pada burung yang bisa bergerak (mobile) terbuat dari aneka besi bekas, aku kontan membelinya. Seniman daur ulang metal ini luar biasa. Yang menjaga stannya adalah dua anaknya, perempuan dan laki-laki. Senimannya sendiri nampak masih muda dari biodata yang diberikan oleh anaknya. Aku mengagumi tingginya kreativitas sang Bapak. Harga karyanya sangat terjangkau menilik rumitnya karya-karyanya.

Seniman kedua yang membuatku terpana adalah seniman yang menciptakan gelang (bangle) dari besi bekas termasuk baut. Aku terpesona selain pada bentuknya juga pada sisi ergonomis bentuk dan kuncinya. Aku harus mengatakan orang ini jenius. Tangannya terampil karena besi yang garang itu terasa lembut di kulit. Aku senang melihat semangat yang terpancar di matanya waktu aku mewawancarainya seperti darimana dia mendapat ide dan bahan, dan berapa lama dia membuat satu karya gelang. Satu-setengah hari katanya. Aku percaya kalau ini bukan pekerjaan yang mudah. Satu karena pekerjaan besi dan las. Kedua karena ukuran karyanya kecil.

Jadi… aku harus berhati-hati dalam mengepak burungku yang nampak ringkih itu. Untung aku membawa tas jinjing yang cukup besar untuk memuatnya. Entah apalagi yang akan aku bawa dari negara yang mempunyai gaya seni yang berbeda. Aku tidak tahan.

Seniman pembuat gelang besi itu.

Kamis, 11 Februari 2010

Sudah waktunya aku belajar mengatakan tidak.


Aku mengatakan pada diriku sendiri berkali-kali karena aku kesal, lagi-lagi pada diriku sendiri, dini hari tadi di pesawat yang membawaku ke Manila. Seperti yang sudah sering terjadi, aku duduk sendiri di deret kursiku. Meskipun secara praktek aku tidak bisa tidur mendatar karena permukaan yang tidak rata, aku tetap menikmati duduk sendiri tanpa ada orang lain di dekatku. Begitu pesawat tinggal landas dan lampu tanda mengenakan sabuk pengaman padam, seseorang berdarah India menghampiriku dan meminta ijin untuk duduk di bangku dekat jendela di deretanku. Aku tidak suka, tapi aku tidak punya alasan untuk mengatakan tidak dalam hitungan detik sehingga aku berdiri memberinya jalan masuk. Tidak lama kemudian dia nampak tidak puas dengan kursinya yang tidak bisa disandarkan ke belakang, lalu dia minta ijin untuk duduk di dekatku, di bangku tengah. Lagi-lagi dalam hitungan detik aku tidak bisa memutuskan, meskipun aku tahu aku tidak suka duduk bersebelahan dengannya, aku tidak menunjukkan ekspresi apa-apa dan tiba-tiba dia sudah memposisikan diri di kursi sebelahku. Langsung menselonjorkan kaki dan bersiap memejamkan mata. Melihat kedua paha di dekatku, tiba-tiba aku merasa aneh. Lain rasanya kalau memang kami harus duduk bersama sesuai pengaturan di konter. Aku mulai resah.

Aku melihat ke sekitar dan menanyai diri sendiri apakah aku bisa tenang sampai empat jam ke depan karena rasa tidak suka ini. Aku lebih kecewa pada diri sendiri yang telah tidak mampu menyatakan rasa keberatanku pada kesempatan pertama dia bertanya apakah aku keberatan dia duduk di sebelahku. Dia tidak salah, aku yang tidak terbuka dan berakhir di ketidaknyamanan. Akhirnya aku memutuskan meminta ijin seorang ibu Filipina yang duduk berseberangan satu deret di belakangku untuk duduk di bangku dekat jendela di deretannya. Ibu itu tersenyum penuh pengertian, nampaknya dia mengikuti kisahku karena lampu kabin memang masih menyala waktu drama itu terjadi. Seperti menguatkan diri, aku mengatakan pada ibu itu untuk lain kali aku akan lebih tegas dalam mengekspresikan perasaan. Pelajaran berharga bagiku. Hanya satu hal yang bisa membuatku menjawab tegas, permintaan untuk merokok di dekatku. Mudah dan cepat sekali aku menyatakan aku keberatan karena aku tahu persis menolak menjadi perokok kedua sudah umum, tetapi permintaan untuk berbagi radius ruangku? Aku masih menyimpan kekuatiran dianggap mementingkan diri sendiri. Tidak sebetulnya.

Aku sulit memejamkan mata sepanjang perjalanan. Aku ingin segera sampai tujuan dan hidup normal. Beruntung penerbangan hanya empat jam lamanya. Satu jam pertama disibukkan oleh mengisi kartu kedatangan dan penjualan makanan oleh pelayan kabin. Dua jam berikutnya lampu kabin dimatikan sehingga kami dalam gelap, aku terbangun dan terlelap sambil mendengarkan musik, dan satu jam terakhir kabin kembali diterangi lampu karena pelayan kabin mempersiapkan pendaratan: menjual hidangan pagi, mengumpulkan sampah, dan mengecek persyaratan mendarat. Empat jam berlalu tanpa terasa. Sebetulnya.

Hari ini terasa panjang. Aku tidak bisa membayar kekurangan tidurku semalam. Aku merasa mengantuk tetapi waktu aku membaringkan badan, aku tidak bisa bertahan lebih dari satu jam. Aku mencoba berkegiatan lagi namun otakku tidak lancar bekerja, mungkin karena aku hanya berbaterai setengah. Agak menjengkelkan karena hariku menjadi tidak produktif. Aku banyak menghabiskan waktu membaca majalah dan buku di sela-sela rasa mengantuk yang luar biasa yang tidak bisa dipaksa memejam.

Semalam sebelum menuju ke bandara, bersama pasangan kawan baikku, aku menghadiri kuliah mengenai gaya seni perupa yang tinggal di Yogya. Pembicaranya adalah warga India yang sudah lama tinggal di Indonesia dan bekerja sebagai sejarawan sekaligus ahli antropologi. Jadi tinjauan senirupa di Yogya dilihat olehnya dari kacamata kepakarannya, bukan dari kacamata pakar seni. Dia menggarisbawahi tinjauannya ini sebelum memulai presentasi sehingga kami siap dengan apa yang akan dipaparkan. Benar kata kawanku, aku mengenal semua perupa yang dia paparkan beserta ciri seninya tetapi aku sama sekali tidak menganggap kehadiranku di kuliah itu sia-sia karena tinjauan dari sisi lain tetap menarik untuk disimak.

Kuliah selesai sesuai jadual. Aku bertemu banyak kawan dari organisasi yang sudah lama tidak aku jumpai. Mereka begitu senang melihat aku datang, mereka tidak berharap bertemu aku di Jakarta. Dari situ aku merasa kalau aku masih mempunyai kehidupan di Jakarta kalau aku bisa tinggal lebih lama. Beberapa kawan meminta aku terlibat lagi urusan museum sampai persiapan kedatangan Presiden Obama. Ini satu sisi lain yang tidak aku dapatkan dari tinggal di Ubud. Dinamika kegiatannya sama sekali berbeda. Aku hanya tersenyum dan tidak bisa menjanjikan apa-apa kecuali menemui mereka sekembaliku dari Manila dua minggu lagi. Aku tidak boleh memasukkan perkawanan mereka dalam kotak. Aku yang telah meninggalkan mereka jadi aku yang sebaiknya mengulurkan tangan kembali untuk membina hubungan.

Hari hampir berakhir dan aku masih mengantuk…

Cicak Bali di Manila.

Rabu, 10 Februari 2010

Ini namanya hidup di Jakarta.


Di dalam taksi yang membawaku pulang dari satu mal mewah di pusat bisnis Jakarta, aku berpikir. Mal ini sekarang menjadi tempat favorit baru bagi para karyawan di sekitarnya karena lokasinya yang mudah dijangkau dari banyak lokasi kantor. Kadang aku harus mengunjunginya karena jadual aku ke Jakarta sering bertepatan dengan giliran dinas pemilik salon yang memotong rambutku di salonnya di mal tersebut. Ya, aku harus menahan diri untuk tidak merasa apa-apa waktu pengemudi taksi yang merasa lebih tahu jalan itu mengambil jalan yang lebih berliku dan akhirnya kami terhambat karena lalu lintas yang padat. Aku tidak mau berkata apa-apa karena tidak ada yang bisa kita lakukan untuk mengubah nasib kita. Khas hidup di Jakarta! Banyak faktor diluar kontrol kita.

Aku berbelanja kebutuhan untuk perjalananku, kemudian datang lebih awal dari perjanjianku dengan Bang Tukang Potongku itu. Wajahnya nampak ceria waktu dia melihat rambutku yang sudah dua bulan tidak dipotongnya itu sudah panjang. Dia mungkin membayangkan kesempatannya memainkan silet dan aneka gunting untuk memotong rambutku pendek sekali a la penyanyi band. Aku tidak tahu apa yang ada di benaknya waktu aku mengatakan aku ingin mempertahankan panjang rambutku karena kali ini aku ingin nampak bak gadis kecil, bukan pria kecil. Dia membuka beberapa majalah berisi gaya potongan rambut untuk menunjukkan padaku kreasi dia hari ini. Aku setuju saja, aku selalu percaya pada idenya. Dan benar, wajahku terlihat seperti pas fotoku semasa di sekolah dasar. Anak perempuan kecil dengan rambut panjang-yang-pendek seperti jamur. Aku puas!

Karena aku selesai lebih awal, aku mencoba menghubungi kawan baikku yang berkantor tidak jauh dari mal itu. Aku siap kalau dia tidak bisa menemuiku karena waktu aku menghubunginya jam makan siang sudah hampir berlalu. Begitu tahu kalau kesempatan kami bertemu berikutnya baru bulan depan (mungkin), dia langsung datang naik taksi menemuiku. Kami makan siang ringan sambil mengobrol kesana-kemari mengenai rencana-rencana, mimpi-mimpi, dan kali ini tanpa keluhan-keluhan. Sangat menyenangkan. Dia memberiku pengetahuan mengenai alat komunikasi BeriHitam yang belakangan dipakai oleh berjuta orang di Indonesia. Sudah banyak kawan dan saudaraku tidak percaya kalau aku bukan pemakai BeriHitam, dan lebih parah lagi, aku masih menggunakan telpon genggam yang sama sejak tiga tahun yang lalu.

Aku menggali pengetahuan kawanku mengenai BeriHitam untuk mengukur seberapa besar kebutuhanku akan alat komunikasi jenis ini. Karena sifat pekerjaanku yang tidak terikat kantor dan orang lain, aku bebas berada di depan komputer hampir sepanjang hari, karena itu fungsi BeriHitam tidak aku perlukan. Aku bisa menjelajah dunia maya kapan saja aku mau. Sebetulnya aku mempelajari cara koneksi BeriHitam ini untuk mengetahui lebih jauh seberapa ekonomis iPad sebagai pengganti alat komunikasi. Tidak lebih ekonomis nampaknya, secara fungsi dan biaya koneksi. Jadi lengkap sudah perjalananku sejenak ke dunia metropolitan dimana kebutuhan kita (yang mungkin maya) dimanjakan oleh produk-produk dan mal-mal besar. Kita belajar menjadi pembeli produk yang baik, real consumer.

Dan sebelum penerbanganku tengah malam nanti, aku berencana untuk menghadiri Kuliah Malam yang diadakan secara berkala oleh organisasiku. Kali ini pembicaranya seorang warga India yang hendak mendiskusikan situasi senirupa di Yogya belakangan. Kawanku yakin kami sudah mengetahui apa yang bakal dia paparkan tetapi aku siap membuka diri untuk mendengar pandangan baru atas perkembangan senirupa di Yogya. Kuliah semacam ini yang kadang-kadang aku rindukan sebagai bagian dari hidup di Ubud. Bahkan pembukaan pameran senirupa di Ubud pun jarang didahului oleh kata pengantar dari kurator maupun perupanya, yang di satu sisi sebetulnya bagian itu yang ditunggu-tunggu oleh penikmat senirupa. Pembelajaran.

Aku sudah siap menghadiri kuliah-kuliah budaya yang menantiku di destinasi berikut.

Gadis-gadisku mempunyai ide lain menjajarkan patung pasangan Bali di rumahku di Jakarta.