Kamis, 11 Februari 2010

Sudah waktunya aku belajar mengatakan tidak.


Aku mengatakan pada diriku sendiri berkali-kali karena aku kesal, lagi-lagi pada diriku sendiri, dini hari tadi di pesawat yang membawaku ke Manila. Seperti yang sudah sering terjadi, aku duduk sendiri di deret kursiku. Meskipun secara praktek aku tidak bisa tidur mendatar karena permukaan yang tidak rata, aku tetap menikmati duduk sendiri tanpa ada orang lain di dekatku. Begitu pesawat tinggal landas dan lampu tanda mengenakan sabuk pengaman padam, seseorang berdarah India menghampiriku dan meminta ijin untuk duduk di bangku dekat jendela di deretanku. Aku tidak suka, tapi aku tidak punya alasan untuk mengatakan tidak dalam hitungan detik sehingga aku berdiri memberinya jalan masuk. Tidak lama kemudian dia nampak tidak puas dengan kursinya yang tidak bisa disandarkan ke belakang, lalu dia minta ijin untuk duduk di dekatku, di bangku tengah. Lagi-lagi dalam hitungan detik aku tidak bisa memutuskan, meskipun aku tahu aku tidak suka duduk bersebelahan dengannya, aku tidak menunjukkan ekspresi apa-apa dan tiba-tiba dia sudah memposisikan diri di kursi sebelahku. Langsung menselonjorkan kaki dan bersiap memejamkan mata. Melihat kedua paha di dekatku, tiba-tiba aku merasa aneh. Lain rasanya kalau memang kami harus duduk bersama sesuai pengaturan di konter. Aku mulai resah.

Aku melihat ke sekitar dan menanyai diri sendiri apakah aku bisa tenang sampai empat jam ke depan karena rasa tidak suka ini. Aku lebih kecewa pada diri sendiri yang telah tidak mampu menyatakan rasa keberatanku pada kesempatan pertama dia bertanya apakah aku keberatan dia duduk di sebelahku. Dia tidak salah, aku yang tidak terbuka dan berakhir di ketidaknyamanan. Akhirnya aku memutuskan meminta ijin seorang ibu Filipina yang duduk berseberangan satu deret di belakangku untuk duduk di bangku dekat jendela di deretannya. Ibu itu tersenyum penuh pengertian, nampaknya dia mengikuti kisahku karena lampu kabin memang masih menyala waktu drama itu terjadi. Seperti menguatkan diri, aku mengatakan pada ibu itu untuk lain kali aku akan lebih tegas dalam mengekspresikan perasaan. Pelajaran berharga bagiku. Hanya satu hal yang bisa membuatku menjawab tegas, permintaan untuk merokok di dekatku. Mudah dan cepat sekali aku menyatakan aku keberatan karena aku tahu persis menolak menjadi perokok kedua sudah umum, tetapi permintaan untuk berbagi radius ruangku? Aku masih menyimpan kekuatiran dianggap mementingkan diri sendiri. Tidak sebetulnya.

Aku sulit memejamkan mata sepanjang perjalanan. Aku ingin segera sampai tujuan dan hidup normal. Beruntung penerbangan hanya empat jam lamanya. Satu jam pertama disibukkan oleh mengisi kartu kedatangan dan penjualan makanan oleh pelayan kabin. Dua jam berikutnya lampu kabin dimatikan sehingga kami dalam gelap, aku terbangun dan terlelap sambil mendengarkan musik, dan satu jam terakhir kabin kembali diterangi lampu karena pelayan kabin mempersiapkan pendaratan: menjual hidangan pagi, mengumpulkan sampah, dan mengecek persyaratan mendarat. Empat jam berlalu tanpa terasa. Sebetulnya.

Hari ini terasa panjang. Aku tidak bisa membayar kekurangan tidurku semalam. Aku merasa mengantuk tetapi waktu aku membaringkan badan, aku tidak bisa bertahan lebih dari satu jam. Aku mencoba berkegiatan lagi namun otakku tidak lancar bekerja, mungkin karena aku hanya berbaterai setengah. Agak menjengkelkan karena hariku menjadi tidak produktif. Aku banyak menghabiskan waktu membaca majalah dan buku di sela-sela rasa mengantuk yang luar biasa yang tidak bisa dipaksa memejam.

Semalam sebelum menuju ke bandara, bersama pasangan kawan baikku, aku menghadiri kuliah mengenai gaya seni perupa yang tinggal di Yogya. Pembicaranya adalah warga India yang sudah lama tinggal di Indonesia dan bekerja sebagai sejarawan sekaligus ahli antropologi. Jadi tinjauan senirupa di Yogya dilihat olehnya dari kacamata kepakarannya, bukan dari kacamata pakar seni. Dia menggarisbawahi tinjauannya ini sebelum memulai presentasi sehingga kami siap dengan apa yang akan dipaparkan. Benar kata kawanku, aku mengenal semua perupa yang dia paparkan beserta ciri seninya tetapi aku sama sekali tidak menganggap kehadiranku di kuliah itu sia-sia karena tinjauan dari sisi lain tetap menarik untuk disimak.

Kuliah selesai sesuai jadual. Aku bertemu banyak kawan dari organisasi yang sudah lama tidak aku jumpai. Mereka begitu senang melihat aku datang, mereka tidak berharap bertemu aku di Jakarta. Dari situ aku merasa kalau aku masih mempunyai kehidupan di Jakarta kalau aku bisa tinggal lebih lama. Beberapa kawan meminta aku terlibat lagi urusan museum sampai persiapan kedatangan Presiden Obama. Ini satu sisi lain yang tidak aku dapatkan dari tinggal di Ubud. Dinamika kegiatannya sama sekali berbeda. Aku hanya tersenyum dan tidak bisa menjanjikan apa-apa kecuali menemui mereka sekembaliku dari Manila dua minggu lagi. Aku tidak boleh memasukkan perkawanan mereka dalam kotak. Aku yang telah meninggalkan mereka jadi aku yang sebaiknya mengulurkan tangan kembali untuk membina hubungan.

Hari hampir berakhir dan aku masih mengantuk…

Cicak Bali di Manila.