Jumat, 05 Februari 2010

Jadi bagaimana mengukurnya?


Aku bertanya pada diriku sendiri. Sudah agak lama aku menyimpan pertanyaan ini di hati tetapi belum pernah mampu merumuskan jawabannya. Pertanyaannya mengenai bagaimana mengukur kadar sikap positif di dalam diri sendiri dan orang lain. Beberapa kawan baik menilaiku ‘sering’ bersikap positif, bahkan menurut mereka kadang-kadang keterlaluan, karena aku mampu untuk melihat sesuatu yang negatif dengan kacamata positif yang menurut mereka tidak seharusnya aku mengenakan kacamata merah muda (baca: rose glasses) untuk melihat hal tersebut.

Pemikiran ini dimulai waktu pagi-pagi seorang kawan berbagi mengenai buku yang sedang dibacanya mengenai psikologi positif (kebalikan dari studi psikologi yang selama ini dilakukan yaitu studi mengenai perilaku negatif seperti depresi, hiperaktif, atau penyakit mental lainnya). Lagi-lagi aku mendengar mengenai studi kebahagiaan dilakukan di berbagai universitas. Menarik juga fenomena ini. Tentu aku tahu mengenai pentingnya berpikiran dan bersikap positif selalu, dan lebih baik kalau kita dikelilingi oleh orang-orang positif saja untuk membentuk kita menjadi manusia yang positif dalam semua hal.

Berdasarkan teori tersebut, aku mengamati, beberapa kawan tidak mampu mendengarkan orang yang berpikiran negatif terhadap sesuatu. Aku termasuk orang yang tidak mempermasalahkan itu. Aku percaya hidup tidak selalu berjalan seperti keinginan kita, atau menjadi negatif dari kacamata kita, dan kita memerlukan orang lain untuk berbagi mengenai saat yang kurang menyenangkan itu. Mengerti akan kebutuhan itu, aku siap menjadi telinga bagi kawan-kawan baikku. Pada porsi tertentu, tentunya. Ada juga saat dimana aku tidak siap dan tidak menyiapkan diri untuk mendengarkan keluhan terutama di saat aku sendiri sedang tidak kuat secara mental.

Dari sini pertanyaanku muncul, sebetulnya berpikiran positif itu apakah hanya dari sisi menyikapi satu masalah sendiri atau termasuk juga dalam menilai seseorang telah berpikiran negatif? Mudah-mudahan aku tidak membingungkan diri sendiri dengan polemik ini. Menurutku, cara menilai orang juga dipengaruhi oleh kebiasaan berpikiran positif. Mendengar seseorang sering mengeluhkan masalah yang dihadapi di lingkungannya, aku tidak melihat orang tersebut sebagai selalu berpikiran negatif, tetapi menganggapnya sedang tidak mampu mengatasi lingkungannya dengan taktis. Meskipun, tentunya, ada juga pengaruh dari cara orang tersebut menyikapi lingkungannya sehingga hal-hal negatif sering menimpanya. Tetapi sebagai orang luar dalam hal itu, kita juga perlu bersikap positif dalam menerima orang yang “sedang” berpikiran negatif, tidak langsung mencapnya selalu berpikiran negatif. Buat aku, aku tidak mau lupa kalau hal negatif juga bisa menimpaku dan seberapapun aku melihat itu secara positif tetapi dalam berbagi yang negatif tetap negatif kedengarannya.

Pusing-pusing soal berpikiran positif dan negatif, aku menghabiskan satu-setengah jam mengobrol tanpa topik dengan pemilik salon tempatku mengecat rambut bulanan. Orang Banyuwangi yang fasih berbicara Bahasa Bali tinggi karena pekerjaannya sebagai tukang rias Puri Ubud ini memang istimewa. Aku mengenalnya bertahun-tahun yang lalu tetapi baru dekat sejak aku pindah ke Ubud. Tangannya terampil, seterampil kemampuannya bergaul di berbagai kalangan. Dan karena pergaulannya ini, dia adalah RRU (Radio Republik Ubud) bagiku. Setiap bulan aku mendengarkan gosip mutakhir mengenai orang-orang yang kami kenal dan figur publik di Ubud. Aku tidak menilai dia negatif karena kegemarannya bergosip. Dia sendiri memberi label kalau membicarakan hal baik mengenai seseorang bukan termasuk gosip. Aku setuju saja dengan label yang dia berikan karena bagaimanapun juga aku tidak bisa membendungnya dari bercerita mengenai hal-hal positif dan negatif yang terjadi di sekitar kita. Ini hidup, kita tidak bisa memilih, jadi aku memilih untuk mendengarkan semua dengan kacamata positif.

Kawanku ini membuatku mampu menarik kesimpulan kalau berpikiran dan bersikap positif itu termasuk menerima orang apa adanya dengan segala kenegatifannya tanpa memberi label.

Suasana sore hari-hari ini dari jendela kamarku.