Jumat, 12 Februari 2010

Toleransi itu perlu.


Itu yang aku rasakan sesudah menghadiri kuliah sebagai bagian dari kuliah seri negara-negara di Filippina Heritage Library di daerah Makati. Kuliah hari ini mengenai Malaysia. Kuliah berdurasi dua jam ini berlangsung di ruang serbaguna perpustakaan yang bertempat di gedung bekas bandara pertama di Filipina! Gedungnya antik, bernuansa art-deco tahun 1930-an. Benar-benar menarik. Ruangannya terkenal sangat dingin jadi waktu aku datang dengan atasan tanpa-lengan, banyak kawan yang terheran-heran bagaimana aku akan mengatasi rasa dingin itu. Tentu aku sudah siap dengan selendang sutra andalanku dimana saja.

Pembicaranya adalah seorang wanita Malaysia yang sudah tiga tahun ini tinggal di Manila mengikuti suaminya berdinas. Dia sendiri adalah seorang pengacara yang jurnalis yang dulunya bekerja di biro ternama di Malaysia. Sekarang dia menjadi ibu rumahtangga membesarkan dua orang anak sambil tetap menulis untuk majalah dan situs di internet. Kuliahnya menarik, mencakup sejarah dan antropologi Malaysia yang kaya etnik (bukan ‘sub’ etnik seperti di Indonesia) tetapi benar-benar etnik dari ras yang berbeda: Melayu, Cina, dan India. Jadi kebanyakan aspek kehidupan di Malaysia berdasarkan tiga ras ini. Seperti hari raya yang dirayakan oleh masing-masing agama (Islam, Buda, dan Hindu) berarti hari libur nasional di negara ini. Bahkan mereka juga mengenal persekutuan hari raya seperti Deeparaya untuk hari raya India (Deepavali) dan hari raya Islam (Ied), atau Gong Xi Raya untuk hari raya Cina dan hari raya Islam, bila hari-hari raya itu bertepatan jatuh di minggu yang sama. Seperti tradisi masing-masing hari raya, mereka memerlukan waktu untuk saling berkunjung dalam merayakan jadi hari libur nasional pada persekutuan hari raya tersebut bisa berlangsung satu minggu lamanya. Menarik! Aku tidak pernah menyangka begitu pengaturannya karena di Indonesia jarang sekali dua hari raya jatuh di minggu yang sama.

Mengenai kebiasaan juga menarik. Orang Melayu dan India mengadopsi tradisi memberi uang dalam amplop (ang pau) orang Cina di hari-hari raya mereka. Tradisi memberi uang di hari raya dari orang yang sudah menikah ke anak-anak atau orang yang lebih muda, yang belum menikah, ini dianggap ide yang baik sehingga ditiru. Hanya, mereka tidak meniru tradisi orang Cina menggunakan amplop berwarna merah tetapi menggunakan warna hijau untuk orang Melayu dan warna ungu untuk orang India, meskipun sebutannya tetap sama yaitu ang pau. Ha. Lagi-lagi aku belajar mengenai hal baru. Aku juga menggunakan ide memberi ang pau pada kesempatan-kesempatan khusus seperti pernikahan dan ulang tahun, tidak hanya pada hari raya saja, tetapi aku tidak memakai warna khusus untuk amplopnya. Amplop yang aku pakai terbuat dari kertas kado, atau amplop menarik apa saja yang aku temui di toko.

Dalam hal penyajian makanan begitu juga, mereka menggunakan tradisi campuran (fusion). Bila yang merayakan hari natal adalah orang India maka hidangannya tetap hidangan India, bukan hidangan barat. Atau, mereka memakai susunan menu campuran ketiganya: Melayu, Cina, dan India dari hidangan pembuka sampai penutup. Dalam hal bahasa, Malaysia menghormati keragaman etniknya dengan memakai ketiga bahasa di papan pengumuman atau penunjuk jalan. Selain menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa kedua (atau bahasa pemersatu?), mereka menguasai bahasa etnik lain bila kebetulan bersekolah di sekolah atau bergaul dengan kawan berbahasa lain. Seperti juga hidup di alam lainnya, toleransi adalah kunci dari keberhasilan bertahan di keanekaragaman. Tanpa harus mempertahankan tradisi sendiri, tetapi juga membuka diri terhadap tradisi lingkungan, dijamin kita bisa hidup bahagia dimana saja. Lagi-lagi, ego menjadi kunci.

Kuliah ditutup dengan penyajian makanan khas Malaysia seperti rojak (salad buah atau rujak di Indonesia), sate, bahkan ada klepon yang ukurannya besar-besar. Mengetahui aku dari Indonesia dan terhitung aktif menghadiri acara-acara yang diselenggarakan oleh organisasi museum ini, ibu pembuat program mempertimbangkan aku untuk menjadi salah satu pembicara di kuliah seri negara-negara tahun depan. Aduh!

Sesudah kuliah berakhir, aku bersantap siang di hotel di seberang jalan bersama tiga kawan dari tiga bangsa: Amerika, Kanada, dan Australia. Kami mempunyai satu hal yang sama yang mempersatukan kami. Semua pernah tinggal di Jakarta! Bahkan kami tergabung di organisasi yang sama sehingga kami mempunyai beberapa kawan yang sama, yang pasti kami senang bertukar pengalaman di tempat yang sama. Aku menemukan, seperti di Singapura, di Manila ada banyak juga warga asing pindahan dari Jakarta. Mungkin Jakarta adalah tujuan pertama atau tes pertama untuk tinggal di Asia, dan bila promosi datang maka kota berikutnya adalah Singapura, Manila, dan Bangkok. Jadi dapat dipastikan aku bisa menemukan seseorang yang aku kenal dari kehidupanku di Jakarta di ketiga kota di Asia tersebut.

Akhir pekan sudah di depan mata. Aku siap dengan pengalaman lain lagi sebagai bagian hidup di lingkungan yang berbeda.

Sebutan untuk orang Cina yang menikah dengan orang India, Chindian. Nah!