Senin, 01 Februari 2010

Tidak ada yang langgeng…


Aku berpikir waktu menyetir di dekat jembatan Campuhan. Matahari sudah tinggi dan aku terburu-buru menuju bank yang belakangan ramai diberitakan karena pembobolan ATM-nya yang telah merugikan ratusan nasabah milyaran Rupiah. Pagi ini giliran rekeningku yang dibekukan, sesudah rekening stafku minggu yang lalu. Rekening dia dibekukan sesudah menerima kiriman lima juta Rupiah, rekeningku dibekukan sesudah tiga transaksi yang aku lakukan melalui internet tadi pagi. Petugas Pusat Pelayanan menyarankan aku untuk segera menghubungi bank terdekat untuk mengganti kartu ATM dan nomor PIN-nya. Rekeningku dibekukan oleh sistem, bukan karena ada kecurigaan transaksi. Rencanaku untuk mengunjungi tokoku dan mengerjakan administrasi di rumah batal.

Ada sekitar 33 orang yang belum dilayani sebelum aku. Aku tahu jumlah itu dari nomor antrianku yang ditulis di secarik kertas. Nomor antriannya manual tetapi nomor panggilannya dijital. Aku terdiam. Hanya ada dua petugas pelayanan tetapi hanya ada satu yang aktif, satunya tersendat melayani nasabah asing yang mungkin memerlukan administrasi panjang. Aku tidak tahu harus apa; tempat duduk sudah habis, beberapa orang nampak berdiri, dan aku lupa membawa majalah.

Tidak lama kemudian aku melihat seorang kawan datang. Kawanku yang orang Inggris ini memang selalu praktis, mengetahui kalau masih ada sekitar 30 orang lagi sebelum dia mendapat pelayanan, dia memilih membawa nomor antreannya pergi. Dia berkata dia punya waktu lebih dari cukup untuk menyelesaikan urusannya di Ubud sebelum nomornya dipanggil. Masuk akal. 30 orang x 10 menit = 300 menit dibagi 60 menit = 5 jam dibagi 2 petugas = 2,5 jam menunggu?! Tidak.

Aku termangu sebentar menimbang apa yang harus aku lakukan karena aku sekarang tidak bisa mengakses danaku dari ATM maupun dari internet. Ini awal bulan dan aku baru menyelesaikan sedikit dari kewajiban bayar bulananku. Aku memutuskan pergi ke bank lain yang menyimpan tabunganku untuk ‘meminjam’ dana yang bisa aku pakai untuk membayar kewajiban sementara aku belum mengurus administrasi di bank yang membekukan rekeningku itu.

Aku masuk di urutan ke-12 di bank lain ini. Nomor antrian dan panggilannya sama-sama manual. Aku tidak tahu bagaimana mereka mengatur sistem ini. Dan benar, pria asing yang datang sesudah aku dipanggil terlebih dahulu. Dan petugas keamanan yang membagi nomor antrian ke setiap nasabah yang masuk mengatakan kalau itu nomor yang dia dapat. Artinya, dia tidak dapat menerangkan kenapa pria itu lebih beruntung daripada aku.

Matahari sudah tinggi, panasnya menyengat, waktu aku mampir sebentar di tokoku di kota. Aku menyempatkan untuk melihat dekorasinya dan berbincang dengan Ayuk seputar rencananya untuk menikah dua bulan lagi. Dia menjelaskan tata cara pernikahan perempuan dari kasta yang lebih tinggi yang disebut “kawin lari.” Dia tidak dipinang bak calon mempelai biasa tetapi ‘dibawa lari’ ke pura (atau komunitas adat) calon mempelai pria dimana dia harus melakukan serangkaian upacara untuk masuk ke pura suaminya. Di kampungnya sendiri, dia hanya perlu berpamitan ke merajan untuk memutuskan kewajibannya bersembahyang di pura keluarga itu. Dan sejak dia menikah, pura utama dia berpindah ke pura suaminya. Artinya; di hari-hari besar seperti purnama, galungan, kuningan, dan nyepi dia bersembahyang di pura suaminya dimanapun dia kelak tinggal.

Aku juga menanyakan apakah ada semacam surat nikah diterbitkan di sistem perkawinan adat Bali karena setahuku orang Bali tidak bercerai secara ‘surat.’ Ayuk menjelaskan kalau sekarang Bali mengeluarkan Akta Nikah yang dipakai untuk menerbitkan Akta Lahir bila kelak mereka mempunyai keturunan. Tetapi karena adat, kelihatannya Bali tidak mengeluarkan Akta Cerai (apa ada Akta Cerai di sistem yang lain? Aku tidak tahu juga.)

Setiap hari aku belajar hal baru. Dan waktu aku menyetir pulang, aku baru mengetahui kalau Ubud telah terpilih menjadi kota terbaik di Asia! Seperti mimpi, kampung tempat tinggalku yang kecil ini mengalahkan kota-kota eksotik lain di Asia? Pilihan jatuh ke Ubud berdasarkan suara dari 25.008 pembaca yang menggunakan indikator suasana, budaya dan seni, penginapan, tempat makan, tempat-tempat wisata, keramahan penduduknya, dan fasilitas belanja. Majalah perjalanan glamor yang independen dalam menunjuk tempat-tempat tujuan wisata terbaik di dunia ini tentu tidak main-main dalam menentukan. Jadi aku tidak terpana lagi. Ubud memang… terbaik!

Papan pengumumannya diletakkan di dekat banjar Puri Ubud.