
Aku termangu. Badanku basah kuyup oleh keringat. Hampir satu jam lamanya aku duduk di tepi jalan di depan bank yang telah menutup pintu untuk nasabahnya setengah jam yang lalu. Ketergesa-gesaanku menjadi sia-sia karena aku datang terlambat sehingga urusan rekeningku yang dibekukan belum beres hari ini. Dan mesin mobilku menolak untuk dinyalakan waktu aku kembali dari pintu bank yang tertutup itu. Akhirnya tiba juga saatnya dimana baterai mobilku habis sama sekali. Sepupuku menyarankan aku untuk menunggu sampai hari terakhir usia baterai itu sebelum menggantinya dengan yang baru karena baterai baru… tidak murah.
Sepupuku yang tinggal di Denpasar tidak bisa membantu aku di Ubud. Aku menelpon bekas karyawan tokoku yang sudah menjadi pengusaha sekarang. Seperti biasa dia membantu aku menggunakan jaringannya di sekitar Ubud. Sudah sering aku dibantu dia dari urusan mengevakuasi mobilku yang terlibat tabrakan beruntun tahun lalu, baterai mobil yang habis di rumah, sampai mengurus SIM baru terbitan Gianyar, dan kemudian mutasi nomor kendaraanku menjadi plat nomor lokal. Ya, yang pasti dia baik dan yang paling penting jaringan pertemanannya luas.
Seperti kesan kawanku mengenai aku yang dia sampaikan di dalam mobil. Menurut dia, dia bertemu lebih banyak kawan baru sesudah dia pindah ke Ubud dan mengenalku karena aku telah membawanya bertemu dengan kawan-kawanku. Dia sering terheran-heran bagaimana aku mengetahui banyak orang dari lingkungan yang berbeda-beda. Aku sendiri tidak tahu. Mungkin karena aku menyenangi banyak hal dan setiap kesenangan membawa lingkar pertemanannya sendiri.
Kelas yoga hari ini menyenangkan. Aku senang karena badanku terasa lentur. Sesudah kelas berakhir aku duduk bersama guru kami untuk belajar membunyikan mangkok Tibet (singing bowl). Guru kami ini pandai sekali membunyikan mangkok yang terbuat dari metal khusus yang bisa dipukul dan dipertahankan getaran suaranya dengan cara memutari pinggirannya dengan semacam alu. Kelihatannya mudah tapi percayalah, tidak semua orang mampu melakukannya pada percobaan pertama, tidak seperti membunyikan gong. Aku berniat membawa mangkokku ke kelas yoga pranayama besok malam. Aku ingin belajar membunyikan mangkokku sendiri.
Sesudah santap siang yang menyenangkan di tepi sawah di tengah kota, aku dan kawanku menjemput anjingku di sebuah galeri di Jalan Wana Monyet. Aku harus menunggu satu bulan yaitu sampai pameran seninya selesai sebelum bisa hidup bersama seekor anjing yang… terbuat dari metal! Kawanku menggoda aku akhirnya mempunyai seekor anjing, seharga anjing ras minus perawatan hidup sepanjang masa. Anjingku ini terbuat dari lembaran metal rongsokan bodi komputer meja di masa lalu. Senimannya mengolah metal tersebut sehingga warnanya jadi menarik, lalu memotong-motongnya sesuai pola yang sudah dia buat waktu menciptakan bentuk. Kawanku bilang, karakter anjing yang aku pilih ini sesuai dengan karakterku. Dagunya yang mendongak keatas seperti sedang mengendus dunia.
Mungkin kawanku benar, aku gemar mengendus dunia.
Anjingku yang bebas perawatan seumur hidup.