Senin, 22 Februari 2010

Hidup lebih besar dari ini.


Aku berkata dalam hati sambil berjalan dibawah terik matahari pagi bersama kawanku di kompleks makam Manila American Cemetery and Memorial. Kami menolak menaiki mobil bugi yang disediakan untuk mencapai kapel makam, tempat kawan-kawan kami berkumpul, dari pintu masuk. Kompleks makam yang berada di tengah kota Manila ini luasnya bukan alang kepalang. Terpukau dengan kemegahan kompleks makam ini, aku bisa mengerti betapa tidak mudahnya menunjukkan penghargaan kepada para pahlawan yang telah kehilangan nyawa dalam merebut kemerdekaan karena… hidup jauh lebih besar dari ini.

Aku memenuhi undangan kawanku yang tergabung di kelas sejarah dari kelompok museum untuk mengikuti tur kompleks makam yang dipandu oleh pemandu dari Kedutaan Amerika. Konon kesempatan ini langka karena kompleks makam tidak menyediakan pemandu kecuali ada permintaan. Pemandunya mengatakan mereka mulai memikirkan sisi komersil dari kompleks makam yang dulunya hanya dibangun untuk keluarga para pahlawan, tetapi sesudah lima-puluh tahun berlalu, keluarga para pahlawan yang berkunjung semakin berkurang sementara kunjungan dari orang yang berminat pada sejarah semakin meningkat. Mereka mulai mengemas pemanduan di kompleks makam yang dirancang oleh arsitek Amerika menggunakan bahan yang semuanya berasal dari luar Filipina. Perlu sepuluh tahun sejak tahun 1950 untuk membangunnya.

Lokasi kompleks makam ini dipilih secara cermat oleh penggagasnya. Letaknya di titik tertinggi di Kota Manila di masa itu dimana dari kompleks makam ini bisa dilihat gunung atau pulau lain dari berbagai arah. Sejak sepuluh tahun yang lalu, bangunan bertingkat mulai dibangun di sekitar kompleks makam sehingga idealnya pemandangan tidak didapat lagi. Tetapi lepas dari pemandangan sekelilingnya yang metropolis, kompleks makam ini luar biasa perawatannya. Rumputnya tebal dan hijau dipotong pendek bak lapangan golf. Pohon-pohon yang ditanam benar-benar dipilih asalnya; seperti pohon akasia khas Filipina, pohon tulip (istilah lokal), dan beberapa pohon dari Indonesia. Memandang nisan-nisan salib berjajar seperti tak berakhir, aku merasa kecil.

Pemandu turnya mempunyai minat besar pada sejarah. Selain itu dia sangat menguasai bagian-bagian dari kompleks makam ini. Dia tahu kapan dia harus berhenti untuk menceritakan mengenai salah seorang pahlawan dari nama yang tertatah di dinding marmer itu. Tidak banyak nama yang dicat berwarna emas karena mendapat penghargaan tetapi banyak nama membawa cerita sendiri dan sebagian dari tugas pemandu ini adalah melacak sejarah dari nama yang mencuat menjadi perhatian karena keluarganya mengklaim sesuatu atau karena ada beberapa nama belakang yang sama, misalnya. Ada lima bersaudara yang meninggal di satu kapal yang sama yang namanya diabadikan di dinding marmer ini. Jumlah pahlawan yang dimakamkan di situs ini adalah tujuh-belas ribu. Konon ini makam Amerika kedua terbesar di dunia.

Dua jam kami berjalan menyusuri lorong dinding berisi nama-nama pahlawan yang di kedua ujungnya diakhiri dengan anjung terbuka berisi peta peperangan yang terbuat dari mosaik nan indah. Kadang aku terlewat mendengarkan penjelasan pemandunya karena terlalu asik memandang peta yang baik secara teknis maupun seni keduanya menarik. Aku berterimakasih kepada kawanku yang membuka kesempatanku untuk belajar mengenai dunia lain dan membuka mataku untuk menghargai arti hidup bagi kita semua.

Aku mengakhiri hari dengan santap siang bersama kawan baru di Manila yang baru kembali dari Ubud!

Kompleks makam itu.