Kamis, 04 Februari 2010

Pintar juga si pembuat iklan itu.


Aku tersenyum lebar melihat iklan biskuit berkalsium tinggi yang ditayangkan di televisi. Aku melihatnya untuk pertama kali tadi sore. Di iklan itu digambarkan seorang perempuan aktif dan sehat sedang berjalan dengan wajah ceria; di kepalanya menggunduk aneka isyu rumah tangga: kulkas rusak, pembantu tidak masuk, mertua datang, dan aneka isyu lain yang terasa dekat dengan kehidupan kita. Pesannya adalah kalau badan sehat maka semua isyu tidak akan menjadi masalah. Konsep mengkaitkan badan sehat dengan tidak ada masalah terasa agak dipaksakan menurutku tetapi aku tetap suka idenya. Aku sepaham kalau badan tidak sehat itu sendiri adalah satu isyu besar jadi kalau isyu itu tidak ada maka isyu lain seyogyanya bukan masalah. Baik, aku terima konsep iklan itu. Setuju!

Aku menyelesaikan kelas yogaku dengan baik hari ini. Biasanya aku melamun membayangkan bila kelas berakhir karena badan sudah terasa panas dan lelah, tetapi hari ini aku terkejut waktu tiba-tiba guru yoga kami mengumumkan saatnya memulai yoga nidra sebagai penutup. Begitu badanku masuk ke ritme, sesudah tiga minggu berturut-turut kembali ke kelas, tiba lagi saatnya aku berpamitan ke guruku untuk absen tiga minggu ke depan. Dan karena rencana bepergian ini agak mendadak, aku belum berpikir apa yang harus kubawa pergi. Oleh-oleh dan pekerjaan rumah harus kupersiapkan. Kawan baikku yang akan ke Swiss hari Senin baru sadar kalau dia juga belum mulai mengepak barangnya. Itu lebih parah karena dia akan pergi satu bulan lamanya dan cuaca di Swiss sama sekali kebalikan dari cuaca di Bali. Hm.

Aku pun memulai maraton menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang belum aku selesaikan. Untungnya kebanyakan pekerjaanku bisa aku selesaikan dimana saja karena berbasis internet atau percetakan. Dan seperti yang sudah sering terjadi, hanya beberapa hari sebelum aku bepergian dalam jangka waktu yang lama, aku mendapat ide besar mengenai sesuatu. Kali ini aku mendapat ide untuk menyewa satu tempat lagi di daerah Jalan Wana Monyet untuk toko barang-barang perempuan seperti perhiasan perak dan batu, batik yang aku olah, dan lain-lain. Sudah lama aku ingin memisahkan barang-barang perempuan (aku sebut begini bukan karena diskriminasi tetapi barang-barang dari kategori ini memang tidak pantas bersanding dengan barang seni yang maskulin, menurutku) di tempat yang berbeda karena karakter produknya tersebut.

Keputusan ini berskala besar menurutku sehingga aku tidak bisa memutuskan dalam hitungan hari. Lagipula, bangunan yang kuincar belum selesai total, aku belum bisa membayangkan tampak luar-dalam dan penyinaran naturalnya sesudah atap dipasang. Mudah-mudahan waktu aku kembali tiga minggu lagi bangunan sudah siap dan yang paling penting unitnya belum habis terjual. Aku berpikir keras untuk keinginanku ini; yang pertama aku harus menyetel dorongan untuk mewujudkan mimpiku ini, dan yang kedua bagaimana secara keuangan aku bisa menyiasatinya. Tantangan ini selalu ada dan bisa dibuat menyenangkan.

Kelihatannya aku harus segera kembali ke daftar pekerjaanku. Sudah mulai panjang sekarang seiring dengan mendekatnya waktuku keluar dari pulau dewata.

Dewa Ruci di persimpangan Simpang Siur, Denpasar, yang aku ambil kemarin.