Aku makin yakin pada pernyataan itu sekarang. Tadi pagi aku melihat status Facebook bekas atasanku yang sedih karena hari ini adalah hari terakhir kantornya sesudah tujuh tahun. Barangnya sudah dipak, siap berangkat ke Washington tempat markas besarnya berada. Ini adalah penugasan keduanya di Indonesia. Dia mencintai Indonesia, aku tahu itu. Aku ikut sedih karena dia sedih akan meninggalkan Indonesia. Dan lebih sedih lagi, sejak kami terhubung kembali setahun yang lalu, aku kurang keras berusaha menemuinya bila aku sedang berada di Jakarta. Dan waktu dia berkunjung ke Ubud Natal tahun lalu, kami berselisih jalan sehingga tidak berjumpa. Untuk bisa berjumpa dengan orang yang kita kasihi memang memerlukan usaha. Dan sekarang aku memilih untuk mengusahakan itu.
Kawan baikku dari Jakarta tiba di Manila dini hari tadi. Dia memutuskan untuk mengikuti suaminya yang berdinas di Manila secara berkala untuk bisa bertemu aku dan kawan baik kami yang tinggal di Manila tiga tahun ini. Waktunya sempit tetapi pas sekali. Besok kawan kami bepergian ke Brunei. Kedua kawanku ini berada di bandara setiap dua minggu, seperti kami semua, jadi momen seperti hari ini adalah langka sekali.
Setelah memberinya kesempatan beristirahat beberapa jam, aku membawa kawanku ke rumah kawan kami untuk makan siang. Seperti déjà vu melihat kami bertiga di ruangan yang sama seperti di Jakarta karena di masa lalu kami banyak menghabiskan waktu bersama di rumah kawan kami yang ditata mirip dengan rumahnya di Jakarta. Sampai anjingnya pun masih anjing yang sama. Pembicaraan seperti tidak ada habis-habisnya. Lagi-lagi seperti di masa lalu…
Aku percaya beberapa momen dalam hidup kita hanya terjadi satu kali. Kawan kami akan pindah ke lain negara beberapa bulan lagi, jadi pertemuan kami yang berikutnya bertahun kemudian akan ada di daratan lain. Kami menerawang soal itu waktu kami bertiga bertandang ke rumah kawan kami bertiga di Jakarta. Seniman yang berkarya memanfaatkan sampah dimanapun dia berada, di Jakarta empat tahun yang lalu, dan sekarang di Manila. Kawan kami ini luar biasa kreatifnya dalam berkarya. Aku selalu memuji kegigihannya mendidik para perempuan dari kalangan kurang mampu untuk berkarya sehingga dapat mendapatkan penghasilan. Aku mengagumi semangatnya.
Sehingga berita bahwa dia akan pindah kembali ke Amerika tahun ini menjadi kurang menyenangkan bagiku. Aku berharap dia masih tetap menggeluti bisnis seni dari bahan daur ulangnya di sini atau di Jakarta. Dia sempat bertanya mengenai bagaimana bisnisku di Ubud dan waktu aku menceritakan situasi bisnis di Ubud akhir-akhir ini sebetulnya aku tersambar semangat idenya. Sesuatu merasuki ide kreatifku.
Coba kugodok ide ini beberapa hari…
Tas pantai terbuat dari potongan kantong plastik dirajut.