Rabu, 17 Februari 2010

Duh rasa ini mengganggu sekali…


Aku jarang menyesali sesuatu tetapi kadang aku merasa terganggu dengan rasa yang timbul karena aku tidak mengikuti kata hatiku yang awal. Ini yang menggangguku setengah hari ini: aku tidak menghadiri kelas dimana kawan baikku mengajar sejarah sesi terakhir untuk semester ini. Aku terganggu karena kelas sejarah yang penting baginya ini telah memakan waktunya sepuluh bulan terakhir artinya dia sangat serius mengenai ini. Dia tidak mendapatkan apa-apa dari mengajar tetapi dia suka tantangannya. Mentalnya tertempa selama sepuluh bulan ini untuk mempersiapkan bahan setiap minggunya. Sejarah Filipina yang rumit. Dan aku tidak hadir di kelasnya padahal aku mempunyai kesempatan kalau aku mau.

Kemarin keinginanku bulat untuk hadir di kelasnya meskipun sesinya berlangsung selama tiga jam dimana kalau aku tidak berpartisipasi, aku mungkin tertidur. Tadi malam aku mendapat ide untuk membawa komputer karena di perpustakaan tempat dia mengajar ada koneksi internet nirkabel. Entah kenapa tadi pagi semua ide itu menguap, pukul 8:30 aku masih memakai sarung dan menyelesaikan jurnalku. Rasa bersalah itu timbul waktu aku selesai dengan urusanku di siang hari.

Belakangan aku menghargai hubungan antar manusia lebih besar. Aku juga menghargai waktu untuk diriku sendiri dalam kaitannya dengan bepergian merambah dunia. Aku ingin memaksimalkan semuanya karena aku sadar betapa banyaknya hal diluar kontrol kita sehingga aku akan melakukan apapun yang bisa aku lakukan sekarang… tidak menunggu lagi! Film mengenai Mandela, Invictus, yang tadi sore aku tonton telah memberiku inspirasi juga. Mandela begitu penuh perhatian pada orang-orang yang ada di sekelilingnya. Dia menyapa masing-masing orang dengan sentuhan personal seperti menanyakan keadaan keluarganya, atau sekedar memuji betapa bagusnya baju yang sedang dipakai orang tersebut.

Jadi waktu aku sadar kalau aku telah mengabaikan momen penting bagi kawan baikku itu, aku merasa sangat terganggu. Aku tidak seharusnya melakukan itu. Perasaan ini yang membuatku berada di kebingungan baru: kesempatan merambah dunia minggu depan dan keinginan untuk mengekspresikan perhatian ke orang yang aku sayangi di Jakarta dan Malang. Aku percaya kesempatan selalu ada dan datang, dan aku pun harus ingat kalau semua hal tidak terjadi tanpa alasan. Jadi mungkin aku memang tidak harus bersama kawanku dalam merayakan hari kebebasannya dari mengajar sejarah hari ini.

Selalu ada alasan kenapa sesuatu terjadi. Aku lebih baik memfokuskan pada pernyataan itu.

Botol kecap di sebuah rumah makan Jepang.