Itu yang aku tanyakan pada diriku berkali-kali selama aku berada di bazar wanita Amerika yang diadakan sekali sebulan di Manila. Ini kunjunganku yang ketiga di bazar bulanan ini. Beberapa penjualnya sama, beberapa berbeda. Dan seperti di bazar yang lain, barang yang tidak biasa kita jumpai di pusat perbelanjaan nampak menarik dan kuperlukan. Belanjaan pertamaku cukup besar dalam nilai uang, aku membeli beberapa manik perak bikinan India yang harganya lumayan masuk akal untuk bisnis. Aku tidak tahan untuk tidak membeli karena bentuknya tidak kutemukan di Bali. Ya, itu alasanku saja.
Selanjutnya selama menunggu kawanku bekerja sukarela di organisasinya membantu penyelenggaraan bazar ini, aku berjalan sendiri menyusuri gang-gang yang sesak oleh penjual kerajinan dari industri rumahan yang ragamnya berbeda dari bazar serupa di Jakarta. Lagi-lagi aku mencari alasan untuk menjadi mata keranjang. Aku sudah lebih baik dalam mengelola keinginan untuk berbelanja seperti beberapa kali aku berhenti di stan yang menjual barang hasil olahan limbah. Aku tidak tahan karena karya mereka begitu kreatif dan segar. Aku sudah memiliki beberapa produk yang bahkan belum aku gunakan karena aku tidak memerlukan sebetulnya.
Ada hal lain yang sering menjebakku untuk berbelanja yaitu semangat membantu organisasi yang mendaur ulang sampah ini. Aku selalu angkat topi untuk orang-orang yang bekerja kreatif menciptakan produk pakai baru dari bahan bekas. Tetapi ada juga yang kupikirkan setelah aku membantu mereka dengan cara membeli produknya. Apakah aku tidak menciptakan limbah ‘baru’ di sisi lain karena aku tidak menggunakannya? Seperti tas ulang-pakai yang dijual di banyak swalayan di Indonesia dan disini. Paling tidak sekarang aku sudah memiliki tas ulang-pakai dari empat toko disana dan disini. Aku sudah mempunyai lebih dari yang aku butuhkan dan aku telah menciptakan limbah dalam bentuk lain. Limbah didalam rumahku!
Ada lagi produk yang banyak dijual di bazar ini yaitu tas kecil dan ringan untuk mengorganisir barang-barang perempuan di tas besar tanpa sekat. Waktu aku melihat produk ini pertama kali hampir dua tahun yang lalu, aku pikir ide ini brilian. Lalu muncul berbagai model yang tak kalah menariknya yang membuat kita berpikir kita (mungkin) memerlukan. Aku berhenti di paling tidak tiga stan yang menjual produk itu dan menimbang bila aku membutuhkannya untuk tasku yang kecil. Aku sudah mempunyai satu untuk tas yang besar. Aku sudah menemukan kunci untuk menghentikan aku dari membeli barang-barang yang tidak aku butuhkan, sebelum memutuskan membeli aku bertanya kepada diriku: Apakah aku sanggup hidup tanpa barang ini? Pertanyaan ini manjur karena sebelum aku melihat barang tersebut, aku bisa hidup tanpanya.
Jadilah selama hampir empat jam berada di bazar itu menunggui kawanku bekerja satu jam plus duduk makan siang dan minum kopi; aku berhasil hanya membeli oleh-oleh untuk pegawaiku dan kawan baikku di Bali, kukis dan saus salad kesukaanku, dan kukis untuk sumbanganku di acara yang aku hadiri besok siang. Hore! Aku berhasil mencegah diriku dari berbelanja barang yang tidak aku perlukan, atau aku pikir aku bakal memerlukan.
Mengurus limbah selalu tidak mudah, sama sulitnya dengan menghentikan konsumerisme penyebab limbah.
Gambar di salah satu kedai kopi.