Minggu, 07 Februari 2010

Aaah hari Minggu!


Langit sudah terang dan aku masih berbaring di tempat tidur. Belakangan aku bangun lebih siang dari biasanya yang pukul 4:30. Mungkin karena aku tidur mendekati tengah malam. Tidak apa-apa terutama karena pagi ini adalah… Minggu pagi! Minggu pagi selalu terasa istimewa karena suasananya yang hening. Tidak ada bau masakan dan bunyi kesibukan para tetangga yang pada hari biasa pun tidak menggangguku sama sekali. Kalau sedang beruntung, aku bisa mencium bau dupa seperti di pagi hari-hari besar di Bali. Jarang orang memasang sajian harian, canangsari, sebelum pukul 7:00 pagi kecuali di hari besar dimana mereka harus memulai hari lebih awal karena harus mengunjungi pura sebelum tengah hari.

Aku menimbang sebentar. Kemarin aku tidak mencuci mobil karena aku berencana tidak keluar rumah, dan aku memang tinggal di rumah seharian. Tadi pagi aku tidak bisa memutuskan. Aku tidak suka pergi menggunakan mobil yang tidak bersih dan mencucinya sebelum pergi bukan hal yang aku suka karena biasanya matahari sudah tinggi. Aku putuskan untuk mencuci saja mobilku sehingga aku mempunyai pilihan untuk tinggal di rumah atau pergi kalau ada hal yang menarik diluar sana.

Aku menyelesaikan sebagian besar hutang cucian bajuku hari ini. Tumpukan cucian untuk dicuci menggunakan tangan ini sudah menggunung sejak lama. Mencuci baju dengan tangan sebetulnya tidak memakan waktu lama tetapi seperti biasa aku menundanya sampai cucian yang kebanyakan berupa batik dan kebaya menggunung. Matahari hanya bersinar setengah jam saja tetapi karena tidak hujan cucianku yang tipis-tipis bisa kering di siang hari.

Hari terasa agak lama jalannya hari ini tetapi aku senang karena banyak hal termasuk membaca bisa aku selesaikan. Ini saat dimana aku sedang tidak ingin merespon surat. Aku berhutang beberapa surat manis yang aku dapatkan dari teman-teman lama. Ya, berhutang aku menyebutnya karena memang berat rasanya bagiku untuk tidak merespon niatan baik seseorang untuk membina komunikasi denganku. Ada lagi surat yang harus aku tulis berbentuk ‘penjelasan dari keputusanku’ untuk suatu urusan keluarga. Ini membuatku menunda lebih lama lagi meskipun aku mempunyai konsep di kepala. Aku menunggu keinginan menulis itu datang sendiri. Beberapa hari yang lalu aku merespon singkat surat kawan baikku, aku meminta maaf belum meluangkan waktu untuk menulis kepadanya. Tadi pagi aku menerima balasan darinya yang membuatku tersenyum lebar. Dia memberi ide bagaimana membuat surat singkat dan sarat informasi.

Esther has got a job!
Esther is going to drive her car!
Esther is studying again!
Esther is playing more music!
Ok, your turn now

Baik, sekarang giliranku. Untuk membuat informasi sesingkat dan sepadat itu tidak mudah ternyata bagiku.

Aku merangkai dan menjual kalung lagi.
Aku mempersiapkan perjalananku berikutnya.
Aku…

Aku… apa? Sebanyak apapun aku membayangkan telah melakukan sesuatu sampai saat ini, aku belum bisa mendaftar apa yang benar-benar aku lakukan karena kemajuanku belum semonumental kemajuan kawanku yang baru patah hati ini.

Namun coba… Mungkin aku bisa mendaftar mimpi-mimpiku tanpa harus kuatir aku tidak bisa mewujudkannya. Mimpi yang diutarakan bisa membuat mimpi itu terkabul, katanya. Aku percaya.

Daun di angkasa Ayutthaya, Thailand.