Ada beberapa hal yang menarik perhatianku disini:
Yang pertama tentunya tentang pesan singkat atau SMS. Aku ingat bertahun yang lalu kawan baikku mengatakan kalau Filipina adalah Ibukota SMS. Kalau aku lebih suka menyebutnya SMS Republic. Disini semua hal dilakukan melalui SMS. Aku juga, sebetulnya, dalam skala tertentu. Namun yang aku lihat disini sungguh luar biasa. Negosiasi dengan klien / anggota keluarga / kawan, memanggil sopir, memesan roti,… semua lewat SMS. Jangan kaget kalau ada orang tiba-tiba berhenti berjalan, atau jalanan terhambat, karena sedang mengirim SMS! Bahkan, mengorganisir SMS sebaiknya diterima sebagai ‘pengisi waktu luang' sambil menunggu makanan disajikan. Artinya, sibuk dengan telpon genggam di meja makan itu sudah lumrah.
Yang kedua mengenai anjing. Anjing peliharaan di Manila ragamnya banyak sekali. Kebanyakan ukurannya kecil karena pemiliknya tinggal di apartemen. Sering aku menjumpai anjing dari ras yang aku tidak biasa aku temui. Anjing besar yang populer rata-rata dari jenis Golden Retriever dan Terrier, selebihnya anjing setinggi tidak lebih dari 30 sentimeter saja. Dimana aku melihat anjing-anjing ini? Di taman, di trotoar, bahkan di kebun pusat perbelanjaan! Dan seperti juga anak manusia, para anjing ini digandeng oleh perawat yang membawanya berjalan kaki tanpa perasaan. Kadang aku melihat anjing-anjing ini harus ditarik talinya karena mogok di jalan. Yang menarik, para perawat anjing harus membawa kantong plastik untuk kotoran anjingnya karena denda membuang kotoran seenaknya adalah sekitar 200 ribu Rupiah.
Yang ketiga mengenai kedai kopi kenamaan Starbucks yang bisa ditemui di setiap pertemuan jalan. Jadi di radius sekitar dua kilometer bisa terdapat empat sampai enam kedai yang sebagian diantaranya tutup di akhir pekan. Mungkin keberadaan kedai ini lebih diperuntukkan bagi pegawai perkantoran disekitarnya. Di beberapa negara aku mengamati kalau toko kelontong 7-Eleven ada di setiap ujung jalan. Disini tidak. Mereka mempunyai toko semacam itu bermerk lokal tetapi keberadaannya tidak sebanyak 7-Eleven di negara lain.
Yang keempat yang baru aku amati beberapa hari belakangan adalah… orang Filipina gemar mengurus kuku. Seperti toko kelontong, salon khusus kuku ada di setiap dua gedung. Bahkan di tempat cukur pria pun mereka menawarkan pelayanan perawatan kuku yang bisa dilakukan sama cepatnya dengan tukang cukur mencukur. Aku menulis ini sambil memeriksa kukuku. Mungkin sudah waktunya mencoba salon kuku yang baru buka di dekat sini. Nampak menarik seperti panti pijat 'bersih' yang banyak dijumpai juga di sekitar sini tetapi tidak sebanyak toko kelontong dan panti pijat di Bangkok yang ada di setiap dua gedung.
Yang terakhir. Aku mulai tertarik untuk belajar Bahasa Tagalog. Aku mulai menikmati lagu bicara dan aksennya. Seperti menyanyi. Manis.
Salah satu kandidat Presiden Filipina.