Senin, 15 Februari 2010

Banyak juga yang aku pelajari hari ini…


Di akhir hari aku merenung apa saja yang aku lakukan hari ini. Pagi-pagi aku sudah duduk di ruang tamu kawan kawanku di daerah elite di Manila. Konon rumahnya tergolong indah, memang kelihatan seperti rumah peristirahatan tapi aku tidak bisa keluar dari kesan kebanyakan rumah di Manila. Gayanya kira-kira sama, gaya Spanyol, dan terasa seperti gaya rumah di Indonesia di tahun 1970an: gelap karena aksen batu di dinding, langit-langit rendah, jendela kaca kecil-kecil yang kalau pun besar ditutup oleh ornamen atau tanaman, dan 'dingin' secara umum. Entah kenapa gaya ini mengingatkanku pada suasana Indonesia di masa lalu (sejauh empat-puluh tahun yang lalu).

Ya, aku menghadiri pertemuan kelompok pembaca buku yang beranggotakan sekitar limabelas ibu dari berbagai negara. Kawan baikku yang mengajakku untuk hadir di diskusi mengenai karya seorang pengarang perempuan Filipina tersohor. Kelompok pembaca buku ini hanya membaca dan mendiskusikan karya-karya penulis lokal, dimana kawan-kawanku di Jakarta juga melakukan yang sama di kelompok membaca mereka. Aku senang kawan-kawan internasional menghargai karya anak negeri sekalian belajar mengenai budaya tempat tinggalnya sekarang.

Karena aku tidak membaca bukunya, aku mencari tahu mengenai pengarang dan karangannya di Google semalam. Perempuan berusia paruh baya ini sempat dikucilkan di Amerika selama masa pemerintahan diktator di Filipina. Konon, bukunya jadi agak bias isinya. Seperti ada pengaruh Amerika di karyanya. Dan karya yang dibahas hari ini tidak mendapat komentar mengesankan karena pembahasnya (setiap orang wajib menjadi pembahas di salah satu pertemuan yang diadakan satu kali sebulan itu) kesal pada banyaknya hal yang tidak dibahas tuntas. Dia menyimpulkan hal itu mungkin disebabkan karena penulis terbiasa menulis cerita pendek dimana topik dan karakter dibangun tetapi 'tidak dalam' sehingga waktu menulis karangan yang lebih panjang pembahasan topik dan karakternya menjadi sama tidak dalamnya.

Dari pembahasan itu, aku tertarik pada kisah festival yang diadakan di satu pulau di Filipina beberapa minggu menjelang Paskah sebagai bagian dari perayaan umat Katolik. Aku tertarik mengetahui lebih lanjut mengenai festival ini karena semalam aku baru mendengar mengenai karnaval (begitu disebutnya) di Belanda Selatan untuk perayaan yang sama. Kedua acara ini bak pesta tanpa-aturan beberapa hari dan malam; dimana disajikan minuman alkohol di tempat-tempat hiburan yang didekorasi heboh, musik yang keras untuk berdansa, kostum yang tak kalah hebohnya, dan… orang boleh mencium orang tidak dikenal! Ini bagian dari pesta sebelum berpuasa menyambut Paskah. Aku mengenal cukup banyak kawan umat Katolik tetapi baru kali ini aku mendengar perayaan itu. Lucunya, kedua tempat yang aku tahu mengadakannya terpisah jauh secara geografis dan berkarakter budaya berbeda. Konon di Filipina, budaya festival ini sudah berumur lebih dari 700 tahun.

Sekembali dari acara bedah buku tersebut, aku dan kawanku mengunjungi mal semacam Glodok di Jakarta yang menjual DVD bajakan. Yang mengesankan, selain karena harga DVD-nya luar biasa murah untuk kualitas yang prima, juga karena… di mal yang sama ada satu bagian yang khusus menjual senjata api. Senjata api ini dipajang bak telpon genggam, aneka model beserta keterangan spesifikasi. Beberapa toko dijaga oleh penjaga bersenjatakan laras panjang. Melewati lorong ini benar-benar terasa spesial. Sejenak aku merasa Aku berada dimana?

Hariku diakhiri dengan mengunjungi mal raksasa yang tergolong baru di Manila. Letaknya menghadap teluk Manila dimana waktu matahari terbenam pemandangannya indah sekali. Banyak pasangan menghabiskan waktu disitu. Mal tertata rapi dan diperuntukkan untuk berbagai kalangan terutama menengah ke bawah (kesanku demikian tetapi mungkin aku salah). Ada sederetan rumah makan yang menyediakan hidangan laut yang kebanyakan pegawainya adalah… waria! Baru kali ini aku melihat komuniti waria di Manila, selama ini aku mengira hanya Bangkok yang banyak mempekerjakan waria di berbagai sektor. Menarik!

Di mal ini aku dan kawanku mencoba olahraga panahan di sebuah toko olahraga khusus panahan. Tokonya mempunyai arena untuk latihan panahan. Ini kali pertama aku mencoba menarik busur yang ternyata perlu kekuatan dan teknik. Selain olahraga tubuh (aku bisa merasakan betapa tegangnya kedua lenganku, perut, dan kaki saat menarik busur) juga merupakan permainan otak. Kita dilatih untuk tenang dan yakin, tanpa serakah. Makin kita ingin membidik dengan tepat, makin meleset jauh panah kita menembak sasaran. Sebaiknya kalau kita membidik tanpa harapan dengan tenang, kita bisa mendekati angka 10 di pusat. Angkaku paling tinggi hari ini mungkin 8, tidak jelek untuk pemula. Aku yakin aku bisa menguasai olahraga ini dengan baik kalau aku mau melakukannya dengan kemauan penuh.

Paling tidak aku sudah melakukan beberapa hal untuk pertama kalinya hari ini. Ada beberapa hal baru yang sudah menunggu di antrean.

Pemandangan di teluk tadi sore.