Minggu, 28 Februari 2010

Bisa juga aku hidup di kota.


Sesudah melewati hampir tiga pekan dengan kesibukan khas kota besar, aku mulai terbiasa lagi hidup di kota. Setiap hari selalu ada yang dipelajari dan dijelajahi. Dan setiap hari juga aku bertemu kenalan baru yang bisa menjadi teman. Gaya hidup disini mirip dengan gaya hidup di Jakarta. Selalu sibuk! Atau karena aku saja? Seperti kata temanku yang seniman daur ulang itu Dimanapun kita berada, kita menyibukkan diri. Aku setuju!

Beberapa hari belakangan aku menjelajahi daerah Makati dengan berjalan kaki. Seri kuliah bulan Pebruari telah berakhir hari Jumat yang lalu. Aku tidak mengikuti kuliah yang pertama saja tetapi kuliah penutupnya benar-benar pas karena mengenai Filipina: kepulauan dan penduduknya. Kawanku dari Jakarta yang aku ajak untuk mengikuti kuliah merasa senang karena di kunjungannya yang pertama di Filipina dia mendapat suguhan sekilas pandang Filipina.

Sesudah kuliah, kami makan siang bersama dengan kawan baik kami yang pernah tinggal di Jakarta juga. Lalu, kubawa kawanku melihat museum yang dimiliki dan dikelola oleh satu keluarga berada di Filipina. Sudah tiga kali aku masuk ke museum berlantai empat ini tetapi rasanya tidak pernah bosan aku memandang koleksi perhiasan emas kuno dan keramik dari Asia Tenggara. Penyajian koleksi museum ini interaktif jadi kita tidak merasa bosan hanya memandang artifak dari luar kotak kaca saja. Kawanku juga mengakui kalau koleksi yang tidak sebanding dengan koleksi Museum Nasional di Jakarta ini jadi luar biasa menarik hanya karena imbuhan cara memajang.

Pengaruh lain dari tinggal di jantung kota adalah kemudahan dalam mengakses fasilitas kota. Seperti? Dalam rentang sepuluh hari aku menonton lima film, film yang sedang top, tetapi yang tidak menggelikan hanya dua: Invictus dan It’s Complicated (konyol tapi bukan karena ajaib bawaan). Menonton film bukan kegemaranku sejak dulu tetapi aku terbuka untuk menikmatinya. Dan hidup di jantung kota membuat menonton film menjadi satu kebutuhan yang diciptakan. Aku tidak keberatan karena kegiatan ini mengandung olahraga yaitu berjalan kaki cukup jauh. Aku makin merasakan kalau Manila lebih ramah untuk pejalan kaki daripada Jakarta. Mungkin aku salah karena aku tidak tinggal di jantung kota di Jakarta dimana aku harus menapaki trotoar antar gedung yang mungkin ramah juga. Trotoar disini lumayan lebar, bersih, dan rata. Aku juga merasa aman meskipun petugas keamanan gedung-gedung memanggul senjata laras panjang.

Mendekati tengah malam, kita bisa melihat banyak anak muda keluar-masuk gedung. Mereka adalah pegawai call centre, perusahaan ‘penerima telpon’ yang banyak berada di Manila. Aku baru mengerti apa tugas mereka sesudah kawanku bercerita panjang soal bisnis yang satu ini. Jadi perusahaan-perusahaan besar di dunia yang memberikan pelayanan melalui telpon selama 24 jam 7 hari sepanjang tahun menaruh pusat kegiatannya di Manila karena… orang Filipina berbicara Bahasa Inggris dengan baik karena bahasa itu semacam bahasa pemersatu mereka. Dan… menggaji orang Asia bisa sangat lebih murah daripada orang Amerika atau Eropa. Menciptakan dunia menjadi sesempit kampung (dari istilah global village) juga menciptakan lintas budaya yang pelik. Kawanku kadang merasa jengkel kalau menelpon perusahaan penerbangannya di Amerika tetapi yang membantu di ujung telpon adalah orang Asia yang tidak paham peta Amerika.

Hari ini aku dan kawanku berjalan kaki di Chinatown-nya Metro Manila. Benar kata kawanku dari Jakarta, di Manila dia melihat jauh lebih banyak orang daripada di Jakarta. Aku termangu-mangu meresapi suasana hiruk pikuk di pasar kaget. Aku menikmati melihat dagangan (sayuran, alat masak, dan pakaian) dan tingkah laku orang yang berbeda dari yang biasa aku lihat di Jakarta dan Bali. Aku banyak mengambil gambar seperti biasa. Namun tetap, pengalaman menapaki kota Manila dengan berjalan kaki tidak bisa digambarkan.

Hiruk pikuk Kota Cina Quiapo, Metro Manila.