Rabu, 28 April 2010


Purnama. Hari yang paling menyenangkan bila sedang di Ubud. Ada kemewahan tersendiri, tidur dibawah siraman bulan purnama. Terutama karena aku tidak punya tetangga sekarang, aku bisa membiarkan semua tirai kamarku terbuka, tidak ada lampu dari rumah sebelah. Seberapapun aku suka bepergian, tidur di rumah di Ubud selalu terasa istimewa. Aku tidak tahu mana yang lebih istimewa, rumahnya atau Ubud-nya. Yang pasti, keduanya.

Waktu berlalu cepat sekali. Rasanya baru kemarin aku melewatkan waktu bersama keponakanku, membahas makanan, dan hal-hal yang menjadi ‘perhatian’ kami. Lalu makan bersama keluarga besar di sebuah rumah makan yang sedang naik daun. Dan tiba-tiba aku sudah berada di dalam taksi pukul 5 pagi menuju ke Surabaya hari Senin kemarin. Pesawatku terbang lebih pagi satu jam dari biasanya dan karena lumpur Lapindo kembali membuat letupan baru, aku harus berangkat lebih pagi untuk menghindari macet.

Persiapan dini hari terbayar waktu aku melihat pesawat parkir berjajar. Ada sesuatu yang menyihir kalau aku melihat pesawat parkir. Aku pikir aku aneh tetapi rupanya aku tidak sendiri, dan aku mengetahui itu sejak lama. Pagi itu aku membaca satu artikel mengenai kehidupan di dalam pesawat dan di darat yang ditulis seorang jurnalis kocak berdarah India yang tinggal di Hong Kong. Seperti aku, dia ingin melompat ke bandara kalau mendengar atau membaca ulasan perjalanan. Padahal melakukan perjalanan tidak selalu mulus dan menyenangkan. Contohnya bila harus bersiap-siap sejak pukul 4 pagi. Tetap kami masih bisa menikmati itu.

Rumahku luar biasa kotor waktu aku datang. Hampir dua jam aku bekerja keras membersihkan kamar tidur, dapur, dan kamar mandi yang diselimuti debu dan banyak digayuti sarang laba-laba. Bau lembab menyeruak waktu aku membuka rumah. Ini hal aneh lain yang aku nikmati. Membersihkan rumah dan menjadikannya sarangku kembali (sesudah menjadi sarang laba-laba dan rumah cicak selama aku tinggal).

Kegiatan membersihkan rumah dan mencuci baju masih berlangsung sampai tadi pagi. Aku keluar rumah pertama kali hari ini sejak tiba di Ubud hari Senin siang. Ubud kelihatan sepi sekali. Jalanan lancar dan parkir mudah didapat. Aku melewatkan pagi bersama Mas pengecat rambutku yang gemar bergosip seputar kehidupan para orang kaya di Ubud, pelanggannya. Aku hanya tersenyum-senyum saja sambil belajar bagaimana orang lain mengelola hidup. Sesi bulananku bersama dia, biarpun sebentar, selalu aku nikmati. Kenalanku ini luar biasa berbakat dan baik. Dia tidak pernah membicarakan hal-hal yang kurang baik dari orang, hanya mengenai hal-hal yang membuatnya kagum. Termasuk gaya belanja orang!

Sejak aku tiba, aku belum melihat hujan deras turun padahal selama aku bepergian beberapa teman mengatakan kalau Ubud hujan terus. Aku senang karena cucian bajuku bisa kering, tidak hanya itu, aku selalu senang melihat matahari dan langit biru di Bali. Tidak ada duanya!

Hariku berakhir menyenangkan. Selesai sudah aku membereskan rumah dan cucian baju. Dan yang lebih penting lagi, aku sudah siap untuk melakukan perjalanan berikutnya akhir pekan ini. Lagi-lagi perjalanan yang dimulai sejak pukul 4 pagi!

Guci di sebuah pertokoan mewah di Manila.

Sabtu, 24 April 2010


Aku berada di Malang saat ini. Setelah semua urusan di Jakarta berjalan lancar, aku dengan senang hati mampir dulu ke Malang sebelum terbang kembali ke rumah hari Senin pagi nanti.

Aku sempat bersantap siang bersama dua kawan baikku kemarin. Mereka belum pernah berjumpa satu sama lain sebelumnya tetapi tanpa terasa kami telah bercengkerama selama tiga jam di sebuah rumah makan khas Indonesia di sebuah pertokoan. Benar kata orang, menghabiskan waktu bersama teman perempuan itu perlu karena bersama mereka kita bisa melupakan sejenak urusan rutin harian.

Sorenya aku mengunjungi salah seorang tante yang mempunyai andil besar dalam hidupku karena aku pernah tinggal di kediamannya selama tiga tahun dua puluh tahun yang lalu. Senang melihat Tante dalam keadaan sehat dan bahagia. Kami bertukar cerita dan gosip keluarga tentunya. Semua sepupuku juga ada di rumah jadi seperti reuni kami bercengkerama seperti dulu. Suasana di rumah itu tidak pernah berubah, karena penghuninya juga tidak berubah.

Aku sudah tidak mempunyai energi sekembalinya dari berada seharian diluar rumah. Jakarta memang hebat dalam hal menyerap energi. Kadang aku tidak percaya aku bisa berada di antara lautan mobil yang merayap di jalanan. Tetapi itulah Jakarta di hari Jumat sore!

Pesawatku ke Malang terlambat 40 menit tetapi waktu seperti berlalu begitu saja. Aku menghabiskan waktu dengan membaca majalah Forbes Asia sebelum masuk ke ruang tunggu. Majalah ini selalu menampilkan profil-profil sukses yang memulai usaha dari kecil sehingga menjadi sangat besar. Aku lebih senang membaca mengenai kreatifitas para konglomerat ini meskipun mereka dari negeri tetangga, dibandingkan membaca mengenai penipuan pajak oleh oknum pajak yang belakangan ramai diberitakan media di Indonesia. Sama sekali tidak memberi inspirasi.

Keponakanku senang melihat aku datang. Dia langsung membeberkan apa saja yang sudah dia beli untuk menyambut kedatanganku. Sebut saja aneka buah-buahan, susu rendah lemak, kripik kentang kesukaan kami, dan coklat buatan dalam negeri yang entah kenapa suka aku kunyah bila sedang di Malang. Aku memperhatikan kalau pola makan kesukaanku berubah tergantung tempat. Di Manila aku gemar mengunyah makanan ber-MSG! Mulai kripik kentang sampai cheese balls. Di Malang aku jadi suka coklat dan… minuman soda (meski dengan label zero sugar). Nampaknya aku mempraktekkan “Bila di Roma, berlakukan seperti orang Roma.”

Aku dan keponakanku sudah merencanakan apa yang hendak kita lakukan di pagi hari. Aku membawa bola-bola coklat produk Batangas, Filipina, yang terkenal. Kami ingin membuktikan keampuhan coklat untuk diminum ini. Aku juga mempunyai ide untuk membawa keponakanku ke pasar tempat aku dan ibunya sering dibawa Mama berbelanja. Mungkin ini akan menyenangkan juga.

Liburan belum berakhir.

Lampu di rumah makan yang aku kunjungi kemarin.

Kamis, 22 April 2010


Sejauh ini semua urusanku berjalan lancar. Perjalananku semalam juga lancar. Konter maskapai penerbanganku komputernya berjalan normal sehingga aku hanya memerlukan beberapa menit saja untuk menyelesaikan semua urusan sampai melewati imigrasi. Aku mempunyai waktu luang hampir dua jam sebelum pesawat berangkat. Tidak seperti dua keberangkatan sebelumnya yang menghabiskan banyak waktu di antrian karena komputer di bandara macet. Semalam aku mempunyai waktu untuk melanjutkan membaca buku karangan pengarang terkemuka Filipina yang dianjurkan kawanku.

Selama empat jam di udara, aku tidak memejamkan mata sama sekali karena buku itu. Bukunya tidak tebal tetapi bahasanya indah sehingga aku perlu waktu untuk ‘menikmati’ bahasanya. Beruntung aku dapat menyelesaikannya sejenak sebelum persiapan mendarat di Jakarta persis tengah malam. Pesawat tidak terlambat, konter imigrasi yang konon baru menerapkan perlakuan istimewa untuk warga asing juga nampak lancar (mungkin karena hanya pesawat kami yang tiba tengah malam), dan semua berkas yang aku perlukan untuk perpanjangan paspor juga sudah tersedia sehingga tidak memerlukan waktu lama untuk menyiapkannya sebelum tidur.

Pagi-pagi sekali dokumen pasporku sudah diambil petugas dan pukul sepuluh tepat aku sudah berada di kantor imigrasi Jakarta Timur untuk perpanjangan pasporku yang habis masa lakunya akhir tahun ini. Seberapapun aku tidak mendukung usaha percaloan tetapi aku mempunyai pembenaran untuk itu. Waktu aku datang, ruang tunggu kantor imigrasi ini penuh sekali dengan orang yang menunggu. Nampak ekspresi pasrah di wajah mereka. Aku telah membeli waktu dan tenagaku dengan menggunakan jasa calo dari agen perjalanan langgananku. Aku hanya merasa sedikit bersalah karena aku memerlukan sekitar duapuluh menit saja untuk menyelesaikan administrasi keimigrasian.

Bersantap siang dengan kawan baikku berjalan seru. Si abang tukang rambutku siaga tepat waktu di salonnya waktu aku datang. Memendekkan rambut memang satu hal luar biasa yang dapat membuat spiritku naik dengan segera. Dua bulan aku tidak berjumpa dengannya. Aku senang dengan potongan rambut baruku, seperti yang sudah-sudah.

Hariku lengkap sudah dengan datangnya pasporku yang baru setibanya aku di rumah. Aku memangkas sembilan hari proses penyelesaian paspor. Aku akan segera menginaugurasinya minggu depan. Dan dokter kulit yang aku jumpai sebelum malam tiba memastikan kalau aku mempunyai alergi terhadap minyak wijen! Ya, aku mengusap lengan dan kakiku dengan minyak wijen produk sebuah merk ternama dari Amerika hari Minggu yang lalu. Dan sejak hari Senin pagi aku mendapati bentol di sekujur lengan dan kakiku. Hari ini sebetulnya sudah berangsur membaik tetapi aku tetap memerlukan obat untuk memulihkannya dengan tuntas.

Satu hari lagi di Jakarta, lalu pindah ke kota berikutnya.

Kehidupan di kota, rapi, nyaris tanpa seni.

Rabu, 21 April 2010


Akhirnya berakhir juga duapuluhsatu hari kunjunganku di Manila. Persis duapuluhsatu hari masa visaku berlaku. Aku baru merasa kalau ini bukan kunjungan singkat kalau aku melihat ke belakang, melihat apa saja yang sudah aku lakukan. Paskah rasanya sudah berbulan yang lalu meskipun baru tiga minggu yang lalu.

Aku tidak banyak bertemu kawan lama di kunjunganku kali ini. Aku hanya sempat santap siang bersama satu kawan yang baru mengunjungi Ubud dua bulan yang lalu. Kebetulan organisasi kami juga tidak banyak mengadakan kuliah di musim panas ini. Bulan April di Filipina disebut musim panas. Satu lagi, semalam aku bertemu dengan bekas atasanku duabelas tahun yang lalu sebelum aku mengundurkan diri. Sejak dua bulan yang lalu, beliau kembali bermarkas di Washington. Sejak kami bertemu kembali pertama kali empat tahun yang lalu di Jakarta, kami sudah berkali-kali merencanakan untuk mengobrol tetapi baru semalam kami benar-benar bertemu dan di tempat yang tidak kami duga pula. Menyenangkan bercakap dengan beliau. Selama menjadi atasanku, aku tidak pernah mengenalnya sedekat semalam. Dunia memang semakin menciut.

Di kunjungan kali ini aku menyempatkan untuk berbelanja pakaian ‘standar’ seperti kaos dan celana polos. Aku lelah dengan urusan kelebihan berat bawaan bila menumpang pesawat bujet. Sementara aku gemar membawa barang-barang, bukan pakaian, jadi bawaanku lebih berat. Nampaknya aku harus meninggalkan pakaian di empat destinasi tetapku: Ubud, Manila, Jakarta, dan Malang.


Aku sudah siap untuk terbang ke Jakarta malam ini. Kelihatannya seperti perjalanan panjang tetapi tentu tidak karena hanya perlu empat jam untuk sampai di Jakarta. Yang membuatnya terasa panjang, kadang-kadang, adalah antrian lapor penumpang di bandara. Dua kali kunjunganku yang terakhir sistem komputer tidak berjalan lancar sehingga pelayanan berjalan lambat.

Acaraku untuk besok sejak pagi sampai malam di Jakarta sudah rapi tersusun. Mudah-mudahan semua bisa aku lewati dengan baik.

Pemandangan Danau Taal dari Batangas.

Senin, 19 April 2010


Waktu berlalu cepat sekali. Sudah hampir seminggu aku tidak menulis karena kesibukan dan faktor lain tentunya. Kursusku telah berakhir hari Jumat minggu yang lalu dan aku telah dinyatakan lulus meskipun tidak ada tes yang dilakukan untuk menentukan kelulusan. Aku sendiri tidak percaya kalau aku berhasil melewati dua minggu kursus dengan baik.

Hari Rabu minggu yang lalu kami pergi dengan bis besar yang bisa memuat 50 orang ke Tanauan City dan Batangas sekitar 65 kilometer dari Museum Nasional tempat kami belajar. Perjalanan dimulai sejak pukul 06:00! Aku masih setengah di awang-awang waktu tiba di depan museum, tempat kami berkumpul. Berkumpul dengan orang Filipina memang menarik. Yang pasti di dalam bis kami kebanjiran makanan sejak berangkat sampai tiba kembali di Manila yang dua jam terlambat. Bersama mereka, aku tidak perlu membawa bekal dan kuatir kelaparan karena ketersediaan makan dan minum terjamin.

Selama di Tanauan City kami dijamu makan pagi oleh Mayor kota tersebut yang masih keluarga Aquino. Sesudah meninjau satu museum kota, kami meninjau rumah kelahiran presiden Filipina kedua yang terbuat dari kayu, dan dilanjutkan dengan makan siang di museum salah satu pejuang yang berasal dari kota tersebut. Makan siang yang ditata rapi di meja panjang dengan hidangan berlimpah. Sebelum menuju ke kota tetangga, Batangas, kami dibawa untuk menikmati Danau Taal dengan gunung berapi ditengahnya. Hujan sudah mulai turun sehingga kami tidak bisa menikmatinya lama-lama.

Kami sudah mulai lelah waktu kami harus berjalan kaki menuju museum di Batangas. Tetapi kelelahan terbayar karena museum yang letaknya di gedung yang kurang bagus ini ternyata ditata sangat apik dan profesional. Kami tidak bisa tinggal lebih lama karena kami harus segera bergerak kembali ke Manila. Sebelum kami menumpang bis, kami sempat melihat rumah pastor yang telah berdiri sejak tahun 1883. Seperti kebanyakan museum privat di Manila, museum rumah ini ditata apik seperti masih dihuni. Menarik sekali. Aku tidak ingat apa aku pernah melihat museum rumah di Indonesia. Rasanya belum, dan aku jadi bertanya-tanya apakah kami mempunyai?

Kami menghabiskan waktu empat jam untuk tiba kembali di Manila. Jalanan macet karena ada kecelakaan di jalan tol. Persis seperti di Jakarta rasanya. Aku hanya duduk diam antara bangun dan tidur sepanjang jalan dalam gelap. Kawan-kawanku sibuk dengan telpon genggamnya dan makin panik mengetahui kami bergerak sangat pelan. Aku hanya membayangkan satu hal saja, mandi.

Keesokan harinya kami dibawa keliling di dua museum dibawah Museum Nasional. Cukup melelahkan karena kami berdiri sepanjang hari mendengarkan penuturan para kuratornya. Karena ruangan terbatas dan kami ber-50 di ruangan yang sama, maka penyampaian informasi menjadi kurang efektif. Kebanyakan kami berakhir dengan mengobrol sendiri. Terutama aku karena kebanyakan kurator merasa lebih nyaman berbicara dalam Tagalog. Tidak ada satu pun yang dapat aku ikuti. Aku memakai waktunya untuk menjelajahi ruang penyimpanan masing-masing departemen.

Hari kelulusan kami berlalu dengan menyenangkan. Kami membuat banyak foto bersama. Ternyata sedih juga mendengar kawan-kawanku mengingatkan kalau kita bakal kehilangan satu sama lain sejak hari kelulusan berakhir. Dua minggu berlalu tanpa terasa telah mengikat kita. Pertunjukan kultural kelompok kami mendapat bagian di akhir dan berlalu dengan baik meskipun kami hanya sempat latihan beberapa kali saja.

Akhir pekan aku lewati dengan santai tanpa ‘menggunakan otak.’ Malam minggunya aku menghabiskan waktu dengan kawan baikku di Manila yang akan pindah ke Shanghai bulan depan. Pertemuan kami ini adalah yang terakhir di Manila. Dia akan melewatkan musim panas di Amerika dan tidak kembali lagi ke Manila tetapi langsung menata kediamannya yang baru. Aku terdiam di mobil sesudah melewatkan waktu tiga jam bersamanya. Rasa itu datang kembali. Kehilangan. Dan kali ini aku kehilangan empat makhluk sekaligus: kawanku, pembantunya, sopirnya, dan anjingnya yang akan ikut ke Amerika. Pembantu, sopir, dan anjingnya sudah kukenal sangat baik selama dua tahun terakhir kami banyak menghabiskan waktu bersama.

Aku tidak mau mengeluh karena hidup berjalan terus dan percaya kalau semua ada waktunya. Tetapi tetap aku merasa ada lobang hitam berbekas di hatiku hari-hari ini. Aku tidak mau berucap kata perpisahan, kata kawanku. Lobang dia lebih besar karena dia kehilangan ketiganya yang telah hidup bersamanya 24/7 tiga tahun lebih.

Kaos seragam kami untuk wisata.

Selasa, 13 April 2010


Mengamati budaya lain selalu menyenangkan. Sesudah lima hari bergaul cukup rapat dengan lebih dari 40 orang Filipina, aku mulai memahami sedikit demi sedikit apa yang penting dan tidak penting bagi orang Filipina. Ketepatan waktu tidak menjadi masalah besar bagi mereka, tetapi merienda disajikan tepat waktu. Aku panik kalau mengetahui akan tiba terlambat, tetapi mereka bisa melenggang memasuki kelas meskipun terlambat. Ini sebetulnya berlaku di Indonesia juga dimana waktu adalah waktu, kedatangan adalah urusan lain.

Aku juga mengamati kalau kawanku benar bahwa orang Filipina santai gaya berpakaiannya. Aku tidak heran kalau melihat mereka berjalan di pertokoan tetapi di kelas yang aku anggap formal pun ternyata mereka bisa mengenakan jins, baju tanpa lengan, dan sandal datar. Aku berpikir berulang kali sebelum memutuskan datang ke kelas mengenakan jins. Nilai ini masih kontroversial di benakku seperti bagaimana kawan-kawanku dengan santai membalas pesan singkat diatas meja sementara pengajar masih berbicara. Dan mereka melakukan itu terus menerus. Kadang-kadang mereka ingat untuk mengirimnya dari bawah meja tetapi lebih sering mereka berlaku seperti kelas sedang tidak berlangsung. Sama dengan memakai komputer di saat kuliah berlangsung. Aku tidak tahu bagaimana perasaan pengajarnya melihat ini semua. Yang pasti aku ingat Mama bisa mengeluarkan dari kelas mahasiswanya yang ketahuan membaca atau membalas pesan singkat. Itu perasaanku juga kalau melihat kawan-kawanku.

Makan adalah urusan penting dalam kehidupan orang Filipina, begitu ujar kawanku waktu aku keheranan karena lagi-lagi merienda berukuran seporsi makan normalku disajikan. Antrean membeli makan siang tidak pernah kosong di lima belas menit pertama. Dalam lima belas menit itu kebanyakan kawanku dan pengelola kursus sudah duduk menyantap makanannya. Sementara aku masih sibuk dengan urusan sendiri di meja, dan baru berpikir ingin sayur yang mana. Aku hanya makan nasi satu kali selama kursus berlangsung karena satu takaran nasi mereka bisa aku makan minimal empat kali. Sekarang, paling tidak dua kawanku sudah mengikuti jejakku untuk tidak makan nasi.

Kegiatan icebreaker setiap pagi dan siang selalu menarik. Orang Filipina paling jago menghibur, membuat hiburan, termasuk menyanyi dan menari. Itu adalah kegemaran mereka yang bisa dihidupkan setiap saat. Hari ini oleh salah satu grup yang mendapat tugas, kami diwajibkan membuat gerakan satu huruf dengan tubuh kita. Jadi miriplah goyang Inul, apalagi untuk huruf ‘n’ bagianku. Kami berdiri berjajar diatas panggung dan mengarahkan belakang tubuh kita ke pemirsa sehingga mereka bisa menebak bentuk huruf apa yang sedang kami peragakan. Merasa bergoyang ngebor seperti Inul, aku bertanya-tanya apakan permainan yang sama bisa dimainkan di Indonesia?

Hari ini aku menemukan pribadi yang luar biasa. Desainer pakaian malam dan pengantin di masa lalu yang sekarang menjadi Pastor di Mindanao. Kawanku membeli buku darinya, dari situ aku tahu karya-karyanya yang luar biasa. Sekarang beliau mengabdikan diri dengan berkarya untuk jubah kepastoran yang memakai bahan dari tekstil asli Filipina. Aku mengangkat topi! Senang bercakap-cakap dengannya.

Hari ini hari terakhir kami mendapat kuliah di kelas. Besok kami mengikuti tur keluar kota, dan hari berikutnya tur Museum Nasional yang terdiri dari dua bangunan. Baru sekarang terasa kalau waktu berlari dengan cepat. Sudah hampir dua minggu aku berada di Manila tetapi belum mempunyai kesempatan bertemu dengan kawan-kawan lamaku.

Kami waktu bergoyang Inul diatas panggung.

Senin, 12 April 2010


Senin pagi heboh. Aku kembali tertatih-tatih menyesuaikan jadual pagi sesudah tiga hari absen. Tidak masalah. Aku tiba di kelas sepuluh menit sebelum kelas dimulai. Aku amati hari ini banyak kawanku yang datang terlambat. Konon lalu lintas hari Senin dari arah luar kota luar biasa ramainya. Beberapa kawan yang berasal dari museum di sekitar Manila harus menempuh sekitar dua jam perjalanan (sekali jalan) setiap harinya. Hari Rabu juga hari istimewa bagi warga Filipina karena ada ritual berziarah ke salah satu tempat (atau gereja) di daerah Baclaran. Karena kegiatan ekstra ini, maka di pagi hari Rabu bisa dipastikan ada kemacetan. Dalam hal ini, aku memilih tidak tahu sehingga aku tenang berkendara taksi.

Kuliah hari ini menarik. Pembicaranya pensiunan pegawai Museum Nasional yang telah mengabdi selama 40 tahun. Beliau juga pematung lumayan terkenal di Filipina. Kuliahnya mengenai bagaimana memajang barang di museum. Aku agak mengantuk waktu kuliah diberikan karena beliau tidak mengemas materinya sehingga terdengar menarik dan 'hidup.' Untung merienda menyelamatkan kantukku. Merienda yang disajikan setiap 1,5 jam memang luar biasa. Waktu terasa cepat karena kegiatan wisata tekak (bagiku) ini. Kami diberi waktu 10 menit saja untuk mengambil dan menyantap merienda yang ukurannya aduhai. Hari ini merienda pagi menyajikan suman (seperti ketupat tetapi dimasak dengan santan) yang disantap bersama gula pasir putih! Aku waswas karena camilan disini luar biasa menarik dari sisi rasa dan ukuran, aku tidak mau berurusan dengan ukuran lingkar pinggang di akhir kursus.

Sesudah menyantap separuh buah mangga dan suman, kuliah dilanjutkan. Aku masih berkutat dengan rasa kantuk waktu saat santap siang tiba. Kawanku sudah tahu apa yang aku suka, dia melaporkan kalau ada dua lauk sayur hari ini. Masakan sayur disini selalu diberi ikan asin dan udang kecil sehingga rasanya cukup tajam. Dan menurutku, sayurnya dimasak agak terlalu lama sehingga lemas dan tidak kriuk. Sudah dua kali aku hanya menyantap sayur tanpa nasi yang harga per piringnya RP 4000. Banyak harga yang masih mengagetkan aku. Kadang-kadang aku tidak percaya sampai harus berkonsentrasi kuat untuk menghitung apakah aku terlupa satu angka nol. Bayangkan, untuk jarak yang lumayan jauh dengan waktu tempuh 45 menit, aku membayar taksi sekitar RP 24000. Hal yang tidak mungkin terjadi di Jakarta.

Rehat siang terasa agak terlalu panjang karena dalam setengah jam kami telah selesai santap siang. Satu jam berikutnya kami hanya berputar-putar tidak tahu apa yang hendak dilakukan. Museum tutup di hari Senin jadi kami tidak bisa melihat-lihat museum juga. Aku menghabiskan waktu dengan mengerjakan pekerjaan rumah untuk besok yang sudah diberikan pagi hari tadi. Kadang-kadang aku bisa kreatif dan efisien di waktu yang terbatas, terbukti lagi waktu…

Kawanku mendesak aku untuk mempresentasikan tugas praktikum kami siang ini. Mereka benar-benar serius memberi aku tugas ini. Dalam sepuluh menit aku sudah mendapatkan konsep pameran (fiktif) yang hendak kami lakukan. Kawanku yang pengajar di salah satu sekolah seni begitu bersemangat membuatkan gambar tekniknya. Jadi kami bekerja bahu membahu untuk mewujudkan hasil kelompok yaitu pameran senirupa lima desa di Ubud! Ubud: Symphony of Expressions. Kawanku pandai dan aku diluar dugaan tidak merasa gentar. Benar kata mereka, kalau kita menguasai medan, kita tidak perlu waswas. Dan saking tidak waswasnya, aku nampaknya lupa menyampaikan beberapa hal. Tetapi hal itu pun tidak muncul di sesi tanya-jawab. Jadi, selamatlah aku!

Aku menghabiskan separuh malam untuk mengerjakan pekerjaan rumah untuk kuliah besok. Bagaimana hidup bila tidak ada komputer?

Kawan-kawanku yang sedang sibuk menggarap bahan presentasi kami.

Minggu, 11 April 2010


Tiga hari tanpa sekolah rasanya cepat berlalu. Mulai besok kegiatan di museum berlangsung kembali selama lima hari penuh. Aku sempat merasa kecut tetapi sesudah melihat lagi programnya ternyata aku bersemangat karena dua hari pertama untuk membahas dua hal menarik mengenai permuseuman, dua hari berikutnya kami mengikuti tur mengunjungi museum-museum di luar kota dan di kompleks museum tempat kursus berlangsung, dan hari terakhir adalah penutupan kursus dimana kami harus mengumpulkan tulisan mengenai kesan-kesan penyelenggaraan kursus yang dilanjutkan dengan pertunjukan kultural oleh masing-masing kelompok.

Dua hari yang sudah berlalu aku berjalan-jalan di pertokoan, hari ini aku tidak ingin kemana-mana. Aku mengerjakan tugas akhirku sampai kira-kira 70% selesai, 30%-nya akan aku tulis sesudah empat hari mendatang berlalu. Paling tidak beban besar sudah terangkat. Aku tidak bisa membayangkan menulis di akhir hari yang melelahkan minggu depan.

Selain itu, aku juga berkutat mengakali kaos kenang-kenangan kursus yang harus kami kenakan pada hari Rabu waktu kami mengikuti tur ke Batangas (konon dua jam dari Manila). Aku merasa ciut melihat kaos polo pembagian ini, selain bahannya yang tidak menyerap keringat, juga ukurannya yang 1,5 kali lipat dari ukuran kaosku. Karena datang terlambat, aku mendapatkan kaos berukuran S untuk pria! Tidak bisa mengeluh, aku mencari akal.

Aku memotong panjang kedua lengannya sehingga tidak nampak seperti baju pinjaman. Aku juga memotong panjang kaosnya sehingga panjangnya pas pinggang, lalu memotong bagian depannya menjadi dua! Ya, aku memutuskan menggubah kaos polo ini menjadi jaket dengan simpul di perut. Rencananya aku akan memakai dalaman katun berwarna sama yang kebetulan aku punya. Dengan rancangan ini, aku mempunyai pilihan untuk melepas kaos polo ini bila kegerahan di dalam bis. Perlu waktu sehari untuk menggubah rancangan ini karena begitu dipotong, aku tidak bisa menyambungnya kembali. Untung gaya kaos yang dipotong gunting tanpa dijahit telah menjadi tren kaos mahal akhir-akhir ini.


Temperatur di Manila sedang panas-panasnya. Di pagi hari temperatur sudah mencapai 30 derajat dan suhu meningkat perlahan sampai siang hari. Kelembaban tidak begitu tinggi sehingga cocok untuk mengeringkan pakaian tanpa matahari. Tidak seperti di Ubud, pakaian yang aku cuci di pagi hari bisa kering sebelum siang berakhir. Menyenangkan sekali!

Aku belum mempunyai rencana bagaimana melewatkan malam ini tetapi aku sudah bisa membayangkan ritual pagi hariku yang seperti tentara bersiap berangkat perang.

Salah satu lorong di museum.

Jumat, 09 April 2010


45 RULES OF LIFE written By Regina Brett, 90 years old, of The Plain Dealer, Cleveland, Ohio

To celebrate growing older, I once wrote the 45 lessons life taught me. It is the most-requested column I've ever written.

1. Life isn't fair, but it's still good.

2. When in doubt, just take the next small step.

3. Life is too short to waste time hating anyone.

4. Your job won't take care of you when you are sick. Your friends and parents will. Stay in touch.

5. Pay off your credit cards every month.

6. You don't have to win every argument. Agree to disagree.

7. Cry with someone. It's more healing than crying alone.

8. It's OK to get angry with God. He can take it.

9. Save for retirement starting with your first paycheck.

10. When it comes to chocolate, resistance is futile.

11. Make peace with your past so it won't screw up the present.

12. It's OK to let your children see you cry.

13. Don't compare your life to others. You have no idea what their journey is all about.

14. If a relationship has to be a secret, you shouldn't be in it.

15. Everything can change in the blink of an eye. But don't worry; God never blinks.

16. Take a deep breath. It calms the mind.

17. Get rid of anything that isn't useful, beautiful or joyful.

18. Whatever doesn't kill you really does make you stronger.

19. It's never too late to have a happy childhood. But the second one is up to you and no one else.

20. When it comes to going after what you love in life, don't take no for an answer.

21. Burn the candles, use the nice sheets, wear the fancy lingerie. Don't save it for a special occasion. Today is special.

22. Over prepare, then go with the flow.

23. Be eccentric now. Don't wait for old age to wear purple.

24. The most important sex organ is the brain.

25. No one is in charge of your happiness but you.

26. Frame every so-called disaster with these words 'In five years, will this matter?'

27. Always choose life.

28. Forgive everyone everything.

29. What other people think of you is none of your business.

30. Time heals almost everything. Give time enough time.

31. However good or bad a situation is, it will change.

32. Don't take yourself so seriously. No one else does.

33. Believe in miracles.

34. God loves you because of who God is, not because of anything you did or didn't do.

35. Don't audit life. Show up and make the most of it now.

36. Growing old beats the alternative (dying young).

37. Your children get only one childhood.

38. All that truly matters in the end is that you loved.

39. Get outside, every day. Miracles are waiting everywhere.

40. If we all threw our problems in a pile and saw everyone else's, we'd grab ours back.

41. Envy is a waste of time. You already have all you need.

42. The best is yet to come.

43. No matter how you feel, get up, dress up and show up.

44. Yield.

45. Life isn't tied with a bow, but it's still a gift.

Ini daftar hal-hal yang harus diingat yang masih suka aku baca sampai sekarang untuk mengingatkan aku untuk tidak terlalu serius dalam menghadapi hidup. Belakangan aku memperhatikan kalau aku merasa semakin dipenjarakan oleh nilai-nilai yang sudah tertanam dalam diriku. Mengesalkan sehingga aku harus mengingat nomor 32, janganlah berlaku terlalu serius terhadap diri sendiri karena tidak ada orang yang begitu. Entah benar atau tidak terjemahan filosofinya.

Aku masih juga keheranan pada orang-orang yang hanya mengambil (bukan dalam arti fisik). Di satu sisi aku kesal, di sisi lain aku berkaca. Sudahkah aku memberi? Sudahkah aku berekspresi dengan baik sehingga tidak mengesalkan orang? Dan ada beberapa sudahkah lain yang berkecamuk di kepalaku. Ironisnya lagi, dulu aku mengira persoalan ‘memerah satu arah’ ini hanya terjadi di kulturku karena aku mengira kultur lain lebih berbudaya. Ternyata tidak. Hal ini tidak ada kaitannya dengan kultur, ini urusan manusia dengan manusia, darimana pun mereka berasal.

You are what you eat, and you are what's eating you.
KKA
Seperti etika memakai telpon genggam yang semakin kabur di dunia timur dan barat, ternyata etika dasar seperti berterimakasih pun juga semakin kabur bahkan… menghilang! Aku terkejut dengan kenyataan urusan yang terakhir tetapi aku tidak mengada-ada. Sekarang, menerima ucapan terimakasih buat aku seperti anugerah karena langka! Apalagi kalau itu dalam hitungan hari yang sama. Wah! Jangan tanya urusan pinjam-meminjam. Lebih baik aku tidak menerima tawaran untuk meminjam daripada gagal ‘transaksi.’ Seberapapun aku santai urusan hal-hal tersebut karena aku tidak mau termakan, aku tetap terbelenggu karena pola yang sudah ditanamkan orangtuaku. Dan sekarang aku terjepit karena aku tidak mau menjadi ‘you are what’s eating you.’ Benar kata kawanku di dinding FB-nya beberapa waktu yang lalu.

Life isn’t fair, but it’s still good. Aku pergi berbelanja hari ini. Niat ini sudah ada sejak dua hari yang lalu. Tidak biasanya dan benar… Aku masih juga tidak telaten berbelanja. Aku maunya cepat-cepat sampai di rumah lagi. Walhasil aku hanya melihat-lihat di dua toko kegemaranku dan aku memborong empat pasang alas kaki untuk balas dendamku yang tidak jelas. Balas dendam kepada keadaan, kepada diriku yang it’s always me that ends up getting wet. Puas rasanya!

Senang hari ini sekolah di pusat pertokoan!

Jendela di museum di Manila.

Kamis, 08 April 2010


Petualangan minggu ini berakhir sudah. Lega rasanya. Tiga hari pergi ke sekolah tantangannya lebih besar di perjalanan menuju dan kembali ke rumah. Taksi yang aku pesan untuk menjemput setiap pagi tidak muncul kemarin sehingga aku sedikit terlambat tiba di kelas. Akhirnya aku putuskan untuk terjun ke setiap petualangan dengan setiap taksi yang aku naiki. Aku mulai hapal seribu jalan menuju museum termasuk gedung-gedung yang menjadi tanda aku berada di jalan yang benar. Aku belajar pasrah dan percaya kalau pengemudi taksi tidak mengelabuiku. Sejauh ini, aku beruntung!

Materi kemarin dan hari ini sama menariknya. Sesi pagi diisi oleh kuliah mengenai teori dan sesudah makan siang dilanjutkan dengan praktikum dengan bimbingan. Kemarin kami belajar cara memasukkan obyek ke koleksi beserta cara memasukkannya dalam katalog. Kami diminta membawa satu obyek untuk dianalisa keadaan fisiknya lalu dicatat dalam katalog. Sesudah mempraktekkan obyek sendiri, kami harus menimba ilmu di dua seksi lain. Obyekku yang berupa tempat kapur dari Timor masuk di kategori etnografis. Aku menuju ke meja botanikal untuk mendengarkan tutornya memberi penjelasan bagaimana tanaman diawetkan lalu dimasukkan dalam koleksi museum. Sesi ini mengingatkanku pada masa kecilku dimana aku dan kakakku gemar menjepit daun diantara halaman buku-buku tebal Mama dan Papa. Kalau aku ingat-ingat, jangan-jangan dulu kami tidak memakai prosedur yang benar sehingga menodai halaman buku mereka? Entahlah.

Meja kedua yang aku kunjungi adalah meja senirupa yang dipandu oleh tutor yang menarik. Pria Filipina berusia setengah baya lebih yang mengenakan barong yang panjangnya ekstra untuk alasan mode. Pipinya nampak memerah karena pemerah pipi, pembawaannya super halus, dan aku… mengagumi cincin-cincin besarnya! Kami membahas mengenai nilai sebuah lukisan. Mengetahui aku dari Indonesia, dia berhenti sejenak memberi kuliah lalu bergosip mengenai presidenku yang pertama yang dikenal baik di Filipina. Aku menikmati bagaimana dia menanyakan ini-itu dengan kerlingan-kerlingan nakalnya.

Pagi ini kelompokku kebagian membuka hari dengan permainan (ice breaker). Salah satu anggota kelompok kami yang berusia 24 tahun (pengajar SMA) yang mempunyai ide lucu ini. Kami dibimbing menyanyikan dua bait lagu ceria sambil melakukan gerakan yang dipandu olehnya. Gerakan ini diulang-ulang dan semakin lama semakin konyol. Di akhir gerakan ke tujuh, mungkin, kami berjalan dan berputar seperti bebek. Aku salut pada kreativitasnya. Aku beruntung mendapatkan enam kawan baru di kelompok ini, mereka pendiam tetapi aktif dan kreatif!

Hari ini kami belajar mengenai bagaimana menyimpan, memelihara, dan merestorasi obyek. Pembicaranya dari salah satu museum privat, penuh gaya dalam membawakan topiknya. Mataku terbuka lebar sejak pagi sampai makan siang. Kami belajar banyak mengenai ragam ancaman terhadap obyek di museum dan cara penanganannya. Di akhir sesi, pembicara memberi kami tugas untuk dikerjakan dalam sepuluh menit lalu dipresentasikan. Kami kebagian cara menjaga buku kuno yang berada di Perpustakaan Nasional.

Sudah tiga hari ini, listrik padam di jam makan siang selama tiga jam. Hawa di ruangan jadi tidak tertahankan panasnya. Apalagi hari ini ada sesi pemotretan lagi yang diadakan di tangga museum, alias dibawah terik matahari yang konon mencapai 39 derajat! Bak selebriti, aku pun diminta berfoto dengan berbagai kelompok. Mereka senang sekali mempunyai kenalan baru dari Indonesia! Aku senyam senyum saja mengikuti kemauan mereka untuk berfoto di sana-sini.

Batukku masih saja bertengger di hari kelima. Kepalaku pening setiap sore karena tegangan batuk seharian ditambah duduk di taksi selama empat-puluh-lima menit kira-kira. Sore ini sesudah kelas berakhir, aku diajak kedua kawan baruku yang pertama untuk menyantap merienda (lagi). Kawan-kawanku ini rupanya bersobat sejak kecil hingga usia mereka yang diatas 65 tahun sekarang. Suami salah satunya turut bergabung. Lucunya pasangan ini mengenal baik pasangan yang aku kenal juga di Jakarta. Makin terasa dunia makin sempit.

Aku menikmati waktuku bersama mereka tetapi pada saat yang sama aku harus merasa tidak nyaman karena harus mencari taksi di puncak jam sibuk dan berada dalam taksi yang membawaku melalui rute yang tidak aku kenal. Aku tetap pasrah dan percaya tetapi aku juga punya Rencana B bila ini dan itu terjadi. Tiba di rumah setiap hari menjadi anugerah sendiri sesudah berada di ketidakpastian. Untung besok kami diliburkan karena besok adalah hari libur nasional. Seninya kembali ke bangku sekolah!

Gedung museum yang aku kagumi.

Selasa, 06 April 2010


Bak berangkat perang, tas tanganku gendut oleh peralatan mempertahankan diri. Karena lalu lintas yang konon tidak lancar, aku siap dengan sebotol air putih dan sekantong makanan kecil termasuk coklat. Karena aku masih menderita flu; aku membawa saputangan, beberapa obat untuk mengatasi batuk, vitamin C, dan tisyu. Dan selebihnya bisa ditebak, buku catatan dan peralatan alat tulis. Ya, hari ini adalah hari pertama kursus permuseuman yang diadakan di Museum Nasional di Manila.

Karena hari pertama, maka kursus dimulai lebih awal yaitu pukul 8:00. Sebelum pukul 7:00, aku sudah berada di jalan menunggu taksi dengan berdebar-debar karena ini pengalaman pertamaku menaiki taksi ke tujuan yang cukup jauh. Aku beruntung mendapatkan pengemudi taksi yang cara mengemudinya nyaman dan tahu jalan-jalan tikus untuk mencapai Museum dengan cepat. Walhasil, aku tiba terlalu pagi karena waktu tempuh yang diperkirakan satu jam dapat disingkat menjadi tiga puluh menit. Aku puas dengan pengemudi taksi ini jadi aku memintanya untuk menjemputku setiap pagi selama kursus berlangsung. Aku tidak bisa memintanya menjemput dari Museum karena dia tidak mempunyai telpon genggam. Aku heran juga karena…

Selama kursus berlangsung, suara telpon genggam tetap bersahut-sahutan meskipun dengan nada lirih tetapi tat tut tat tut terus-terusan terdengar. Ini ibukota SMS, katanya, jadi aku tidak bisa mengeluh. Gadis yang duduk di deretan paling depan pun tega memegang telpon genggamnya di atas meja sambil membalas SMS. Etika sudah luruh karena teknologi dan apa yang dianggap biasa karena kemajuan jaman. Aku tidak bisa lagi mengeluh.

Kursus dibuka oleh dua direktur museum dan sesudah pembukaan adalah sesi yang disukai orang Filipina yaitu sesi pengambilan foto grup. Peserta kursus berjumlah 44 orang dan aku satu-satunya warga asing di angkatan tahun ini. Kami dijajarkan di panggung dan gambar kami diambil oleh banyak pemotret yang konon tergabung di Klub Pemotret Museum. Cukup lama juga kami harus tersenyum untuk sesi ini. Menarik!

Hari ini ada tiga pembicara yang berbicara mengenai dasar-dasar permuseuman, etika dan hukum di dunia permuseuman. Ketiga pembicaranya adalah direktur museum swasta atau kurator. Cara mereka menyampaikan materi sungguh menarik dan interaktif, aku tidak sempat mengantuk bahkan untuk meninggalkan kelas ke kamar kecil pun aku merasa sayang karena tidak mau ketinggalan materi. Sayang beberapa bagian yang menarik, seperti contoh-contoh kasus, dipaparkan dalam bahasa Tagalog. Aku bisa mengerti kenapa mereka menggunakan bahasa lokal agar suasananya akan lebih mudah ditangkap. Kawan baruku dengan telatennya menerjemahkan garis besar yang diucapkan pembicara. Dia memberitahu aku kalau kebanyakan peserta berasal dari museum di kota kecil di pulau lain di Filipina. Jadi sentuhan bahasa lokal bisa membantu penyampaian materi. Baiklah.

Yang menarik, merienda (rehat kopi) yang dihidangkan terdiri dari makanan sekelas santap siang bagiku. Bihun goreng dan bolu kukus selebar tampah, beserta hidangan penutup berupa buah campur instan. Wow! Aku memanfaatkannya karena aku tidak sempat santap pagi. Tetapi waktu santap siang tiba, aku kebingungan karena perut masih kenyang. Aku mengikuti tiga kawan baruku berjalan melintasi taman kering kerontang Jose Rizal yang terkenal untuk makan siang di rumah makan ala McD tetapi lokal. Hawanya menyengat. Konon saat ini adalah puncak musim panas di Filipina, pantas aku terjangkit flu karena perubahan cuaca yang drastis.

Aku sempat pesimis dengan sesi siang yang mungkin membuatku mengantuk, apalagi sesudah santap siang. Ternyata tidak, mataku terbuka lebar dan senyumku sering mengembang karena ulah lucu pembicaranya. Merienda dihidangkan di meja masing-masing berupa roti tumpuk (sandwich) isi tuna (dari baunya) yang memakai roti putih! Aku terpana tidak percaya karena roti tumpuk ini benar-benar sebobot santap siangku tetapi nampaknya hanya aku sendiri yang tidak menyantap roti tumpuk ini. Rupanya aku tidak tergabung dengan klub merienda di Filipina.

Sesi hari ini ditutup dengan pembagian kelompok. Setiap kelompok berjumlah tujuh orang. Sesudah seharian merasa nyaman dengan tiga kenalan baruku, aku harus menghadapi enam kenalan baru di akhir hari. Dua pria nampak pendiam, empat perempuan mempunyai beragam karakter. Aku yakin aku bisa ‘menaklukan’ mereka. Seperti kursus lain, aku harus siap mengerjakan pekerjaan rumah di setiap akhir hari. Malam ini aku harus menyiapkan satu artifak untuk dianalisa besok. Aku harus mengadakan riset kecil juga mengenai artifak yang hendak aku bawa ini. Komitmen delapan-hari telah dimulai!

Suasana kelas di pagi hari.

Senin, 05 April 2010


Aku masih batuk. Ini hari ketiga. Hawa di Manila sedang panas-panasnya, lembab, dan pendingin ruangan di beberapa tempat umum menyembur hawa dingin luar biasa. Badanku rupanya tidak terbiasa lagi dengan perbedaan kontras temperatur luar dan dalam. Jadi sesudah menghabiskan semangkuk anggur Jumat malam yang lalu, aku mulai batuk sejak bangun pagi di hari Sabtu. Tidak parah tetapi mengganggu dan mulai mengenai sistem pertahanan tubuh sesudah dua hari. Aku minum banyak vitamin C dan vitamin lain untuk antibodi. Pagi ini aku menyerah dengan tidur sebentar sesudah berkegiatan pagi dan hasilnya nyata, badanku terasa lebih enak.

Besok adalah hari pertamaku mengikuti kursus dasar permuseuman di Museum Nasional dekat kota tua Manila. Untunglah kursus dimulai hari Selasa sehingga aku bisa menghindari kemacetan hari Senin sesudah libur panjang paskah minggu lalu. Karena lokasinya, aku tetap harus menghadapi macet mulai besok sampai sembilan hari lamanya kursus. Manila mirip seperti Jakarta dan Bangkok dimana jarak dekat bisa ditempuh dalam jangka waktu yang panjang, apalagi jarak yang jauh seperti dari tempat tinggalku ini ke Museum Nasional. Aku tidak mau berkecil hati soal ini karena aku penasaran untuk menantang diriku kembali ke bangku sekolah. Sudah lama. Guru yogaku mengkonfirmasi kalau kita perlu direntang oleh kegiatan menambah pengetahuan untuk menyegarkan pikiran. Dia benar!

Beberapa hari ini aku sering mengunjungi toko buku. Buku karya penulis Filipina mulai menarikku gara-gara kenalan baruku di Ubud yang berdarah separuh Filipina banyak bercerita mengenai betapa menariknya karya orang Filipina. Dia banyak membaca mengenai negara tempat ayahnya berasal, aku salut. Seperti di Indonesia, buku karangan pengarang lokal dihargai sangat murah. Aku belum mulai membaca dua buku yang sudah aku beli. Malah aku mulai membaca buku karangan Obama yang konon bagus penulisannya. Aku baru membaca bagian awalnya dan setuju kalau dia pandai menulis. Aku selalu kagum pada kemampuan orang untuk menulis dengan baik terutama menulis mengenai masa lalunya dimana ingatan bisa datang dan pergi.

Aku tidak ada rencana bepergian hari ini. Lebih baik aku beristirahat untuk memulihkan kondisi badan. Kawanku juga sedang menderita sakit perut jadi tidak bisa berjumpa denganku hari ini. Yang seorang lagi sedang berada di Turki sampai sepuluh hari ke depan. Semua orang sibuk dengan urusan masing-masing.

Bila hidung bermasalah.

Sabtu, 03 April 2010


Paskah di Filipina seperti lebaran di Indonesia. Semua kegiatan berhenti selama dua hari ini, hanya ada beberapa rumah makan saja yang tetap buka tetapi semua pusat perbelanjaan dan kantor tutup. Kebanyakan orang mengambil kesempatan ini untuk pergi keluar kota sehingga jalanan nampak lengang, persis suasananya seperti lebaran di Jakarta.

Perjalananku ke Manila kali ini memberi pelajaran baru bagiku. Setiap perjalanan selalu membawa cerita sendiri. Kali ini aku terlalu santai dengan tidak mencetak tiketku kembali ke Jakarta. Selama ini mereka tidak pernah menanyakan atau mengecek tiket kembaliku, tepatnya, aku tidak ingat apakah aku selalu memberikan juga tiket kembaliku waktu berangkat. Aku rasa tidak karena sejak era mencetak tiket sendiri, tiket terdiri dari beberapa halaman yang tebal sehingga aku hanya mengeluarkan tiket yang aku perlukan dalam porsi perjalanan itu saja.

Jadilah aku termangu waktu petugas menahan kartu masuk pesawat (boarding pass) karena aku harus mencetak dulu tiket kembaliku di konter yang ditunjuk. Aku tidak mempunyai masalah soal ini karena aku mempunyai kode tiketnya tetapi aku melihat seorang turis yang masih muda termangu karena dia belum mempunyai tiket untuk keluar dari Filipina. Waktu aku tiba di Manila, aku tidak melihatnya lagi di tempat pengambilan koper. Aku rasa dia tidak jadi pergi karena dia belum mempunyai tiket lanjutan.

Hal seperti ini baru aku alami satu kali. Di masa lalu, beberapa kali aku terbang ke Singapura tanpa tiket kembali karena aku belum memastikan tanggal pulang lagipula membeli tiket kembali di Singapura bisa lebih murah. Waktu itu, sebelum masa penerbangan bujet seperti sekarang. Jadi pengalamanku kali ini benar-benar pelajaran bagiku kalau aku tidak bisa terlalu santai. Seperti yang lain, begitu satu kegiatan menjadi rutin, kita melupakan detil.

Beberapa kawanku di Manila berada diluar kota karena liburan paskah ini. Aku menghabiskan waktu di rumah saja bersama kawan kecilku. Atau membaca apapun di dunia maya sambil mempelajari peta pelayanan taksi di Manila yang nyata benar bedanya dengan pelayanan taksi di Jakarta. Mulai minggu depan aku memerlukan taksi setiap pagi dan sore selama kursus dasar permuseuman berlangsung. Semangatku agak menciut karena urusan ini tetapi aku tahu aku tidak seharusnya merasa seperti ini. Mengambil kursus di Museum Nasional ini adalah tantangan besar bagiku, bukan hanya karena harus duduk di kelas selama sembilan hari dari pagi sampai sore, tetapi karena urusan transportasi yang tidak kukenal dan kemacetan lalu lintas seperti di Jakarta. Aku harus siap berkutat dengan ketidakpastian.

Seperti semua perjalanan, ini bagian yang membuat hidup lebih hidup!

Bersama kawan kecilku.