Mengamati budaya lain selalu menyenangkan. Sesudah lima hari bergaul cukup rapat dengan lebih dari 40 orang Filipina, aku mulai memahami sedikit demi sedikit apa yang penting dan tidak penting bagi orang Filipina. Ketepatan waktu tidak menjadi masalah besar bagi mereka, tetapi merienda disajikan tepat waktu. Aku panik kalau mengetahui akan tiba terlambat, tetapi mereka bisa melenggang memasuki kelas meskipun terlambat. Ini sebetulnya berlaku di Indonesia juga dimana waktu adalah waktu, kedatangan adalah urusan lain.
Aku juga mengamati kalau kawanku benar bahwa orang Filipina santai gaya berpakaiannya. Aku tidak heran kalau melihat mereka berjalan di pertokoan tetapi di kelas yang aku anggap formal pun ternyata mereka bisa mengenakan jins, baju tanpa lengan, dan sandal datar. Aku berpikir berulang kali sebelum memutuskan datang ke kelas mengenakan jins. Nilai ini masih kontroversial di benakku seperti bagaimana kawan-kawanku dengan santai membalas pesan singkat diatas meja sementara pengajar masih berbicara. Dan mereka melakukan itu terus menerus. Kadang-kadang mereka ingat untuk mengirimnya dari bawah meja tetapi lebih sering mereka berlaku seperti kelas sedang tidak berlangsung. Sama dengan memakai komputer di saat kuliah berlangsung. Aku tidak tahu bagaimana perasaan pengajarnya melihat ini semua. Yang pasti aku ingat Mama bisa mengeluarkan dari kelas mahasiswanya yang ketahuan membaca atau membalas pesan singkat. Itu perasaanku juga kalau melihat kawan-kawanku.
Makan adalah urusan penting dalam kehidupan orang Filipina, begitu ujar kawanku waktu aku keheranan karena lagi-lagi merienda berukuran seporsi makan normalku disajikan. Antrean membeli makan siang tidak pernah kosong di lima belas menit pertama. Dalam lima belas menit itu kebanyakan kawanku dan pengelola kursus sudah duduk menyantap makanannya. Sementara aku masih sibuk dengan urusan sendiri di meja, dan baru berpikir ingin sayur yang mana. Aku hanya makan nasi satu kali selama kursus berlangsung karena satu takaran nasi mereka bisa aku makan minimal empat kali. Sekarang, paling tidak dua kawanku sudah mengikuti jejakku untuk tidak makan nasi.
Kegiatan icebreaker setiap pagi dan siang selalu menarik. Orang Filipina paling jago menghibur, membuat hiburan, termasuk menyanyi dan menari. Itu adalah kegemaran mereka yang bisa dihidupkan setiap saat. Hari ini oleh salah satu grup yang mendapat tugas, kami diwajibkan membuat gerakan satu huruf dengan tubuh kita. Jadi miriplah goyang Inul, apalagi untuk huruf ‘n’ bagianku. Kami berdiri berjajar diatas panggung dan mengarahkan belakang tubuh kita ke pemirsa sehingga mereka bisa menebak bentuk huruf apa yang sedang kami peragakan. Merasa bergoyang ngebor seperti Inul, aku bertanya-tanya apakan permainan yang sama bisa dimainkan di Indonesia?
Hari ini aku menemukan pribadi yang luar biasa. Desainer pakaian malam dan pengantin di masa lalu yang sekarang menjadi Pastor di Mindanao. Kawanku membeli buku darinya, dari situ aku tahu karya-karyanya yang luar biasa. Sekarang beliau mengabdikan diri dengan berkarya untuk jubah kepastoran yang memakai bahan dari tekstil asli Filipina. Aku mengangkat topi! Senang bercakap-cakap dengannya.
Hari ini hari terakhir kami mendapat kuliah di kelas. Besok kami mengikuti tur keluar kota, dan hari berikutnya tur Museum Nasional yang terdiri dari dua bangunan. Baru sekarang terasa kalau waktu berlari dengan cepat. Sudah hampir dua minggu aku berada di Manila tetapi belum mempunyai kesempatan bertemu dengan kawan-kawan lamaku.
Kami waktu bergoyang Inul diatas panggung.