Minggu, 11 April 2010


Tiga hari tanpa sekolah rasanya cepat berlalu. Mulai besok kegiatan di museum berlangsung kembali selama lima hari penuh. Aku sempat merasa kecut tetapi sesudah melihat lagi programnya ternyata aku bersemangat karena dua hari pertama untuk membahas dua hal menarik mengenai permuseuman, dua hari berikutnya kami mengikuti tur mengunjungi museum-museum di luar kota dan di kompleks museum tempat kursus berlangsung, dan hari terakhir adalah penutupan kursus dimana kami harus mengumpulkan tulisan mengenai kesan-kesan penyelenggaraan kursus yang dilanjutkan dengan pertunjukan kultural oleh masing-masing kelompok.

Dua hari yang sudah berlalu aku berjalan-jalan di pertokoan, hari ini aku tidak ingin kemana-mana. Aku mengerjakan tugas akhirku sampai kira-kira 70% selesai, 30%-nya akan aku tulis sesudah empat hari mendatang berlalu. Paling tidak beban besar sudah terangkat. Aku tidak bisa membayangkan menulis di akhir hari yang melelahkan minggu depan.

Selain itu, aku juga berkutat mengakali kaos kenang-kenangan kursus yang harus kami kenakan pada hari Rabu waktu kami mengikuti tur ke Batangas (konon dua jam dari Manila). Aku merasa ciut melihat kaos polo pembagian ini, selain bahannya yang tidak menyerap keringat, juga ukurannya yang 1,5 kali lipat dari ukuran kaosku. Karena datang terlambat, aku mendapatkan kaos berukuran S untuk pria! Tidak bisa mengeluh, aku mencari akal.

Aku memotong panjang kedua lengannya sehingga tidak nampak seperti baju pinjaman. Aku juga memotong panjang kaosnya sehingga panjangnya pas pinggang, lalu memotong bagian depannya menjadi dua! Ya, aku memutuskan menggubah kaos polo ini menjadi jaket dengan simpul di perut. Rencananya aku akan memakai dalaman katun berwarna sama yang kebetulan aku punya. Dengan rancangan ini, aku mempunyai pilihan untuk melepas kaos polo ini bila kegerahan di dalam bis. Perlu waktu sehari untuk menggubah rancangan ini karena begitu dipotong, aku tidak bisa menyambungnya kembali. Untung gaya kaos yang dipotong gunting tanpa dijahit telah menjadi tren kaos mahal akhir-akhir ini.


Temperatur di Manila sedang panas-panasnya. Di pagi hari temperatur sudah mencapai 30 derajat dan suhu meningkat perlahan sampai siang hari. Kelembaban tidak begitu tinggi sehingga cocok untuk mengeringkan pakaian tanpa matahari. Tidak seperti di Ubud, pakaian yang aku cuci di pagi hari bisa kering sebelum siang berakhir. Menyenangkan sekali!

Aku belum mempunyai rencana bagaimana melewatkan malam ini tetapi aku sudah bisa membayangkan ritual pagi hariku yang seperti tentara bersiap berangkat perang.

Salah satu lorong di museum.