Kamis, 08 April 2010


Petualangan minggu ini berakhir sudah. Lega rasanya. Tiga hari pergi ke sekolah tantangannya lebih besar di perjalanan menuju dan kembali ke rumah. Taksi yang aku pesan untuk menjemput setiap pagi tidak muncul kemarin sehingga aku sedikit terlambat tiba di kelas. Akhirnya aku putuskan untuk terjun ke setiap petualangan dengan setiap taksi yang aku naiki. Aku mulai hapal seribu jalan menuju museum termasuk gedung-gedung yang menjadi tanda aku berada di jalan yang benar. Aku belajar pasrah dan percaya kalau pengemudi taksi tidak mengelabuiku. Sejauh ini, aku beruntung!

Materi kemarin dan hari ini sama menariknya. Sesi pagi diisi oleh kuliah mengenai teori dan sesudah makan siang dilanjutkan dengan praktikum dengan bimbingan. Kemarin kami belajar cara memasukkan obyek ke koleksi beserta cara memasukkannya dalam katalog. Kami diminta membawa satu obyek untuk dianalisa keadaan fisiknya lalu dicatat dalam katalog. Sesudah mempraktekkan obyek sendiri, kami harus menimba ilmu di dua seksi lain. Obyekku yang berupa tempat kapur dari Timor masuk di kategori etnografis. Aku menuju ke meja botanikal untuk mendengarkan tutornya memberi penjelasan bagaimana tanaman diawetkan lalu dimasukkan dalam koleksi museum. Sesi ini mengingatkanku pada masa kecilku dimana aku dan kakakku gemar menjepit daun diantara halaman buku-buku tebal Mama dan Papa. Kalau aku ingat-ingat, jangan-jangan dulu kami tidak memakai prosedur yang benar sehingga menodai halaman buku mereka? Entahlah.

Meja kedua yang aku kunjungi adalah meja senirupa yang dipandu oleh tutor yang menarik. Pria Filipina berusia setengah baya lebih yang mengenakan barong yang panjangnya ekstra untuk alasan mode. Pipinya nampak memerah karena pemerah pipi, pembawaannya super halus, dan aku… mengagumi cincin-cincin besarnya! Kami membahas mengenai nilai sebuah lukisan. Mengetahui aku dari Indonesia, dia berhenti sejenak memberi kuliah lalu bergosip mengenai presidenku yang pertama yang dikenal baik di Filipina. Aku menikmati bagaimana dia menanyakan ini-itu dengan kerlingan-kerlingan nakalnya.

Pagi ini kelompokku kebagian membuka hari dengan permainan (ice breaker). Salah satu anggota kelompok kami yang berusia 24 tahun (pengajar SMA) yang mempunyai ide lucu ini. Kami dibimbing menyanyikan dua bait lagu ceria sambil melakukan gerakan yang dipandu olehnya. Gerakan ini diulang-ulang dan semakin lama semakin konyol. Di akhir gerakan ke tujuh, mungkin, kami berjalan dan berputar seperti bebek. Aku salut pada kreativitasnya. Aku beruntung mendapatkan enam kawan baru di kelompok ini, mereka pendiam tetapi aktif dan kreatif!

Hari ini kami belajar mengenai bagaimana menyimpan, memelihara, dan merestorasi obyek. Pembicaranya dari salah satu museum privat, penuh gaya dalam membawakan topiknya. Mataku terbuka lebar sejak pagi sampai makan siang. Kami belajar banyak mengenai ragam ancaman terhadap obyek di museum dan cara penanganannya. Di akhir sesi, pembicara memberi kami tugas untuk dikerjakan dalam sepuluh menit lalu dipresentasikan. Kami kebagian cara menjaga buku kuno yang berada di Perpustakaan Nasional.

Sudah tiga hari ini, listrik padam di jam makan siang selama tiga jam. Hawa di ruangan jadi tidak tertahankan panasnya. Apalagi hari ini ada sesi pemotretan lagi yang diadakan di tangga museum, alias dibawah terik matahari yang konon mencapai 39 derajat! Bak selebriti, aku pun diminta berfoto dengan berbagai kelompok. Mereka senang sekali mempunyai kenalan baru dari Indonesia! Aku senyam senyum saja mengikuti kemauan mereka untuk berfoto di sana-sini.

Batukku masih saja bertengger di hari kelima. Kepalaku pening setiap sore karena tegangan batuk seharian ditambah duduk di taksi selama empat-puluh-lima menit kira-kira. Sore ini sesudah kelas berakhir, aku diajak kedua kawan baruku yang pertama untuk menyantap merienda (lagi). Kawan-kawanku ini rupanya bersobat sejak kecil hingga usia mereka yang diatas 65 tahun sekarang. Suami salah satunya turut bergabung. Lucunya pasangan ini mengenal baik pasangan yang aku kenal juga di Jakarta. Makin terasa dunia makin sempit.

Aku menikmati waktuku bersama mereka tetapi pada saat yang sama aku harus merasa tidak nyaman karena harus mencari taksi di puncak jam sibuk dan berada dalam taksi yang membawaku melalui rute yang tidak aku kenal. Aku tetap pasrah dan percaya tetapi aku juga punya Rencana B bila ini dan itu terjadi. Tiba di rumah setiap hari menjadi anugerah sendiri sesudah berada di ketidakpastian. Untung besok kami diliburkan karena besok adalah hari libur nasional. Seninya kembali ke bangku sekolah!

Gedung museum yang aku kagumi.