
Akhirnya berakhir juga duapuluhsatu hari kunjunganku di Manila. Persis duapuluhsatu hari masa visaku berlaku. Aku baru merasa kalau ini bukan kunjungan singkat kalau aku melihat ke belakang, melihat apa saja yang sudah aku lakukan. Paskah rasanya sudah berbulan yang lalu meskipun baru tiga minggu yang lalu.
Aku tidak banyak bertemu kawan lama di kunjunganku kali ini. Aku hanya sempat santap siang bersama satu kawan yang baru mengunjungi Ubud dua bulan yang lalu. Kebetulan organisasi kami juga tidak banyak mengadakan kuliah di musim panas ini. Bulan April di Filipina disebut musim panas. Satu lagi, semalam aku bertemu dengan bekas atasanku duabelas tahun yang lalu sebelum aku mengundurkan diri. Sejak dua bulan yang lalu, beliau kembali bermarkas di Washington. Sejak kami bertemu kembali pertama kali empat tahun yang lalu di Jakarta, kami sudah berkali-kali merencanakan untuk mengobrol tetapi baru semalam kami benar-benar bertemu dan di tempat yang tidak kami duga pula. Menyenangkan bercakap dengan beliau. Selama menjadi atasanku, aku tidak pernah mengenalnya sedekat semalam. Dunia memang semakin menciut.
Di kunjungan kali ini aku menyempatkan untuk berbelanja pakaian ‘standar’ seperti kaos dan celana polos. Aku lelah dengan urusan kelebihan berat bawaan bila menumpang pesawat bujet. Sementara aku gemar membawa barang-barang, bukan pakaian, jadi bawaanku lebih berat. Nampaknya aku harus meninggalkan pakaian di empat destinasi tetapku: Ubud, Manila, Jakarta, dan Malang.
Aku sudah siap untuk terbang ke Jakarta malam ini. Kelihatannya seperti perjalanan panjang tetapi tentu tidak karena hanya perlu empat jam untuk sampai di Jakarta. Yang membuatnya terasa panjang, kadang-kadang, adalah antrian lapor penumpang di bandara. Dua kali kunjunganku yang terakhir sistem komputer tidak berjalan lancar sehingga pelayanan berjalan lambat.
Acaraku untuk besok sejak pagi sampai malam di Jakarta sudah rapi tersusun. Mudah-mudahan semua bisa aku lewati dengan baik.
Pemandangan Danau Taal dari Batangas.