Rabu, 28 April 2010


Purnama. Hari yang paling menyenangkan bila sedang di Ubud. Ada kemewahan tersendiri, tidur dibawah siraman bulan purnama. Terutama karena aku tidak punya tetangga sekarang, aku bisa membiarkan semua tirai kamarku terbuka, tidak ada lampu dari rumah sebelah. Seberapapun aku suka bepergian, tidur di rumah di Ubud selalu terasa istimewa. Aku tidak tahu mana yang lebih istimewa, rumahnya atau Ubud-nya. Yang pasti, keduanya.

Waktu berlalu cepat sekali. Rasanya baru kemarin aku melewatkan waktu bersama keponakanku, membahas makanan, dan hal-hal yang menjadi ‘perhatian’ kami. Lalu makan bersama keluarga besar di sebuah rumah makan yang sedang naik daun. Dan tiba-tiba aku sudah berada di dalam taksi pukul 5 pagi menuju ke Surabaya hari Senin kemarin. Pesawatku terbang lebih pagi satu jam dari biasanya dan karena lumpur Lapindo kembali membuat letupan baru, aku harus berangkat lebih pagi untuk menghindari macet.

Persiapan dini hari terbayar waktu aku melihat pesawat parkir berjajar. Ada sesuatu yang menyihir kalau aku melihat pesawat parkir. Aku pikir aku aneh tetapi rupanya aku tidak sendiri, dan aku mengetahui itu sejak lama. Pagi itu aku membaca satu artikel mengenai kehidupan di dalam pesawat dan di darat yang ditulis seorang jurnalis kocak berdarah India yang tinggal di Hong Kong. Seperti aku, dia ingin melompat ke bandara kalau mendengar atau membaca ulasan perjalanan. Padahal melakukan perjalanan tidak selalu mulus dan menyenangkan. Contohnya bila harus bersiap-siap sejak pukul 4 pagi. Tetap kami masih bisa menikmati itu.

Rumahku luar biasa kotor waktu aku datang. Hampir dua jam aku bekerja keras membersihkan kamar tidur, dapur, dan kamar mandi yang diselimuti debu dan banyak digayuti sarang laba-laba. Bau lembab menyeruak waktu aku membuka rumah. Ini hal aneh lain yang aku nikmati. Membersihkan rumah dan menjadikannya sarangku kembali (sesudah menjadi sarang laba-laba dan rumah cicak selama aku tinggal).

Kegiatan membersihkan rumah dan mencuci baju masih berlangsung sampai tadi pagi. Aku keluar rumah pertama kali hari ini sejak tiba di Ubud hari Senin siang. Ubud kelihatan sepi sekali. Jalanan lancar dan parkir mudah didapat. Aku melewatkan pagi bersama Mas pengecat rambutku yang gemar bergosip seputar kehidupan para orang kaya di Ubud, pelanggannya. Aku hanya tersenyum-senyum saja sambil belajar bagaimana orang lain mengelola hidup. Sesi bulananku bersama dia, biarpun sebentar, selalu aku nikmati. Kenalanku ini luar biasa berbakat dan baik. Dia tidak pernah membicarakan hal-hal yang kurang baik dari orang, hanya mengenai hal-hal yang membuatnya kagum. Termasuk gaya belanja orang!

Sejak aku tiba, aku belum melihat hujan deras turun padahal selama aku bepergian beberapa teman mengatakan kalau Ubud hujan terus. Aku senang karena cucian bajuku bisa kering, tidak hanya itu, aku selalu senang melihat matahari dan langit biru di Bali. Tidak ada duanya!

Hariku berakhir menyenangkan. Selesai sudah aku membereskan rumah dan cucian baju. Dan yang lebih penting lagi, aku sudah siap untuk melakukan perjalanan berikutnya akhir pekan ini. Lagi-lagi perjalanan yang dimulai sejak pukul 4 pagi!

Guci di sebuah pertokoan mewah di Manila.