
Sejauh ini semua urusanku berjalan lancar. Perjalananku semalam juga lancar. Konter maskapai penerbanganku komputernya berjalan normal sehingga aku hanya memerlukan beberapa menit saja untuk menyelesaikan semua urusan sampai melewati imigrasi. Aku mempunyai waktu luang hampir dua jam sebelum pesawat berangkat. Tidak seperti dua keberangkatan sebelumnya yang menghabiskan banyak waktu di antrian karena komputer di bandara macet. Semalam aku mempunyai waktu untuk melanjutkan membaca buku karangan pengarang terkemuka Filipina yang dianjurkan kawanku.
Selama empat jam di udara, aku tidak memejamkan mata sama sekali karena buku itu. Bukunya tidak tebal tetapi bahasanya indah sehingga aku perlu waktu untuk ‘menikmati’ bahasanya. Beruntung aku dapat menyelesaikannya sejenak sebelum persiapan mendarat di Jakarta persis tengah malam. Pesawat tidak terlambat, konter imigrasi yang konon baru menerapkan perlakuan istimewa untuk warga asing juga nampak lancar (mungkin karena hanya pesawat kami yang tiba tengah malam), dan semua berkas yang aku perlukan untuk perpanjangan paspor juga sudah tersedia sehingga tidak memerlukan waktu lama untuk menyiapkannya sebelum tidur.
Pagi-pagi sekali dokumen pasporku sudah diambil petugas dan pukul sepuluh tepat aku sudah berada di kantor imigrasi Jakarta Timur untuk perpanjangan pasporku yang habis masa lakunya akhir tahun ini. Seberapapun aku tidak mendukung usaha percaloan tetapi aku mempunyai pembenaran untuk itu. Waktu aku datang, ruang tunggu kantor imigrasi ini penuh sekali dengan orang yang menunggu. Nampak ekspresi pasrah di wajah mereka. Aku telah membeli waktu dan tenagaku dengan menggunakan jasa calo dari agen perjalanan langgananku. Aku hanya merasa sedikit bersalah karena aku memerlukan sekitar duapuluh menit saja untuk menyelesaikan administrasi keimigrasian.
Bersantap siang dengan kawan baikku berjalan seru. Si abang tukang rambutku siaga tepat waktu di salonnya waktu aku datang. Memendekkan rambut memang satu hal luar biasa yang dapat membuat spiritku naik dengan segera. Dua bulan aku tidak berjumpa dengannya. Aku senang dengan potongan rambut baruku, seperti yang sudah-sudah.
Hariku lengkap sudah dengan datangnya pasporku yang baru setibanya aku di rumah. Aku memangkas sembilan hari proses penyelesaian paspor. Aku akan segera menginaugurasinya minggu depan. Dan dokter kulit yang aku jumpai sebelum malam tiba memastikan kalau aku mempunyai alergi terhadap minyak wijen! Ya, aku mengusap lengan dan kakiku dengan minyak wijen produk sebuah merk ternama dari Amerika hari Minggu yang lalu. Dan sejak hari Senin pagi aku mendapati bentol di sekujur lengan dan kakiku. Hari ini sebetulnya sudah berangsur membaik tetapi aku tetap memerlukan obat untuk memulihkannya dengan tuntas.
Satu hari lagi di Jakarta, lalu pindah ke kota berikutnya.
Kehidupan di kota, rapi, nyaris tanpa seni.