Bak berangkat perang, tas tanganku gendut oleh peralatan mempertahankan diri. Karena lalu lintas yang konon tidak lancar, aku siap dengan sebotol air putih dan sekantong makanan kecil termasuk coklat. Karena aku masih menderita flu; aku membawa saputangan, beberapa obat untuk mengatasi batuk, vitamin C, dan tisyu. Dan selebihnya bisa ditebak, buku catatan dan peralatan alat tulis. Ya, hari ini adalah hari pertama kursus permuseuman yang diadakan di Museum Nasional di Manila.
Karena hari pertama, maka kursus dimulai lebih awal yaitu pukul 8:00. Sebelum pukul 7:00, aku sudah berada di jalan menunggu taksi dengan berdebar-debar karena ini pengalaman pertamaku menaiki taksi ke tujuan yang cukup jauh. Aku beruntung mendapatkan pengemudi taksi yang cara mengemudinya nyaman dan tahu jalan-jalan tikus untuk mencapai Museum dengan cepat. Walhasil, aku tiba terlalu pagi karena waktu tempuh yang diperkirakan satu jam dapat disingkat menjadi tiga puluh menit. Aku puas dengan pengemudi taksi ini jadi aku memintanya untuk menjemputku setiap pagi selama kursus berlangsung. Aku tidak bisa memintanya menjemput dari Museum karena dia tidak mempunyai telpon genggam. Aku heran juga karena…
Selama kursus berlangsung, suara telpon genggam tetap bersahut-sahutan meskipun dengan nada lirih tetapi tat tut tat tut terus-terusan terdengar. Ini ibukota SMS, katanya, jadi aku tidak bisa mengeluh. Gadis yang duduk di deretan paling depan pun tega memegang telpon genggamnya di atas meja sambil membalas SMS. Etika sudah luruh karena teknologi dan apa yang dianggap biasa karena kemajuan jaman. Aku tidak bisa lagi mengeluh.
Kursus dibuka oleh dua direktur museum dan sesudah pembukaan adalah sesi yang disukai orang Filipina yaitu sesi pengambilan foto grup. Peserta kursus berjumlah 44 orang dan aku satu-satunya warga asing di angkatan tahun ini. Kami dijajarkan di panggung dan gambar kami diambil oleh banyak pemotret yang konon tergabung di Klub Pemotret Museum. Cukup lama juga kami harus tersenyum untuk sesi ini. Menarik!
Hari ini ada tiga pembicara yang berbicara mengenai dasar-dasar permuseuman, etika dan hukum di dunia permuseuman. Ketiga pembicaranya adalah direktur museum swasta atau kurator. Cara mereka menyampaikan materi sungguh menarik dan interaktif, aku tidak sempat mengantuk bahkan untuk meninggalkan kelas ke kamar kecil pun aku merasa sayang karena tidak mau ketinggalan materi. Sayang beberapa bagian yang menarik, seperti contoh-contoh kasus, dipaparkan dalam bahasa Tagalog. Aku bisa mengerti kenapa mereka menggunakan bahasa lokal agar suasananya akan lebih mudah ditangkap. Kawan baruku dengan telatennya menerjemahkan garis besar yang diucapkan pembicara. Dia memberitahu aku kalau kebanyakan peserta berasal dari museum di kota kecil di pulau lain di Filipina. Jadi sentuhan bahasa lokal bisa membantu penyampaian materi. Baiklah.
Yang menarik, merienda (rehat kopi) yang dihidangkan terdiri dari makanan sekelas santap siang bagiku. Bihun goreng dan bolu kukus selebar tampah, beserta hidangan penutup berupa buah campur instan. Wow! Aku memanfaatkannya karena aku tidak sempat santap pagi. Tetapi waktu santap siang tiba, aku kebingungan karena perut masih kenyang. Aku mengikuti tiga kawan baruku berjalan melintasi taman kering kerontang Jose Rizal yang terkenal untuk makan siang di rumah makan ala McD tetapi lokal. Hawanya menyengat. Konon saat ini adalah puncak musim panas di Filipina, pantas aku terjangkit flu karena perubahan cuaca yang drastis.
Aku sempat pesimis dengan sesi siang yang mungkin membuatku mengantuk, apalagi sesudah santap siang. Ternyata tidak, mataku terbuka lebar dan senyumku sering mengembang karena ulah lucu pembicaranya. Merienda dihidangkan di meja masing-masing berupa roti tumpuk (sandwich) isi tuna (dari baunya) yang memakai roti putih! Aku terpana tidak percaya karena roti tumpuk ini benar-benar sebobot santap siangku tetapi nampaknya hanya aku sendiri yang tidak menyantap roti tumpuk ini. Rupanya aku tidak tergabung dengan klub merienda di Filipina.
Sesi hari ini ditutup dengan pembagian kelompok. Setiap kelompok berjumlah tujuh orang. Sesudah seharian merasa nyaman dengan tiga kenalan baruku, aku harus menghadapi enam kenalan baru di akhir hari. Dua pria nampak pendiam, empat perempuan mempunyai beragam karakter. Aku yakin aku bisa ‘menaklukan’ mereka. Seperti kursus lain, aku harus siap mengerjakan pekerjaan rumah di setiap akhir hari. Malam ini aku harus menyiapkan satu artifak untuk dianalisa besok. Aku harus mengadakan riset kecil juga mengenai artifak yang hendak aku bawa ini. Komitmen delapan-hari telah dimulai!
Suasana kelas di pagi hari.