skip to main |
skip to sidebar
Aku teringat kalau hari ini hari Minggu waktu membersihkan daun kering di kamar mandi terbukaku, ritualku setiap sebelum mandi. Hari ini panas sekali terutama karena aku bekerja menggunakan fisik. Ya, mengangkat barang di tokoku! Tadinya aku berniat menggunakan hari Minggu untuk beristirahat tetapi rasanya aneh. Yang pertama, setiap hari bisa aku anggap sebagai ‘hari libur’. Yang kedua, aku sudah beristirahat kemarin! Aku harus bekerja.Aku menikmati waktuku di toko sendiri. Ide untuk menjadikan toko ini sebagai ruang menerima-tamuku kudapatkan setelah liburan akhir tahun beberapa minggu yang lalu. Karena perjalananku keluar pulau, aku baru dapat merealisasikan ide itu sejak minggu yang lalu. Aku perlu melihat lokasi beberapa kali untuk memunculkan ide menata ulang. Hari ini aku membereskan detail dari yang sudah dikerjakan Ngurah sesuai instruksiku minggu yang lalu yaitu memindahkan furnitur.Aku bergerak lumayan cepat sebelum semangatku habis. Aku tahu kelemahanku, aku tidak bisa mempertahankan fokus sesudah beberapa saat terutama bila aku bergerak terlalu lambat di awal. Ini berlaku untuk banyak hal terutama dalam berkarya. Aku harus segera berbuat sesuatu begitu mendapatkan ide. Jadi tiga jam berlalu begitu cepat. Kawanku yang tetanggaku menengok dua kali. Dia sibuk dengan acara hari Minggunya yang padat dari menghadiri pemakaman sampai makan siang yang glamor. Aku hanya bisa tertawa karena dia menggangguku yang bekerja di hari Minggu. Ini pilihanku.Dan aku pun tidak ingat kalau aku sudah mempunyai rencana untuk mengikuti kelas yoga Minggu sore seperti minggu yang lalu. Aku baru teringat, lagi-lagi, di kamar mandi. Aku sudah terlambat setengah jam. Namun foto-foto yang aku ambil di toko tadi siang telah menyita perhatianku sepanjang siang. Foto sering membantuku untuk melihat sesuatu dari perspektif pemirsa, atau secara tidak langsung. Ini berlaku juga kalau aku ingin melihat 'perkembangan' tubuhku – ke dalam atau ke luar. Aku tidak mampu melihat perubahan itu melalui cermin. Menarik kan?Ya, aku membuat kolase digital untuk aku bagi dengan para penggemar tokoku. Masih ada beberapa bagian dari toko yang perlu aku ambil fotonya. Berarti besok aku kembali ke toko. Proyekku belum berakhir. Aku berencana memberi masing-masing barang sejarah singkat, seperti yang biasa aku lakukan dulu. Aku sudah terlalu lama tidak menyentuh kedua tokoku. Mudah-mudahan kepulanganku ini membawa enerji positif bagi bisnisku.Bagian-bagian yang kugemari di tokoku.
Aku sedang membuat jus buah waktu aku menyadari kalau aku tidak mempunyai perasaan terhadap apapun. Neru adalah ‘tanpa ego.’ Ada waktu dimana aku bisa merasa damai dan tenteram seperti ini, dimana semua hal tidak menjadi masalah besar bagiku. Atau, kalau pun satu hal menjadi masalah, itu bisa mengkerut yang bisa aku abaikan efeknya. Aku senang kalau sedang merasa seperti ini. Biasanya perasaan ini muncul sesudah ‘peristiwa’ besar! Kebetulan kali ini tidak ada tetapi… aku memang baru menemukan rumus baru untuk menenteramkan diri bila merasa ada yang tidak terpenuhi.
Konon kita akan terlahir kembali bila ada satu urusan (atau keinginan) yang belum selesai (atau terpenuhi) di kehidupan sekarang. Aku baru teringat rumus ini beberapa hari yang lalu yang kemudian aku pakai untuk mengerem egoku untuk menyelesaikan satu urusan (atau memenuhi satu keinginan). Kalau tidak sekarang, aku masih punya harapan untuk menyelesaikan urusan (atau mendapatkan yang aku inginkan) di kehidupanku mendatang. Jadi tidak perlu kuatir karena selalu ada waktu untuk semua!Kawanku senang mendapat ide untuk mengadopsi rumus itu. Dia bilang akan mulai memproyeksikan itu ke kehidupannya sejak sekarang sehingga dia tidak perlu pusing berurusan dengan masalah atau keinginan yang mungkin muskil diselesaikan atau didapatkan di kehidupan ini. Aku senang dia bisa melihat konsep baruku memandang hidup. Kita lihat berapa lama konsep ini bisa aku pegang sebelum konsep lain yang membatalkan muncul. Hm.Kemarin pagi waktu aku terbangun di hari ulang tahunku, yang aku ingat pertama kali adalah Mama, ibu yang sudah melahirkan aku. Aku merasa perayaan ulang tahunku lebih sebagai perayaan bagi Mama, bukan perayaan hari lahirku, karena Mama yang melampaui semuanya sebelum melahirkan aku ke dunia. Jadi perayaan ulang tahun adalah perayaan persembahan untuk semua Ibu yang melahirkan kita. Menurutku. Jadi aku hanya tersenyum-senyum saja waktu dua kawan baikku menyanyikan lagu ulang tahun untukku melalui telpon kemarin. Aku menghargai perhatian mereka yang telah menyumbangkan suaranya untuk menyelamatiku. Aku memikirkan Mama. Konsep ulang tahun sudah berubah di pandanganku.Aku menikmati waktuku di rumah hari ini. Aku pikir ada satu elemen yang paling penting yang membuatku betah di rumah… listrik! Dengan listrik; aku bisa mengolah makanan, berkarya dan berhubungan dengan kawan-kawan menggunakan komputer, membaca bila gelap, dan tentunya mendengarkan atau ‘melihat’ musik.Aku sedang senang.Mama dan aku waktu masih muda.
Keinginan sederhanaku yang muncul sesudah sibuk diluar rumah beberapa hari terakhir. Kemarin aku dan kawan baikku menghadiri pertemuan kami yang pertama di suatu organisasi perempuan internasional di Bali. Sudah lama kami ingin menghadirinya karena kami ingin menggali lebih dalam kegiatan organisasi yang populer diantara perempuan pendatang dan lokal ini. Kegiatan ini merupakan salah satu penjajakan kami terhadap organisasi-organisasi yang ada di Bali.Ada beberapa meja yang menjual aneka produk sebelum memasuki ruang makan di sebuah hotel berbintang lima di Sanur. Ibu-ibu ini berkerumun di sekitar meja-meja itu mengamati pakaian dan perhiasan yang digelar. Di keramaian ini kami bertemu wajah-wajah lama dan baru. Santap siang yang dimulai agak lambat didahului dengan mendengarkan penjelasan mengenai kegiatan yang dilakukan oleh organisasi ini sepanjang tahun. Kegiatan sosialnya cukup banyak tetapi entah kenapa kami mempunyai kesan organisasi perempuan ini seperti perkumpulan ibu-ibu yang bersenang-senang. Mungkin kami salah tetapi untuk saat ini kami belum berminat bergabung menjadi anggotanya.Kami kembali ke Ubud waktu matahari sudah mulai turun. Kami sudah meleleh karena panasnya udara di Sanur yang berbeda 3-4 derajat lebih daripada di Ubud. Tetapi kami puas karena kami bisa mencoret satu lagi organisasi dari daftar penjajakan kegiatan baru untuk tahun ini. Aku beristirahat beberapa saat sebelum keluar rumah lagi untuk menemui Bude Eyang yang sudah rindu dan ingin bertemu dengan aku. Beliau yang tinggal di Yogya ini sedang berada di Bali beberapa hari untuk melukis dan kemarin adalah hari terakhir beliau di Ubud sehingga aku meluangkan waktu untuk bertemu.Untuk pertama kalinya kami bercakap-cakap berdua saja. Biasanya kami dikelilingi putra-putri beliau bila bertemu di acara keluarga. Singkat cerita, beliau langsung menceritakan dengan antusias kegiatan barunya yaitu memperluas ruang pamer di kediamannya di Yogya untuk dijadikan ruang pamer karya-karya perupa perempuan Indonesia dan Asia. Kelak, sebagian dari ruang ini akan dijadikan museum karya beliau yang sudah mulai dipilah sejak sekarang. Beliau baru menginjak usia 75 tahun bulan Nopember yang lalu. Beliau nampak sehat meskipun agak sulit berjalan.Kami berbicara mengenai berbagai hal mulai urusan manajemen museum, masalah hukum, impian beliau, sampai gosip keluarga dan isu rumah tangga yang sekarang tinggal cerita untuk kami pakai sebagai butir pelajaran hidup mendatang. Kami banyak tertawa bak dua gadis kecil bertemu meski usia kami terpaut 31 tahun. Tidak terasa dua jam sudah berlalu. Aku segera mohon diri karena Bude berencana berangkat ke Kusamba dan Karangasem untuk melukis pagi-pagi sekali keesokan harinya, yaitu pagi ini. Aku senang beliau masih mengingatku dan kami berkesempatan berbincang panjang. Aku berjanji mengunjungi beliau segera di kediamannya di Yogya. Aku perlu membina kembali hubungan dengan keluarga dari sisi Papa. Banyak hal yang bisa membuat hidupku berwarna sebagai bagian dari keluarga bernama besar kalau aku bersedia membuka diri untuk itu.Hari ini terasa istimewa karena hari istimewaku ini kuperlakukan tidak istimewa. Aku tetap melakukan pekerjaan rumah tangga rutinku di pagi hari lalu mengikuti kelas yoga sebagai pengganti kelas hari Kamis yang tidak aku hadiri. Kawanku agak enggan bergabung tetapi aku berhasil meyakinkannya kalau tubuh kita memerlukan olahraga ini. Dia pun datang! Dan seperti yang sudah bisa ditebak, acara sesudah yoga adalah acara perempuan total! Aku ditraktir makan siang di rumah makan bermenu sehat karena organik, lalu kami berbelanja perhiasan di toko seorang desainer perhiasan merangkap perangkai bunga berkebangsaan Amerika yang namanya kondang di Ubud, dan berbelanja keramik karya seniman dari Bandung. Semua tempat adalah tempat yang gemar kami kunjungi di Ubud. Matahari sudah turun waktu kami berpisah. Kami sudah mendambakan mandi di pancuran air dingin. Ubud sedang lembab beberapa hari ini. Badan terasa lengket sekali. Aku puas dengan cara aku menghabiskan hari ini. Sesudah mandi, aku merespon puluhan ucapan selamat ulang tahun yang aku terima melalui pesan singkat, Facebook, dan surat elektronik. Aku menikmati kesendirian di malam bulan purnama ini.Kartu-elektronik ucapan terimakasihku yang merekam hadiah yang aku terima dan binatang yang aku temui di studio yoga tadi pagi.
Aku mulai panik waktu kawanku mengatakan dia akan datang ke rumah nanti siang. Aku tahu perasaan ini tidak seharusnya aku rasakan tetapi aku tidak tahu bagaimana. Aku bukan orang yang mudah menyesuaikan diri pada perubahan di detik terakhir, sehingga kedatangan tamu di saat aku tidak siap, bukan satu hal yang aku… harapkan! Aku beruntung karena banyak kawan baikku bisa mengerti sifatku yang satu ini, kalau aku tidak bisa diberi ‘kejutan’ karena hidupku diatur oleh suasana hati.Aku tersenyum mendapatkan jawaban atas kebingunganku ini di kolom kegemaranku di majalah Time. Stein sering menulis mengenai pengalamannya (lebih ke apa yang dia rasakan) yang dekat dengan pengalaman kita rasakan sehari-hari. Bukan pengalaman yang muluk-muluk seperti menghabiskan berminggu-minggu mendaki pegunungan Himalaya, atau berpetualang di padang pasir di Afrika.Singkat cerita, kali ini Stein menulis mengenai perasaannya dalam menggunakan Skype. Dia bisa menggambarkan dengan tepat perasaannya berada di situasi ‘berbicara sambil memandang’ waktu menggunakan Skype dengan video. Menurut dia, dia merasa terjebak dan serasa ingin melihat ke sekeliling ruangan untuk mencari pembenaran kenapa berbicara di Skype menghabiskan waktu. Stein seperti aku, tidak keberatan untuk membuat koneksi tetapi dalam batas secukupnya. Dengan Skype, dia merasa dia harus memandang lawan bicaranya. Aku pernah mengalami itu satu kali waktu berbicara dengan kawan baikku di Belanda. Dia ingin berbicara denganku sehingga aku menyediakan waktu untuk dia menghubungiku tetapi waktu dia mulai menyalakan video-nya aku tiba-tiba bingung harus bagaimana ‘memandangnya.’ Aku memakai alasan koneksi internetku tidak baik untuk tidak menyalakan video yang menayangkan gambarku sehingga aku tidak perlu menata ekspresi waktu berbicara.Menurut Stein, seorang profesor studi sosial mengenai ilmu pengetahuan dan teknologi dari MIT mengatakan kalau tidak hanya Skype yang membuat orang kurang tertarik membuat koneksi, tetapi juga telpon reguler lainnya. Orang lebih nyaman menyampaikan pesan melalui surat elektronik atau pesan singkat melalui telpon selular karena tidak merasa nyaman berhubungan di waktu sebenarnya. Menurutnya, Skype adalah angan-angan kita di masa kecil dimana kita mampu melihat orang-orang yang kita kasihi pada saat yang kita inginkan tetapi ternyata waktu telah mengubah pandangan kita. Keleluasaan untuk mengatur waktu telah menjadi andalan produk masa kini. Teknologi baru diciptakan untuk bisa memberi keleluasaan mengontrol cara berkoneksi sesuai perasaan dan waktu.Di ilustrasi kolomnya, Stein digambarkan bersembunyi di belakang kursi komputernya sambil ketakutan, dan dilayar komputernya terpampang wajah seorang perempuan cantik (mungkin pengedit yang sering disebut-sebut di tulisannya) sedang berbicara. Sebetulnya, Stein sedang membicarakan produk baru yang diedarkan awal tahun ini yaitu videophone di televisi kita. Betapa menakutkannya!Kembali ke menata perasaan dan waktu sesuai yang kita mau, aku makin jago dalam urusan yang satu itu. Kawanku berkomentar kalau aku pandai memberi pelayanan pada diri sendiri, dan orang lain. Tentu, karena aku telah mampu melewati norma (batas yang umum dipakai) orang Jawa atau adat ketimuran yang memberi prioritas kepada orang lain sebelum diri kita sendiri. Aku tidak mempunyai masalah mengenai norma itu, tetapi ada juga saatnya aku lebih memprioritaskan diri dan tidak sungkan menyampaikannya ke orang lain mengenai keinginanku itu. Tentu aku tidak menghilangkan orang lain dalam urutan prioritasku tetapi aku mengatur waktu dan memberi kompensasi sehingga semua pihak merasa nyaman.Satu hari ini aku menghabiskan waktu bersama kawan baikku yang berkunjung kembali ke Ubud. Kami makan siang bersama, lalu dia aku ajak ke tokoku untuk meninjau apa yang sudah dilakukan Ngurah kemarin. Kami berpisah sebentar lalu bertemu lagi untuk mengikuti yoga pranayama yang aku ikuti kembali sesudah absen berbulan-bulan. Konsentrasiku tidak baik karena belum terbiasa mengikuti instruksi tetapi aku memetik manfaat dari berdiam diri sambil mendengarkan guru yogaku memberi instruksi. Aku mendapat ide lagi bagaimana aku bisa mengakali pembenahan barang-barang di Pallava! Aku bukan murid yang baik di kelas, tetapi aku bisa jadi murid yang kreatif!Santap malam kami menyenangkan. Kami telah memilih perasaan dan waktu yang tepat. Kebetulan kami mempunyai topik bahasan yang menarik. Tetanggaku mengirimkan anggrek putih dalam pot sebagai ungkapan selamat datang. Dia sedang mencari koneksi yang belum aku buka sejak aku kembali dari perjalanan. Hm… cara klasik membuat koneksi masih berlaku rupanya.Suasana di sebuah rumah makan yang aku kunjungi beberapa malam yang lalu.
Aku sedang menyetir di dekat Wana Monyet (ya ya Monkey Forest) waktu aku berpikir, mungkin gara-gara bahasa ibu yang aku pakai untuk menulis jurnal ini aku jadi kurang produktif akhir-akhir ini. Aku masih merangkai kerangka tulisan di kepala dalam Bahasa Inggris yang kemudian aku terjemahkan dalam Bahasa Indonesia waktu menulis. Ada beberapa ungkapan yang sulit aku uraikan dalam bahasaku sehingga aku masih belum lancar berpikir dan menulis. Hm… kurang baik ini.Dua hari ini aku lumayan disibukkan oleh berbagai kegiatan yang aku ciptakan. Aku mengurus beberapa hal administrasi sepanjang pagi kemarin, lalu melewatkan setengah jam di tokoku untuk mendesain ulang tata letak barang-barang. Aku membagi toko menjadi dua bagian, aku mengumpulkan barang-barang yang berharga super mahal di satu sisi, dan yang berharga ‘pasar’ di satu sisi. Aku mempunyai agenda. Menyadari kalau bisnis barang-lama tidak selancar di masa lalu, aku memutuskan untuk menyimpan beberapa barang yang aku suka untuk aku pakai di propertiku kelak. Yang aku maksud dengan menyimpan adalah menyisihkannya di satu sisi dan memberi harga tinggi agar aku tidak kehilangan atau ‘merasa kehilangan’ bila akhirnya kehilangan juga akibat terjual. Aku siap untuk memulai sesuatu yang baru, yang belum aku ketahui apa wujudnya.Sorenya, aku menghadiri kegiatan pertamaku menghadiri pertemuan sebuah organisasi sosial internasional yang bermarkas di Ubud. Aku baru mengetahui kemudian kalau organisasi ini, meskipun skalanya internasional, tetapi dapat dibentuk oleh sekelompok orang tanpa harus bergabung dengan organisasi yang sama yang sudah ada di satu wilayah, misalnya, propinsi. Jadi seperti di Bali, konon organisasi ini ada di setiap daerah (Nusa Dua, Seminyak, Sanur, Denpasar). Menarik!Pembicara di pertemuan kali ini adalah aktivis berkebangsaan Australia yang sibuk mengkampanyekan hidup tanpa menggunakan kantong plastik di Bali. Seperti juga di kota besar di Jakarta, kantong plastik merupakan bagian dari gaya hidup sehari-hari. Organisasi ini bekerjasama dengan sebuah pasar swalayan besar di Denpasar untuk mengkampanyekan tas yang dapat dipakai berulang-ulang sebagai pengganti kantong plastik untuk membawa belanjaan. Aku merasakan kalau usaha mereka ini tidak mudah dilakukan karena tidak mudah, atau memerlukan waktu, untuk mengubah pola pikir masyarakat. Atau, mereka dapat melakukan hal yang drastis seperti yang sudah diterapkan di Bangladesh dimana penggunaan kantong plastik dilarang secara hukum. Sebagai gantinya, Pemerintah mengkampanyekan penggunaan tas terbuat dari bahan yute (seperti karung goni).Di pertemuan itu; aku bertemu dengan beberapa figur yang aku kenal di masa lalu, figur ternama di Bali, dan tentunya figur yang baru aku temui kemarin malam. Temanku mengatakan padaku betapa luasnya perkawananku sampai-sampai aku bisa terkait dengan beberapa orang melalui jaringan yang tidak terduga. Aku pun terheran-heran menyadari itu. Dunia benar-benar telah mengecil sekarang.Sesudah yoga yang melelahkan pagi ini, aku bersantap siang dengan dua kawan dan seorang kenalan baru. Pembatik berkebangsaan Amerika yang sudah lama berkarya dari Ubud. Pembicaraan tentunya menarik. Aku selalu tertarik pada figur yang berkarya ‘dari jauh.’ ‘Dari jauh’ artinya dia berkarya di Indonesia untuk memenuhi pasar Amerika. Sebagai orang Indonesia, aku merasa tidak mudah untuk membina jaringan sehingga aku bisa berkarya disini. Aku tahu, kadang-kadang aku yang membuat batasan itu sendiri.Dua hariku terasa 'penuh' dan bermakna. Kehidupanku di Ubud sudah dimulai…Halaman hotel yang aku kunjungi kemarin.
Aku berkata pada diriku sendiri sebelum memutuskan untuk membaca buku di waktu yang biasanya aku pakai untuk menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Ini hari Minggu, meskipun semua hari adalah ‘hari Minggu’ bagiku, aku harus memperbolehkan diriku untuk bersenang-senang dulu sebelum mengerjakan hal lainnya. Membaca buku adalah hal yang tidak otomatis aku lakukan bila aku sedang berada di rumah. Aku sering disibukkan oleh hal lain sampai tidak sempat membuka buku. Hari ini aku bertekad untuk mendahulukan membaca buku sebelum mengerjakan lainnya. Atau, tepatnya, aku memberi waktu istimewa untuk membaca setiap pagi (terutama).Aku masih meneruskan membaca buku the Geography of Bliss. Karena buku ini, aku jadi berpikir mengenai parameter pengukur kebahagiaan. Seperti penulisnya yang berkeliling di sepuluh negara untuk memahami arti ‘bahagia’ bagi masing-masing bangsa. Bagiku, bahagia adalah mempunyai kebebasan melakukan apa yang kita mau. Bebas! Itu kata kartu yang kawanku dapatkan dari seorang penganut brahma kumaris yang dia temui di Bali beberapa waktu yang lalu. Kawan yang kutemui semalam sedang dalam masa transisi pekerjaan yang waktunya dihabiskan untuk melakukan perjalanan ke daerah-daerah di Indonesia bagian timur sejak akhir tahun yang lalu.Semalam dia berbagi kepada kami, dengan kawanku yang tinggal di Denpasar, mengenai keinginannya untuk menjelajah Eropa selama dua bulan pertengahan tahun ini. Dia merasa sudah cukup menjelajah Indonesia sehingga ingin merambah daerah dengan budaya dan vegetasi yang sama sekali berbeda. Aku mendukung impiannya. Aku suka gaya dia yang ‘tanpa rencana,’ benar-benar menginspirasi aku untuk melepaskan garis-garis yang aku ciptakan sendiri yang kemudian mengekangku. Dia adalah contoh seorang petualang yang sejati.Aku menghabiskan waktu beberes rumah. Ya, baru hari ini aku benar-benar membereskan barang-barang yang kubawa dari bepergian. Aku juga membereskan semua cucian baju sehingga besok aku bisa memulai minggu dari nol. Aku ingin membuat kemajuan dengan melakukan perubahan di kedua tokoku sebelum bulan pertama tahun ini berakhir. Selain membereskan hal-hal administratif yang sudah menjadi tunggakanku sebelum pergi.Yoga bikram yang kulakukan di siang hari rupanya tidak cukup bagiku hari ini. Aku mendapat ide untuk mengikuti kelas petang di studio yoga terkenal di Ubud. Ini untuk pertama kalinya aku mengikuti kelas malam. Aku merasa seperti pemula karena alat bantu yoganya berbeda dengan alat bantu di kelas reguler pagiku. Namun dalam urusan gerakan, aku bukan pemula. Kelas ini ringan dan berat pada saat yang sama. Fokusnya adalah melenturkan tulang belakang. Badan kami dilipat ke depan dan ke belakang selama hampir satu-setengah jam. Aku tidak mempunyai ruang untuk memikir keruwetan hidup karena tantangan posisinya luar biasa. Aku tersenyum sebelum bangkit dari yoga nidra sebagai penutup. Hidup mungkin tidak adil, tetapi Semesta adil, tidak ada yang perlu aku kuatirkan. Sesudah kehilangan satu sepupu yang lebih muda dari aku hari ini, aku jadi lebih menghargai semesta. Hidup ini indah!Matahari pagi yang tertangkap kameraku tadi pagi.
Aku berkata pada diriku sesudah menyelesaikan rutin pagi hariku di rumah. Aku memulai hari setengah jam lebih siang dari biasanya karena aku… menikmati waktuku memandang langit pagi berubah warnanya dari tempat tidur. Kemewahan khas rumahku di Ubud. Aku telentang sambil berputar-putar sampai harus mengatakan pada diri sendiri: Ayo bangun!Rumahku sebagian besar sudah bersih karena aku sudah bekerja keras waktu baru tiba kemarin. Pagi ini aku mencuci baju dan memfokuskan pada kebersihan di kamar mandi dan dapur. Hari makin beranjak siang, aku tidak mempunyai waktu untuk mempersiapkan diri mengikuti kelas yoga yang dimulai pukul 9:00. Ya, itu hanya alasan saja karena kalau aku benar-benar ingin pergi, aku sebetulnya bisa siap tepat pada waktunya. Dan karena aku tidak melakukan satu hal di luar rumah sejak pagi maka aku tidak berminat mengerjakan pekerjaan rumahku yang lain yaitu pergi ke bank dan mengunjungi beberapa kantor untuk mengecek beberapa hal.Tengah hari baru saja lewat waktu aku mendapat ide untuk melakukan yoga di kamar tidurku yang berhawa panas, sekitar 2-3 derajat lebih panas daripada ruang tamuku di lantai satu. Mungkin karena lokasinya yang di lantai dua ditambah lantai kayu yang biasanya dipakai untuk rumah di pegunungan. Aku teringat yoga bikram waktu tubuhku mulai menitik keringat. Yoga bikram (diambil dari nama penemunya) dilakukan pada suhu ruangan sekitar 40.5 derajat Celcius dengan tingkat kelembaban pada 40%. Suhu kamar waktu aku melakukan yoga adalah 31.5 derajat dengan tingkat kelembaban pada 53%. Mendekati ideal karena suhu dan kelembaban saling mengkompensasi. Yang pasti, baru sepuluh menit tubuhku sudah basah kuyup karena keringat. Aku merasakan keringat mengalir di dada dan punggung. Aku melakukan peregangan yang idealnya terdiri dari 26 posisi yoga dan dua posisi yoga pranayama (pernapasan). Yoga bikram berguna untuk peregangan yang lebih dalam, mencegah cedera, dan membebaskan rasa tegang. Gerakannya konon bisa menstimulasi tubuh secara sistematis dan memulihkan kebugaran sampai ke otot-otot, sendi, dan organ tubuh. Ini untuk pertama kalinya aku melakukan yoga pada suhu 'tinggi' di Ubud. Di Jakarta aku dapat dengan mudah melakukannya di pagi hari dengan mematikan mesin pendingin dan membuka jendela. Suhu dan kelembaban Jakarta cukup tinggi untuk menciptakan suhu ruangan prasyarat untuk melakukan yoga bikram, tidak di Ubud yang suhunya relatif sejuk. Suhu prasyarat ini bisa membantu meningkatkan pemakaian kapasitas paru-paru yang biasanya hanya digunakan 50%. Dengan lebih banyak oksigen yang kita hirup, kita akan lebih segar karena sirkulasi darah lancar juga. Wikipedia telah membantu aku menguasai aspek-aspek yoga bikram. Aku membuka kaosku yang basah kuyup dan menunggu beberapa saat sebelum menuju ke pancuran di kamar mandi menikmati air agak hangat. Sensasinya luar biasa. Aku senang dengan penemuanku ini. Sekarang tidak ada lagi alasan terlambat untuk melakukan yoga di rumah di pagi hari karena melakukannya sesudah matahari meninggi ternyata justru lebih efektif dalam membentuk otot dan membakar lemak. Aku menghabiskan hari dengan terus bebenah dan membaca. Kegiatanku di Ubud baru akan dimulai besok. Hari Sabtu?Lambang suasana semua-bisa-menunggu di Phi Phi Island, Thailand.
Aku tidak mengira sesudah mendarat di Bali ratusan kali, dan sesudah tinggal di Bali dua-setengah tahun ini, aku masih tetap merasakan istimewanya menghirup udara Bali untuk pertama kalinya waktu menapak keluar dari pesawat. Aku tidak bisa menahan senyum waktu berjalan menuju ruang pengambilan bagasi. Udara di Bali sedang cerah tetapi tidak panas. Sempurna karena tadinya aku berpikir Bali sudah memasuki musim hujan seperti kata beberapa kawanku di Ubud melalui surat-elektronik.Aku menunggu sepupuku satu jam lamanya di tempat penjemputan. Aku menahan diriku untuk tidak berkomentar mengenai keterlambatannya. Aku percaya ada hal-hal tertentu yang tidak perlu kita tahu alasannya karena kita tidak dapat mengubah situasinya bagaimanapun juga. Aku berhasil, bahkan tidak memikirkannya. Aku memakai waktuku untuk minum sebotol air sambil mengamati wisatawan domestik yang datang dalam kelompok-kelompok besar. Rupanya ‘musim liburan’ untuk wisatawan domestik baru dimulai. Pasti karena tawaran harga tiket pesawat yang menggiurkan. Boleh juga kiat menurunkan harga tiket untuk tetap mengaliri Bali dengan wisatawan. Menyenangkan melihat itu.Aku berbelanja kebutuhan dapur dan bersantap siang bersama sepupuku sebelum menyetir kembali ke Ubud. Indahnya cuaca sampai aku tidak mau terburu-buru melewatkannya. Rumahku baik-baik saja, tidak ada hal-hal yang mencurigakan di dalam rumah. Hal-hal yang mencurigakan yang aku maksud seringnya berasal dari binatang yang bersembunyi lalu muncul saat aku tidak berada di rumah. Aku membersihkan rumah selama satu jam lebih sebelum ibu pijitku tiba pukul 17:00. Aku memutuskan untuk membengkelkan badanku sebelum memulai hari di Ubud besok. Aku sudah mulai membayangkan apa saja yang ingin aku lakukan. Yoga? Membereskan keuangan di bank gara-gara heboh urusan pembobolan mesin ATM belakangan ini? Bertemu teman? Sesi malam di studio yoga? Ah hidupku di Ubud sudah mulai lagi!Kaki kami di Istana Bang Pa-In, Bangkok.
Aku berpikir waktu kawanku menganjurkan aku untuk lebih ‘hidup’ di pagi hari untuk mengawali hari yang ceria. Hm. Aku baru sadar kalau di kebanyakan pagi aku menjadi pendiam karena aku justru masuk ke gua pikiranku, menggodok apa yang hendak aku lakukan hari ini. Kebanyakan ide berkumpul waktu aku bangun pagi dan dalam proses pengolahan ide-ide itu aku masuk kedalam gua sehingga untuk kebanyakan orang aku kelihatan tidak ‘hidup.’Kemarin aku melewatkan hari di rumah saja bersama sanak saudara. Keponakanku masih libur jadi kami mempunyai kesempatan berbincang, juga waktu bibi dan paman datang lalu bergabung santap siang. Diantara waktu bersama sanak saudara, aku masih sempat meneruskan membaca buku yang menarik itu, dan melakukan riset untuk memilih kamera semi-pro di internet. Perjalananku kali ini telah menginspirasiku untuk mulai berkarya foto dengan menggunakan kamera yang lebih 'serius' daripada kamera saku yang sebetulnya sudah memuaskan bagiku. Banyak kawanku percaya, aku bisa menghasilkan karya yang lebih dengan peralatan yang lebih baik. Baiklah.Kawan dekatku yang memiliki sebuah persinggahan libur di daerah Batu menghubungiku semalam. Aku tidak ingat kalau dia sedang berada di Malang. Tadi pagi aku datang ke proyek mega dia sejak tiga tahun belakangan bersama rombongan besarku yang berjumlah delapan orang. Ya; bibi, paman, sepupu, keponakan, dan teman kecilku aku ajak semua. Aku senang berbagi hal-hal yang menimbulkan inspirasi dengan orang-orang dekatku. Aku juga perlu inspirasi besar itu, jadi bersama orang lain gelombang inspirasi itu akan terasa hempasannya.Sobatku semasa kuliah sejak hampir tigapuluh tahun ini hampir tidak pernah pergi dari kehidupanku. Kami saling mengikuti tahapan kehidupan masing-masing, sejak dia menapak pekerjaan dari tahap yang paling rendah sampai paling tinggi, sampai dia memutuskan berhenti bekerja di perusahaan orang dua tahun yang lalu. Dia mengatakan dia sudah sampai tahap dimana dia tidak bisa lagi mendengar teguran dari atasan. Aku sudah terlalu tua untuk itu, katanya. Aku mengerti apa yang dia maksud.Dia melakukan investasi di waktu yang tepat. Baru setengah proyek berjalan tetapi sudah bisa menghasilkan pendapatan untuk investasi pengembangannya. Kawanku menggiring kami melakukan peninjauan ke beberapa sudut propertinya. Dia memberi keterangan mengenai konsep persinggahannya dan harapannya di masa depan. Aku menikmati keterangannya, seperti cambuk kecil-kecil yang mencambukiku. Di satu titik dia mengingatkanku, kalau aku adalah orang yang mempunyai banyak ide besar, dan aku mengingatkan dia kalau dia adalah orang yang mempunyai ide besar sekaligus pelaksana ide yang baik. Apa yang bisa aku petik dari contoh ini?Kami menyelesaikan kunjungan itu dalam dua jam. Aku menceritakan mengenai perjalanan perjuangan kawanku dari bawah sejak dua puluh tahun yang lalu sambil menyantap hidangan siang di sebuah rumah makan kegemaran kami di kota Batu. Senang mempunyai kesempatan berkumpul lagi dengan para saudara. Waktu seperti ini tidak sering kami dapatkan, tapi setiap kesempatannya selalu menyenangkan. Di rumah, kalau ada aku, seperti ada pesta kecil terus-menerus. Yu Sih yang sudah mengabdi di rumah keluargaku lebih dari dua puluh tahun selalu membuat masakan kesukaanku, setiap hari. Bibi membakar berloyang-loyang kukis coklat kegemaranku, untuk aku bawa pulang, sejak kami kembali dari bepergian. Dan baru saja keponakanku mengumumkan menu istimewa untuk malam ini karena kami semua akan berkumpul lagi: pencuci mulut yang dibuat dari pepaya. Aku tidak bisa menerka! Pemandangan dari kolam renang persinggahan libur milik kawanku.
Aku menggumam sendiri dalam perjalananku dengan pesawat kelima dari enam yang bakal aku selesaikan dalam tigabelas hari lusa. Aku sudah rindu kehidupanku di rumah tapi aku ingin membuat perjalanan ini lengkap dengan mengunjungi keponakanku di Malang sebelum pulang. Kemarin adalah hari ulang tahunnya, seperti ritual tahun sebelumnya, kami menghabiskan waktu bersama. Aku menikmati.Aku masih setengah bingung tadi pagi. Seperti yang aku bilang, aku bukan petualang sejati karena aku masih sering merasa tidak nyaman berada di situasi yang tidak menentu dimana itu sebetulnya adalah bagian dari sebuah petualangan. Aku merasa tidak pasti karena aku belum mempunyai tiket untuk ke Malang. Aku masih bimbang antara ingin tinggal lebih lama di Jakarta, keinginan untuk pulang, dan mampir di Malang sebelum pulang. Aku bukan praktisi ‘nikmati waktumu sekarang’ dalam hal ini.Apapun, buku yang menemaniku selama perjalanan ini sesuai dengan ‘tema’ perjalananku. Aku mendapatkan buku The Geography of Bliss karangan Eric Weiner ini dari pasangan kawanku di Bangkok sebagai hadiah ulang tahun. Mereka mengundangku untuk merayakan ulang tahunku bersama mereka di Phnom Penh tetapi aku memutuskan tidak pergi karena penerbangannya tidak langsung dari Denpasar. Aku menghargai ide mereka yang manis sekali untuk bersamaku di hari ulang tahunku yang istimewa tahun ini. Menurut kepercayaan orang Cina, tahun ini usiaku adalah angka keberuntungan. 8!Ya, buku itu menarik sekali. Ringan dibaca karena topiknya, dan menyenangkan dibaca karena cara penulisannya yang penuh humor. Penulisnya adalah jurnalis Amerika yang bekerja di daerah yang ‘unhappy’ yaitu di Irak, Afghanistan, dan… Indonesia. Sedih juga karena Indonesia tidak merupakan negara yang dia teliti untuk penulisannya mengenai ‘pengukuran kadar kebahagiaan’ tetapi langsung masuk di kategori ‘tidak bahagia.’
Sampai saat ini aku sudah membaca mengenai situasi ‘kebahagiaan’ di dua negara: Belanda dan Swiss. Menarik sekali bagaimana penulis ini benar-benar merencanakan perjalanannya ke sepuluh negara untuk mencari tahu apa yang bisa membuat satu bangsa merasa berbahagia. Dan lucunya, paling tidak di Belanda, ada profesor yang khusus meneliti ‘tingkat kebahagiaan’ orang Belanda. Lembaga penelitian ini bernaung dibawah sebuah universitas jadi paling tidak tingkat keilmiahan penelitiannya tinggi. Penulis tidak terlalu lama berkutat dengan data dalam angka. Dia berusaha mengerti bagaimana faktor-faktor penentu kebahagiaan ini dinilai dalam angka. Studinya jadi mirip studi antropologi karena dia melihat bagaimana budaya sebuah bangsa dibandingkan dengan budaya dari bangsa lain.Aku belum selesai membaca mengenai bagaimana tingkat kebahagiaan di Swiss diukur tapi aku sudah membayangkan kebenaran tulisan penulis ini karena kawan kentalku di Ubud berasal dari Swiss. Meskipun dia sudah meninggalkan Swiss sekitar empat puluh tahun tetapi dia masih mampu melihat orang Swiss dari kacamata orang Swiss. Aku merasakan kebenaran ceritanya dari buku ini. Kadang-kadang aku mengulum senyum karena penulis bisa begitu lucu dalam menggambarkan sebuah tingkah polah orang. Aku salut akan kesensitifan dia menulis sesuatu yang pelik yaitu mempelajari tingkah laku orang dalam waktu singkat. Hidung jurnalisnya masih tajam di bidang lain. Singkatnya, dia memang mempunyai wawasan yang dalam dan luas sebagai seorang penulis.Aku membayangkan kawan-kawan yang baru kujumpai lagi di perjalananku. Kawan perempuanku di Bangkok dan suami kawanku yang aku jumpai semalam adalah tipe orang yang selalu berbahagia di semua waktu. Meskipun kata orang tidak ada orang yang selalu berbahagia, yang ada adalah orang yang selalu nampak berbahagia. Tapi aku benar-benar menikmati waktuku bersama kawan-kawan dekat yang selalu nampak berbahagia itu karena mereka memberi enerji baik padaku. Sementara kedua kawanku itu mengatakan kalau aku telah membawa matahari bagi mereka karena aku bisa membuat mereka terbahak-bahak. Mudah-mudahan karena mereka juga melihat enerji baik terpancar dariku.Ya, aku menikmati separuh hari Minggu-ku di Jakarta dengan bermalasan dan terbahak-bahak dengan pasangan kawanku sambil santap malam semalam. Seperti kunjunganku yang sebelumnya di Jakarta, aku merasa cukup sesudah melakukan: istirahat, berbelanja keperluan, bertemu kawan baik. Selesai. Bahagia yang sederhana (apakah ini terjemahan dari simple pleasure?).Tampaknya kawan baikku menengarai rencanaku menghabiskan hari ulang tahunku secara serius. Aku tidak sadar. Kelihatannya aku telah memandang satu hari dalam tiga-ratus-enam-puluh hari dalam setahun ini begitu istimewa. Bisa jadi aku salah! Itu bukan ukuran tingkat kebahagiaan ha-ha.Pagi yang menyilaukan di Krabi.
Aku bertanya pada diriku sepanjang pagi ini. Aku bergerak tapi seperti zombi rasanya. Badannya berjalan tetapi pikirannya beku. Badanku remuk-remuk sejak bangun pagi. Semalam aku tiba di rumah pukul 1:00 dan naik ke tempat tidur satu jam kemudian. Pukul 6:00 tadi pagi aku sudah beredar lagi.Aku tidak bisa memutuskan apa yang aku mau saat ini. Aku mengatakan kepada kawanku betapa indahnya kalau mempunyai keinginan untuk berbelanja. Kemana keinginan yang dulu sulit aku hilangkan itu pergi? Aku mengamati penumpang pesawat dari Bangkok ke Jakarta semalam. Maskapai bujet dari Malaysia yang aku tumpangi ini ternyata murah hati sekali dalam hal berat barang yang boleh penumpangnya bawa, tidak seperti maskapai bujet dari Filipina yang biasa aku tumpangi.Yang pasti aku keheranan karena berat tasku menjadi lebih dari 20 kilogram dimana kelihatannya itu tidak mungkin terjadi. Aku hanya membawa tambahan tiga kantong-kering (dry bag) yang tidak aku temukan di Indonesia dan satu tas tangan dari perancang tekstil Amerika kenamaan di Thailand. Aku percaya berat belanjaan itu tidak lebih dari 5 kilogram. Apapun, yang pasti penumpang lain membawa bertas-tas yang ukurannya sama dengan tas berisi pakaian kotor yang aku masukkan bagasi. Luar biasa bahwa maskapainya membiarkan para penumpang membawa barang berbobot lebih dari 7 kilogram standar internasional untuk bawaan tentengan dalam kabin.Kembali ke pertanyaan semula kepada diriku? Kalau aku mempunyai energi dan kesempatan berbelanja di Bangkok, apa yang hendak aku beli? Beberapa kenalan baruku di Bangkok melontarkan pertanyaan mengenai apa saja yang sudah aku belanjai. Mungkin untuk kebanyakan orang, kunjungan ke Bangkok belum lengkap sebelum berbelanja. Temanku dari Perancis yang juga tinggal di Bali, yang aku temui di dalam pesawat, juga heran waktu aku mengatakan kalau aku menghabiskan dua hari di apartemen kawanku saja. Memang benar, aku hanya mengunjungi Ayutthaya pada hari pertamaku di Bangkok dan dua hari sisanya aku lebih dari senang menghabiskan waktu bersama kawan baikku di rumah saja. Kami berbicara tanpa henti sejak bangun tidur sampai aku berangkat ke bandara di sore hari.Aku belum mempunyai rencana untuk hari ini. Aku mempunyai beberapa keinginan dan ketidakinginan. Antara lain aku harus segera merencanakan perjalananku berikutnya yang kemungkinan aku lakukan sebelum dua minggu dari sekarang. Ide untuk bepergian selalu menarikku namun ide untuk tidur di tempat tidur sendiri juga selalu menggodaku. Thailand memang unik untuk urusan papan pemberitahuan.
Aku tersenyum di akhir hari bersama teman perempuanku kemarin. Kami melewati satu hari penuh bersama sejak bangun tidur sampai tidur malam. Aku tidak mempunyai rencana apa-apa jadi waktu kawanku keluar dari kamar tidurnya sekitar pukul 8:00, kami duduk di ruang tamu dan berbicara tidak ada habis-habisnya berjam-jam ditemani secangkir teh. Partnernya bergabung dan pembicaraan semakin seru sampai jam santap siang tiba.Kami memutuskan untuk pergi ke spa dekat apartemennya untuk pijit Thai selama sembilanpuluh menit sebelum santap siang. Kami tertawa-tawa terus sepanjang jalan. Kami beruntung karena mereka mempunyai kamar terpisah untuk kami berdua sehingga kami bisa bebas berbicara. Sembilanpuluh menit berlalu begitu saja, meskipun aku merasa lelah tetapi aku tidak terlelap. Pikiranku berjalan-jalan, mengadopsi ide baru berkarya yang aku dapatkan di pagi hari waktu kawanku menunjukkan buku fotografi untuk kesekian kalinya selama aku tinggal. Entah kenapa selama perjalananku kali ini aku banyak menjumpai hal-hal yang berkaitan dengan fotografi. Yang pertama, tentunya kawan-kawan seperjalananku yang gemar memotret. Lalu, kawan tempat aku menginap ini banyak mempunyai kawan fotografer dan buku-buku fotografi di apartemennya adalah hasil pertemanannya dengan para fotografer itu.Apapun, aku mengolah ideku ini selama sembilanpuluh menit diplintir seperti layaknya pijit gaya Thai. Di pagi harinya, kami berbicara mengenai ‘ketakutan’ kami untuk membuat resolusi tahunan karena kekuatiran kami atas ketidakmampuan kami untuk mewujudkannya. Selanjutnya kami membahas apakah sebetulnya kita perlu menyatakan tujuan hidup sehingga kita bisa menuju ke arah perwujudannya, atau, lebih baik kita diam-diam saja tanpa membuat pernyataan tetapi kami menuju ke arah perwujudan tujuan hidup kita? Kami membandingkan pengalaman masing-masing dan kawan-kawan yang kami tahu. Kami saling memuja dan memberi komentar atas pendapat satu sama lain. Kami menciptakan sebuah diskusi seru untuk mendapatkan jawaban yang kami cari dan belum kami temukan sampai akhir hari.Pembicaraan berlanjut di rumah makan sederhana di sebuah jalan dekat apartemen kawanku. Kami terus berbicara sambil meminum kopi di sebuah hotel besar di daerah yang sama. Waktu sudah menunjukkan pukul 6:30 waktu kami memutuskan untuk berjalan pulang karena kami akan menghadiri undangan santap malam untuk merayakan ulang tahun salah seorang kawan kawanku. Lagi-lagi seorang perekam momen tetapi kali ini adalah pembuat video perang yang selama masa karirnya menemui beberapa momen dimana ajalnya hampir berakhir. Kami datang ke undangan ini bersama dua fotografer yang baru datang dari Vietnam. Aku tidak percaya dalam delapan hari kunjunganku di Thailand, setiap hari aku dikelilingi oleh hal-hal yang berkaitan erat dengan fotografi.Pesta ulang tahun berlangsung menyenangkan. Aku berbicara dengan banyak pribadi menarik semalam itu. Bahkan dengan si empunya rumah yang berulang tahun. Waktu berada di taksi yang membawa kami pulang, kawanku berkata kalau si empunya rumah adalah pemalu dan jarang bercakap-cakap tetapi kawanku melihat kalau dia nampak santai berbincang denganku. Tentu, kami berbicang mengenai kegemaran kami mengkoleksi barang lama. Rupanya ada satu kesamaan yang membuat dia menjadi terbuka padaku. Aku berterimakasih kepada kawan perempuanku sebelum tidur untuk hari yang indah bersama. Dia masih asik di depan televisi yang menyiarkan pertandingan tenis. Dia mengatakan, aku seharusnya hidup satu kota dengannya. Aku tidak tertarik hidup di Bangkok tetapi ide untuk tinggal dekatnya sangat menggodaku. Dia termasuk kawan yang bisa memberiku energi baru, dan aku kawan yang bisa membuatnya tertawa terbahak-bahak, katanya. Jadi aku akan melanjutkan usaha intimidasiku untuk membuat dia tinggal di Ubud dalam waktu dekat. Aku sudah mencium aroma keberhasilan usahaku ini di hari pertama. Aku tidak akan menyerah.Kopi kami.
Temanku bertanya semalam, aku menjawab. Aku dan kawan-kawanku mendiskusikan tentang berapa lama sebaiknya kita merencanakan sebuah perjalanan selama perjalanan kami ke Ayutthaya kemarin. Sedari dulu aku lebih suka merencanakan perjalanan singkat untuk perjalanan melihat-lihat tempat, untuk perjalanan santai dimana kami hanya menghabiskan waktu bersantai, bisa tinggal lebih lama. Yang pertama, kalau perjalanannya terlalu lama, sensasi pengalaman di hari-hari pertama menghilang karena tertumpuk sensasi berikutnya. Yang kedua, badan kita lelah sesudah mengalami beberapa sensasi baru sehingga tidak bisa menikmati lagi sensasi yang datang di hari-hari terakhir kita tinggal. Seperti waktu kemarin kami berada di mobil hampir dua jam waktu berangkat dan dua jam waktu kembali (untuk aku tiga-setengah jam malah untuk sampai di apartemen kawanku), kami semua jadi beku. Ternyata, lebih mudah merencanakan liburan diatas kertas, karena kelihatan mudah dijalani.Meskipun lelah, kami tetap menikmati Istana Bang Pa-In tujuan pertama kami. Kami tiba waktu matahari sudah tinggi dan dekat makan siang. Setengah menyeret kaki, kami menapaki kompleks istana yang hijau asri itu. Bangunan dan patung-patungnya bergaya campuran Thai dan Eropa jadi di beberapa tempat kami tidak merasa seperti berada di Asia. Kawan-kawanku seperti biasa sibuk mengambil foto. Kebetulan tidak terlalu banyak turis di kompleks ini sehingga foto-foto hasil jepretan kami bisa nampak hening. Aku tidak begitu eksploratif kali ini, matahari sudah melumpuhkan sebagian semangatku, tetapi aku tidak keberatan menjadi model percobaan kawanku yang memotretiku karena blus merahku baik untuk komposisi. Menurut mereka. Apapun, aku membiarkan diriku lebih bebas sampai kawan baikku menyentil kenapa aku terlihat riang kemarin.Seperti di Indonesia, sejarah mengenai satu tempat tidak ditulis dalam Bahasa Inggris sehingga kami harus mereka-reka sendiri sejarahnya. Dengan bantuan Google! Istana Bang Pa-In adalah istana musim panas Raja Rama V di akhir abad 18, jadi masih relatif baru. Di situsnya disebutkan juga kalau Raja sengaja membangun beberapa bagian istana, bahkan kuilnya, bergaya Barat untuk menciptakan sesuatu yang baru dan orisinil. Tapi memang menarik istana ini. Ada bagian yang mengingatkan kami pada salah satu merek furnitur dari Itali yang bergaya barok. Gaya Eropa-nya kelihatan mencuat dari keseluruhan nuansa Thai di istana ini.Perjalanan dilanjutkan dengan pencarian hidangan Muslim untuk kawan-kawanku. Ternyata hidangan Muslim tidak mudah didapatkan di beberapa tempat di Thai. Para Muslim keberatan mencoba hidangan Thai karena mereka juga memasak babi. Restoran India bisa menjadi pilihan tetapi tidak setiap saat kami ingin menyantap hidangan yang sarat bumbu dan rasa itu. Jadi kami lega waktu pengemudi akhirnya menepi di sebuah stan makanan di tepi jalan yang pemilik stannya mengenakan jilbab lengkap dengan tutup wajah. Pad thai-nya enak dan porsinya mungil, tepat untuk aku. Pengemudi kami berbaik membelikan kami dua wadah nasi a la Hainam tetapi dengan rasa kari dari restoran di seberang. Kami puas dengan santap siang kami yang seadanya karena… kami semua sudah siap tumbang sejak keluar dari Istana Bang Pa-In.Perjalanan dilanjutkan ke tujuan utama kami, kota tua Ayutthaya. Ayutthaya, dulunya bernama Siam, adalah ibukota dari Thailand selama sekitar 400 tahun di abad 13. Salah satu obyek wisata terkenal di kota ini adalah Wat Chaiwatthanaram, kompleks candi yang terbuat dari batu bata terakota seperti candi-candi jaman Majapahit di Trowulan, Jawa Timur. Reruntuhan candi di kompleks ini masih nampak kokoh meskipun beberapa stupa nampak miring. Arsitektur candi ini dipengaruhi oleh Khmer sehingga buat yang pernah mengunjungi Kamboja, bentuk candi ini tidak asing lagi. Yang paling ideal untuk melihat kota ini adalah menaiki sepeda keliling kota karena peninggalan arsitektur dari jaman itu tersebar diseluruh kota, mirip di Siem Reap, Kamboja. Namun kami puas bisa menikmati keindahan bangunan oranye ini dan tentunya mengambil foto dari berbagai sudut.Aku terdiam berusaha menikmati lalu lintas yang berhenti di dalam kota Bangkok, dalam perjalanan kembali ke apartemen kawanku sesudah menurunkan kawan-kawanku di penginapannya. Kunjungan ke Thailand-ku sudah selesai. Perjalanan wisataku berikutnya bisa tanpa singgah di negara ini.Phra Thinang Aisawan Thiphya-Art adalah paviliun bergaya Thai dengan empat teras dan atap bersusun yang dibangun oleh Raja Chulalongkorn di tengah kolam sisi luar Istana Bang Pa-In, di tahun 1876.
Terimakasih dalam Bahasa Thai. Aku tidak tahu persis bagaimana menulisnya karena Bahasa Thai tidak ditulis dalam tulisan latin kita. Tetapi itu ‘lagu’ yang aku dengar. Jawabannya pun mudah Kaa… Aku mulai terbiasa mengatakannya dan mereka kelihatan senang kalau aku meluangkan waktu untuk mengucapkan terimakasih dalam bahasa mereka, dengan benar.Orang Thai berwajah ramah meskipun mereka tidak mengerti apa yang kita maksud. Berkomunikasi dengan mereka ada tantangannya sendiri. Kalau putus asa, mereka terbahak-bahak sendiri, dan aku tersenyum-senyum berusaha mencari jalan untuk bisa dimengerti. Pengemudi taksiku ke bandara tadi pagi berbicara dalam Bahasa Inggris yang baik. Dia memberi aku kartu nama untuk perjalananku ke Krabi berikutnya. Aku ingin kembali tetapi aku belum tahu kapan. Aku menghargai usaha dia.Ada beberapa hal yang aku perhatikan dari orang Thai. Banyak dari mereka menggunakan tangan kirinya, artinya tidak seperti di Jawa, dimana pengguna-tangan-kiri ‘dipaksa’ oleh kultur untuk menggunakan tangan kanan. Itu terlihat juga dari cara orang Thai menerima dan memberi dengan menggunakan tangan kiri tanpa canggung. Mengejutkan untuk orang Jawa seperti aku. Aku berpikir untuk tidak mengikuti cara mereka tapi aku juga berharap tangan kanan tidak berarti ‘tidak baik’ untuk mereka. Hal lain, aku juga harus memperhatikan letak tangan dalam ‘sembah’ sebagai tanda berterimakasih karena tangan harus berada minimal setinggi tenggorokan, tidak dibawah itu.Meskipun Krabi adalah kota kecil yang sarat wisatawan seperti di Ubud, tetapi ternyata bandaranya baru dan modern. Seperti kebanyakan bandara sekarang yang menggunakan konstruksi metal. Kelihatannya bandara ini tidak terlalu sibuk (pintu domestiknya hanya ada tiga) tetapi bandaranya mengakomodasi penerbangan internasional juga. Aku melihat hanya ada dua konter dua maskapai utama, maskapai nasional dan maskapai bujet dari Malaysia yang aku tumpangi ini. Ada juga beberapa maskapai bujet lokal yang tidak aku kenal namanya. Diluar aku bisa melihat rimbunan hutan kecil dan pegunungan sebagai latar belakang. Indah sekali, mirip bandara di Malang dan Bandung.Waktu menunggu konter dibuka, aku sempat berbincang-bincang dengan pasangan muda dari Jerman yang berwisata setengah-berpetualang. Mereka tinggal di Thailand selama satu bulan sampai hari Jumat lusa. Mereka bercerita mengenai gaya hidup backpacker-klasik (istilah mereka) yang sudah tidak seperti gaya backpacker di masa lalu (dimana aku sebetulnya tidak tahu bedanya backpacker dulu dan sekarang). Mereka sekarang hidup lebih bebas dalam arti yang sebebas-bebasnya. Aku tidak ada ide mengenai hal itu. Aku bukan backpacker meskipun aku bisa berwisata tanpa perlu embel-embel kenyamanan ekstra. Lalu pasangan itu menceritakan pengalaman mereka menaiki bis di Thailand yang tidak seperti mereka bayangkan mengenai ‘standar naik bis.’ Pengalaman mereka adalah naik bis tanpa pendingin, penumpang lain minum minuman keras, dan merokok di toilet. Aku jadi was-was mengingat keempat kawanku menaiki bis dari Krabi menuju Bangkok malam ini, yang perjalananannya ditempuh dalam waktu duabelas jam. Aku merasa tidak enak telah meninggalkan mereka tetapi saat ini aku tidak siap menantang diri untuk duduk selama duabelas jam, apalagi kalau kata wisatawan Jerman itu benar mengenai bis di Thailand. Mudah-mudahan mereka baik, aku baru bisa mendengar komentar mereka besok pagi.Aku tiba di apartemen kawanku di Bangkok di sore hari. Jalanan di Bangkok mirip di Jakarta, serba tidak pasti karena arus lalu lintas bisa berhenti sama sekali tanpa ada sebab yang jelas. Aku beruntung bisa bertemu dengan kawan pasangan ini di Bangkok karena biasanya mereka banyak melakukan perjalanan keluar negeri sebagai bagian dari pekerjaan mereka sebagai jurnalis media ternama di Amerika. Kami tidak berjumpa hampir tiga tahun lamanya sehingga dua jam tidak cukup untuk menyamakan cerita kehidupan kami tiga tahun terakhir. Kami menghadiri undangan makan malam di rumah teman baik kawanku ini. Kami menghabiskan waktu hampir lima jam disana karena cerita seperti mengalir tidak ada habisnya. Kawan kawanku ini adalah jurnalis foto untuk satu media Amerika terkenal yang ditugaskan di Pakistan. Banyak cerita menarik dari pekerjaannya. Aku sudah tidak bisa berpikir dengan baik dua jam terakhir karena ingin beristirahat. Hariku panjang. Terasa penuh namun menyenangkan.Matahari terbenam dari teras apartemen kawanku di Bangkok.
Aku kelelahan mereka-reka kalimat yang mudah dimengerti oleh resepsionis hotel kami di Krabi. Menurut kawanku, mereka berani menaruh orang yang tidak bisa berkomunikasi dalam Bahasa Inggris di garis depan usaha hotel mereka. Kawanku benar tetapi aku perhatikan tidak banyak orang yang mengerti Bahasa Inggris sederhana disini. Jadi kami berlaku seperti Tarzan di banyak tempat dan kalkulator membantu untuk menawar barang di toko. Selebihnya, luangkan kesabaran saja.Hotel kami di Krabi jauh lebih baik kamarnya daripada hotel kami di Phuket. Satu hal saja, koneksi internet di kamar sempat terganggu karena jaringan rusak, katanya. Tadi pagi aku pergi ke warung internet di seberang jalan untuk memeriksa email dan mengunggah pos blogku hari ini. Aku termangu-mangu karena Google dan program yang mereka pakai memakai bahasa lokal dengan tulisan keriting jadi aku kembali harus menebak-nebak. Kibordnya pun bertanda tulisan keriting itu. Jadi ada tantangan untuk mengira-ira.Hari ini kawan-kawanku mengikuti wisata bahari satu hari ke empat pulau di sekitar Krabi. Mereka ingin berenang lagi. Aku menyerah, tidak berminat bergabung dengan mereka terutama karena matahari disini lebih terik daripada di Phuket. Aku mengambil wisata setengah hari di siang hari mengunjungi Kuil Gua Harimau (Tiger Cave Temple) dan air terjun air panas (tanpa nama). Pemandu wisata menjemputku sebagai orang ke-13, terakhir, di hotel pukul 13:00. Mini-van yang kami tumpangi nampak baru dan mewah, jalannya halus dan lancar. Kuil yang dituju jaraknya sekitar empatpuluh menit dari hotelku. Kami kebingungan waktu pemandunya mengatakan kalau waktu kami untuk melihat kuil hanya satu jam. Kami tidak tahu tata letak kompleksnya karena tidak ada peta dan panduan dari kuil maupun pemandu kami. Akhirnya kami hanya menduga-duga saja apa yang bisa kami kunjungi. Ada beberapa gua di kompleks itu dimana para biksu bermeditasi. Konon jumlah mereka mencapai 250. Gua-gua di dinding karang itu dapat dicapai menggunakan tangga. Salah satunya sebanyak 1.237 anak tangga. Aku bersama satu keluarga dari Finlandia berusaha menaikinya tapi kami berhenti di anak tangga ke 163, nomornya tertera di pegangan tangan setiap pemberhentian. Aku ingin menaikinya tetapi waktu satu jam yang diberikan nampaknya terlalu singkat untuk memaksa tubuh keatas dan turun. Kami berjalan kembali. Tangganya curam sekali dan banyak monyet di sekitarnya. Monyet-monyet itu nampak tidak peduli tapi kita tidak pernah tahu apa yang ada di pikiran mereka sehingga aku menghindar kontak mata dengan mereka. Mereka aktif sekali melompat dan bercengkerama dengan kawan-kawannya.Akhirnya aku meluangkan waktu untuk berdoa di hadapan Dewi Kwan-Im sesuai tata cara agama Buda dengan menggunakan dupa dan lilin, dan setangkai bunga sebagai persembahan. Seorang Ibu dari Inggris meminta aku mengambil foto beliau waktu sedang berdoa, kemudian beliau menawarkan mengambil fotoku. Kami tidak mengerti bagaimana urutannya karena tidak ada yang menjelaskan kepada kami. Lagi-lagi semua petunjuk ditulis dengan tulisan Thai.Tujuan berikutnya adalah air terjun air panas yang jaraknya sekitar empatpuluhlima menit dari kuil tersebut. Kompleks air terjunnya sangat bagus, tertata rapi, mengingatkanku pada kebun raya mini di Ubud. Airnya tidak terjun setinggi yang aku bayangkan, lebih mirip sungai kecil yang berarus deras. Suhu airnya mencapai 40-42 derajat Celcius, nampak asap tipis di atas air. Aku telah membawa pakaian ganti kalau aku ingin merendam tubuh tapi aku urung turun ke air karena waktu yang diberikan hanya tiga puluh menit. Aku hanya duduk di batu dan merendam kakiku sampai sepaha. Airnya luar biasa panas, seperti membuka pori-pori sampai ke wajah. Badanku terasa panas setelah beberapa saat.Aku hampir terlelap waktu perjalanan kembali. Kami semua terdiam. Matahari bersinar terik di luar sedangkan suhu di mobil sangat sejuk. Aku senang kembali ke hotel, mendapati kawanku sudah kembali dari petualangan mereka di empat pulau, dan koneksi internet sudah dapat digunakan meskipun tidak lancar!Monyet di Kuil Gua Harimau.
Kami termangu di lobi hotel kami di Krabi kemarin. Setelah melewati hampir empat jam perjalanan dari Phuket dengan suasana mirip jalan trans Sumatra (kata kawanku yang pernah melewatinya), kami mendapati hotel tempat kami menginap mirip gaya hotel di Cirebon. Kami baru mengetahui kalau hotel yang dipesan kawanku melalui internet ini letaknya cukup jauh dari pusat keramaian di tepi pantai, Ao Nang. Seperti membeli kucing dalam karung, memesan hotel melalui internet bisa memberikan kejutan. Kejutan lain sudah kami dapatkan sejak kami memulai hari. Kami membeli tiket perjalanan Phuket – Krabi di agen perjalanan dekat hotel kami di Phuket. Perjalanan kami ke Pulau Phi Phi hari sebelumnya berlangsung lancar sehingga kami memakai agen yang sama untuk mengatur perjalanan lewat darat ke Krabi yang jaraknya sekitar 120 kilometer dari Phuket.
Kami masih menyantap setengah sarapan kami waktu mobil datang menjemput. Mobilnya tua dengan pernak pernik yang ramai; gorden berumbai berwarna hijau, tempat duduk yang joknya sudah sobek di sana-sini, dan pesawat televisi rusak yang ujungnya bisa menghantam kepala yang tidak berhati-hati melewati bawahnya. Aku duduk di bawah televisi itu. Mobil tiba dengan tiga penumpang sekeluarga dari Australia. Wajah mereka nampak masam karena kami berlima masih berhamburan dengan barang-barang kami karena kami baru dari tempat makan. Karena bagasi telah penuh terisi koper penumpang sebelumnya, sebagian besar koper kami diletakkan di atap luar mobil! Dan… tidak diikat! Aku terdiam, menyimpan kekuatiranku. Waktu mobil berjalan menjemput tiga orang lagi, kami berkesempatan melihat pantulan di kaca jendela toko tas kami masih aman di tempat. Untung sebelum akhirnya memulai perjalanan, tas kami diikat tali.
Oleh agen perjalanan tempat kami membeli tiket, disampaikan kalau kami akan dijemput di hotel dengan mobil kecil, lalu dipindahkan ke bis, dan sesampai di Krabi akan diantar ke hotel dengan mobil kecil lagi. Kami sempat mengernyitkan dahi mendengarkan pengaturan rumit untuk perjalanan nan singkat tapi tidak berkata apa-apa. Tiba-tiba waktu berlalu satu-setengah jam; belum ada tanda-tanda kami akan dibawa ke terminal bis untuk dipindahkan. Pengemudinya kalau ditanyai selalu mengelak menjawab, entah karena tidak mengerti Bahasa Inggris atau memang ‘ada sesuatu.’ Sesudah dua jam berlalu, waktu kami berhenti untuk ke toilet, aku bertanya kepada keluarga Australia itu untuk mengetahui untuk pelayanan apa mereka telah membayar. Lebih parah! Mereka membayar untuk naik kapal yang harga tiketnya bisa dua kali dari apa yang kami bayarkan. Akhirnya, kami semua tertawa. Tertipu bersama!
Di sisa perjalanan, kami tidak menggerutu lagi. Sudah pasrah. Aku membayangkan isi tasku yang membara karena panas matahari di atap mobil, aku punya vitamin dan krim perawatan tubuh. Ternyata, kawanku lebih kuatir lagi mengenai keselamatan tas sampai di tujuan. Belum lama diskusi kami berakhir, perjalanan dinyatakan berakhir di satu tempat yang konon sudah di daerah Krabi. Tempat ini seperti tempat makan tetapi luas dan terlihat banyak orang asing menunggu sesuatu yang tidak jelas di tempat ini. Rupanya ini pusat perpindahan transportasi untuk wilayah Krabi. Disini kami dipindahkan ke mobil yang membawa kami ke hotel, mobil tanpa pendingin. Semuanya membingungkan karena mereka berbicara dengan Bahasa Inggris yang minimal dan kami belum mengerti sistem transportasinya. Kami hanya bisa saling mengucap Have fun! kepada sesama wisatawan.
Krabi ternyata indah sekali. Karang tinggi menjulang terlihat sepanjang jalan menuju ke Pantai Ao Nang. Kami menempuh sekitar duapuluh menit untuk sampai di pusat keramaian yang rapi tertata itu. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Aku bisa membayangkan aku menghabiskan waktu untuk liburan di tempat ini meskipun secara umum suasananya tidak berbeda dengan pantai-pantai di Bali. Tetap terasa berbeda!
Kami menghabiskan sore hari di sekitar pantai, menikmati makan siang, dan minum kopi di sore hari. Dan sesudah itu, kami bersama-sama memotret matahari terbenam dari perbatasan jalan dan pantai. Pantai nampak indah dengan kapal-kapal berlalu lalang. Beberapa hari ini aku menggali fitur kamera sakuku yang ternyata lumayan ragamnya. Kawanku dengan sabar mengajariku memakai beberapa fitur yang serupa di kamera semi-profesionalnya. Jadi matahari terbenam menjadi percobaan kami semua. Aku baru menyadari ternyata matahari tenggelam lumayan cepat sehingga kami tidak mempunyai waktu cukup banyak untuk bermain-main dengan kamera kami.
Kawan-kawanku memang luar biasa! Mereka benar-benar mempunyai kegemaran mengambil foto. Aku bisa merasakan sensasi bermain dengan kamera meskipun hanya menggunakan kamera saku. Aku mulai menimbang untuk mulai belajar fotografi secara lebih serius. Beberapa kawanku percaya aku mempunyai ‘mata’ untuk komposisi yang bagus, yang aku percaya juga. Mungkin waktunya sudah mendekat gara-gara perjalanan ini!
Matahari terbenam di Pantai Ao Nang, Krabi, hasil jepretanku.
Teman baruku yang duduk di kursi belakang bertanya kepadaku waktu perjalanan kami kembali ke hotel dari wisata kemarin. Aku pasti nampak lelah dan memang aku tidak enak badan di mobil yang membawa kami. Kelihatannya aku lupa minum air cukup banyak terutama sesudah makan siang. Kami menghabiskan satu hari penuh di pantai sekitar Pulau Phi Phi yang terkenal itu. Kami mengambil paket wisata satu hari yang dimulai pukul 8:00 dan berakhir pukul 18:00.Wisata dimulai di satu pelabuhan kecil yang khusus disediakan untuk wisata bahari di Pulau Phi Phi. Jaket penyelamat, sepatu katak, dan peralatan snorkeling telah tersedia; bahkan lonjoran roti tawar untuk memberi makan ikan dan sendiri, kalau mau. Grup kami kebagian pemandu wisata berkebangsaan Inggris; masih muda, cekatan dan menguasai medan. Aku sempat terkejut karena tidak menduga melihat wajah asing sebagai tuan rumah wisata kami di Asia. Kapal kami bermuatan sekitar empat puluh wisatawan, satu pemandu wisata, pengemudi kapal, dan dua asistennya. Kapalnya nampak baru dan bersih, dilengkapi dengan kotak pendingin berisi botol air minum dan minuman karbonat; dan di siang hari aku mendapati dua kotak irisan nenas dan semangka. Ya, aku yang mendapati pertama kali lalu membukanya sebelum seluruh kapal ikut menyerbu potongan buah-buahan itu sampai ludes.Perjalanan sektor pertama hanya memakan waktu sekitar tigapuluh menit. Aku masih menikmati udara laut waktu kami berhenti di Pulau Telur Mata Sapi (yang dinamai karena bentuknya). Di pulau ini kami berhenti sekitar empat jam untuk memberi kesempatan para penumpang berenang dan snorkeling. Matahari sudah tinggi waktu kami merapat di pulau ini. Banyak sekali orang di dalam air; dari grup kami, dan grup-grup yang lain. Luar biasa! Aku pusing membayangkan berenang tetapi tidak bebas mengayuh karena padatnya laut. Aku menyempatkan berjalan-jalan sebentar lalu kembali ke tempat teduh dibawah payung lebar. Matahari terlalu panas dan silau untukku.Sedari awal aku tidak merencanakan untuk masuk ke air karena laut memang bukan ‘daerah’ku tetapi keempat kawanku semua sudah siap untuk masuk air. Melihat gadis berkerudung berpakaian renang adalah hal baru bagiku. Baju berenang mereka khusus, mirip baju menyelam, persis seperti pakaian berkerudung kecuali terbuat dari bahan spandex. Aku kagum pada ketahanan fisik mereka. Mereka mengenakan pakaian renang sejak berangkat dari hotel dan sepanjang perjalanan mereka duduk di dek terbuka di bagian depan kapal; tempat yang paling strategis untuk mengambil foto, kegemaran mereka.Setelah pemberhentian pertama sekalian makan siang, kami berlayar memutari kepulauan karang di sekitar Pulau Phi Phi berpasir halus dan putih itu. Aku menikmati pulau-pulau berkarang yang tidak aku nikmati di Indonesia. Airnya bening sehingga ikan nampak dekat di permukaan. Para penumpang sibuk melempar roti yang langsung diserbu oleh ikan-ikan itu. Kami berhenti dan turun di dua teluk (salah satunya berhutan dengan monyet), lalu berlayar pelan memutari pulau-pulau karang itu menikmati perairan di daerah itu. Cuacanya bagus karena tidak ada awan dan hawanya tidak lembab. Sebetulnya matahari juga tidak bersinar terlalu terik tetapi aku melihat kawan-kawanku sudah berubah warna.Aku senang telah menghabiskan waktu di pantai dan melihat pulau-pulau karang yang tidak aku jumpai di Indonesia, tetapi aku berpikir apakah aku hendak menjalani wisata serupa di Krabi besok? Kawanku bilang ini liburan, jadi sebaiknya aku mengikuti semua program. Namun aku juga berpikir, liburan adalah pilihan. Aku punya pilihan apa yang hendak aku lakukan.Ketika kami melewati teluk tertutup di perairan Pulau Phi Phi.
Aku menggumam sambil melihat keluar jendela di perjalanan dari bandara menuju hotel kami di Phuket kemarin. Kawan baruku di belakang mengiyakan. Kombinasi antara hutan kecil dan rumah atau toko diantaranya memberi suasana seperti di Kalimantan atau kota-kota di Indonesia bagian timur. Tentu kondisi infrastrukturnya berbeda, jalannya mulus, dan mobil-mobil yang lalu lalang nampak modern. Aku banyak melihat Jazz!Aku sempat bersin di pagi hari dan hidung langsung basah. Aku agak panik karena mendengar satu kawan baruku terkena flu beberapa hari sebelum keberangkatan jadi aku langsung meminum obat untuk menangkal flu. Aku tertidur nyenyak hampir satu setengah jam di perjalanan dua setengah jam antara Jakarta dan Phuket. Aku merasa segar dan sehat waktu mendarat. Ternyata letak Thailand tidak sejauh yang aku duga bila diterbangi langsung dari Jakarta. Di masa lalu, kita harus terbang melalui Singapura sehingga membuat perjalanan ke Thailand menjadi perjalanan yang memakan waktu sehari.Ini kunjungan keduaku di Thailand. Kunjungan pertamaku adalah di akhir tahun beberapa hari sesudah terjadi tsunami di daerah Phuket tahun 2004. Waktu itu aku hanya menjelajahi kota Bangkok. Aku suka ke pantai tapi aku lebih memilih mengunjungi tempat-tempat kultural bila bepergian ke satu tempat untuk pertama kalinya jadi kunjunganku ke Phuket dan besok ke Krabi ini tepat, kunjungan kedua ke Thailand yang non-kultural. Aku mendapat kawan yang gemar mengambil foto dan berenang di pantai melihat koral untuk menemaniku mengunjungi salah satu tujuan wisata terkenal di Asia. Kalau tidak, jangan-jangan aku tidak akan pernah bisa membayangkan tempat lain semacam Bali, yang sama terkenalnya.Hotel kami terletak agak jauh dari pusat keramaian. Kami harus menaiki tuktuk untuk bisa ke pantai utama tempat keramaian berada, seperti di Pantai Kuta dan Seminyak di Bali. Kawanku yang mengenal Thailand luar-dalam sempat memberiku sekilas pandang mengenai tempat-tempat yang akan aku kunjungi. Bahwa Phuket pun seperti Bali, mempunyai beberapa pantai dengan karakter yang berbeda-beda. Ada yang komersial dan ada pula yang eksklusif. Yang menarik buat aku adalah melihat bagian dimana kebanyakan orang menghabiskan liburannya, bukan di bagian yang eksklusif, karena tempat eksklusif menurutku cenderung ‘tidak berkarakter lokal.’ Artinya, karena keindahan tempatnya dan karakter pengunjungnya, maka pantai eksklusif di Phuket bisa terasa sama seperti di pantai-pantai eksklusif di belahan dunia lain. Apapun, aku senang melihat banyaknya orang berkeliaran di daerah ini. Kami menghabiskan sore hari dengan berjalan menyusuri pantai diantara keramaian mencari makan siang sekalian makan malam. Dari kami berlima, tiga kawan membawa kamera semi-profesional sehingga kami banyak berhenti untuk mengambil foto. Aku belajar untuk berjalan kaki lebih pelan di perjalanan kali ini. Pengalaman baru. Aku tidak keberatan karena toh tidak banyak hal baru yang bisa dinikmati. Aku menikmati suasananya. ‘Indonesia’ di negara lain.Satu hal yang menyenangkan aku, disini aku tidak disangka sebagai orang Thai. Mereka langsung tahu kalau aku dari Indonesia. Paling-paling mereka memulai pembicaraan dengan Bahasa Melayu, mungkin karena melihat ketiga kawan kami yang berkerudung. Disini aku belajar lebih jauh mengenai Asia dan karakter orangnya.Suasana Pantai Patong di malam hari.
Aku bilang pada tetanggaku yang memburu aku ke tempat parkir waktu melihat aku tertatih-tatih membawa koperku yang besar tadi pagi. Tetangga baruku ini nampaknya selalu ingin tahu apa yang sedang aku kerjakan dan pikirkan. Dia selalu menengok ke arah rumahku kalau keluar atau masuk rumahnya meskipun rumah kami dipisahkan oleh gerombolan palem rendah, dan melambai kalau menangkap bayanganku di dalam rumah. Dia sering menyempatkan keluar rumah sambil membawa cangkir kopinya untuk menangkapku untuk bercakap-cakap. Ada baiknya juga untuk sesi rukun warga, kami saling memberi komentar apakah peralatan hiburan kami masing-masing mengganggu atau terdengar dari rumah lain. Dan pembicaraan pun berakhir dengan mengomentari tetangga belakang rumah kami yang boom-boom-nya terdengar keras di daerah rumah kami beberapa malam yang lalu. Ya, dia menanyakan rute perjalananku kali ini. Akhirnya, ada juga orang yang bisa aku titipi mengawasi rumah.Mengawasi dari luar. Di dalam rumah, aku sedang menghadapi tantangan baru. Beberapa minggu belakangan aku merasa kalau populasi cicak di kamar tidurku meningkat drastis. Kelihatannya peningkatan populasi ini terjadi sejak aku bepergian yang terakhir dimana rumahku kosong selama lebih dari limabelas hari. Cicak-cicak itu menetap di kamar tidurku sejak saat itu. Selain suaranya yang bersahut-sahutan, aku juga melihat peningkatan kegiatan ‘pembuangan’ yang mengotori meja dan lantai kamarku. Luar biasa kotornya dalam dua hari saja! Mereka terlihat nyaman berada disekitarku, kadang-kadang mereka bercanda dilantai, berkejaran di dekat kakiku.
Aku tidak keberatan berbagi ruang dengan mereka tetapi kemarin aku menemukan lepasan kulit mati dengan pola sisik di kaki tempat tidurku. Hm. Aku tidak suka membayangkan aku berbagi ruang dengan hewan berbadan panjang yang sesekali berganti kulit itu. Aku sudah membaca Wikipedia tetapi disitu tidak disebutkan kalau cicak pun berganti kulit. Tapi aku jadi tahu kalau di Bali, cicak dipercaya sebagai perwujudan Dewi Saraswati (dewi ilmu pengetahuan). Kabar baik mengenai berbagi ruang dengan cicak! Namun, kulit mati itu masih menyimpan misteri. Mudah-mudahan waktu aku kembali empat belas hari dari sekarang, aku tetap menjumpai beberapa Dewi Saraswati di kamarku. Bukan dewa yang lain!Pagi ini agak mendung di Ubud tetapi hujan turun lumayan deras di Denpasar. Perjalananku ke Jakarta lumayan lancar sejak keluar rumah sampai masuk rumah di Jakarta. Di bandara di Bali, napasku sempat tertahan waktu melihat kotak-kotak makanan disusun di pintu keberangkatan pesawatku. Untung aku tidak jadi mengambil perjalanan maraton lebih dari satu tujuan sehari, bisa sakit jantung aku. Aku pasrah pada kemungkinan pesawatku ditunda, tetapi ternyata kotak makanan itu untuk penumpang pesawat ke Mataram. Lucunya, penumpangnya yang sebagian besar ibu-ibu itu malah bersorak gembira waktu diumumkan ada keterlambatan keberangkatan dan tersedia kotak makanan untuk mereka. Ya, mereka nampak bersinar-sinar, bukan merengut. Menarik juga! Menginspirasiku untuk tersenyum-senyum. Jakarta juga sedang hujan waktu aku tiba di tengah hari. Aku agak termangu sepanjang jalan. Seperti yang sering terjadi di penerbangan di dalam negeri, kebanyakan orang tidak memperhatikan apa arti ‘ruang’ bagi orang lain. Mereka mendesak dan memaksa untuk mendapat kesempatan berjalan atau pelayanan terlebih dahulu. Dan di tempat antrean taksi, aku dikerubuti sopir-sopir menjajakan taksi swasta. Rasanya pusing! Di Jakarta, 'ruang' itu langka kelihatannya.Iklan di bandara yang menggambarkan antrean di ruang ‘terbatas.’
Aku terus memikirkan itu sambil menyeterika baju yang hendak aku bawa besok. Kemarin aku mempelajari jadual perjalanan yang dibuat kawanku untuk minggu depan. Hanya beberapa hari menjelang akhir tahun, aku memutuskan bergabung dengan satu kawan lamaku dan tiga kawan baruku dalam petualangan mereka awal tahun ini. Aku selalu senang melihat dunia baru dan tujuan yang akan mereka jalani adalah bukan tujuan liburku bila aku merencanakannya sendiri, meskipun aku belum pernah mengunjunginya. Setelah hidup di Bali, melihat pantai bukan merupakan prioritas utamaku. Tapi tempat-tempat yang akan dikunjungi kawan-kawanku ini adalah tempat tersohor yang sebaiknya aku jelajahi juga. Kesimpulannya, tidak ada salahnya aku melakukan perjalanan petualangan (dalam skalaku) untuk melihat sisi lain dunia.Ya, aku sudah mempelajari rute perjalanan delapan hari kami. Aku mencari tahu dimana kami akan menginap dan fasilitas apa saja yang tersedia. Tentu, koneksi internet menjadi perhatianku juga. Kawan-kawanku ini ‘setengah’ petualang (atau backpackers). Aku senang berpetualang tapi belum sekaliber mereka. Waktu aku menceritakan pada kawanku yang lain kalau ada porsi kami akan menaiki bis selama empatbelas jam, dia menggeleng 'kepala' (dalam bahasa kata) menunjukkan ketidakyakinannya akan ‘kekuatanku’ atau tepatnya… kesabaranku. Semua orang yang mengenal baik diriku tahu kalau aku bukan orang yang bisa menikmati perjalanan darat yang panjang. Aku sudah menanyakan pada diriku sebelum ‘menyetujui’ untuk bergabung di perjalanan empatbelas jam itu. Aku setuju sampai… kemarin siang.Sesudah meneliti lebih jauh, ternyata perjalanan empatbelas jam itu sebagian besar dilewati dalam gelap karena bis berjalan mulai siang atau sore hari. Ini bukan yang aku harapkan karena insentif buat aku untuk naik bis adalah melihat budaya dan vegetasi yang berbeda dari negara tempat tinggalku, yang nantinya tidak bisa aku nikmati dalam gelap. Lagi-lagi aku menanyai diriku sendiri. Aku putuskan untuk memilih cara lain sampai tujuan berikutnya. Aku meminta maaf pada kawan lamaku sambil mengingatkan dirinya kalau lebih baik melepaskan aku daripada melihatku ‘crabby in Krabi.’ Tidak bagus!Jadi sambil menyeterika baju, aku mencari jalan tengah untuk kegemaranku berpetualang ini. Tinggal di hotel berbintang banyak selalu enak, tapi romantika perjalanan jadi kurang terasa. Seperti waktu aku pergi ke Ambon dengan teman baruku dari Gent di Belgia dan New York, dua tempat ternama di dunia; aku merasakan romantikanya bepergian tanpa mengetahui apa yang akan terjadi di depan, di tempat yang baru untuk kami. Kenangannya indah sesudah kami kembali ke tempat kami ‘yang aman.’ Dari pengalaman ini aku tahu kalau aku bukan petualang sejati. Aku senang berpetualang, itu saja.Kawan seperjalananku sudah mengolokku karena ini bakal perjalanan pertamaku menaiki maskapai bujet yang terkenal itu. Aku memberitahu dia semalam kalau aku sudah menaiki pesawat dari maskapai bujet di Indonesia dan Filipina, jadi mencicipi maskapai bujet bukan pertama bagiku. Tapi menjajal maskapai yang maha terkenal dari Malaysia ini memang baru pertama kali. Aku bersemangat mencobanya karena belakangan maskapai ini semakin giat membuka rute baru yang tidak terbayangkan olehku sebelumnya. Penerbangan langsung selalu menarikku karena aku tidak suka berhenti dan pindah pesawat. Rute baru maskapai ini dari Denpasar sungguh menggiurkan; ke Perth, Bangkok, Kuala Lumpur dan Singapura. Harganya luar biasa kalau aku memakai patokan harga tiket Jakarta – Denpasar dengan maskapai utama Indonesia. Harganya bisa hanya setengah dari patokan itu, padahal jaraknya dua kali lebih jauh dan melewati batas negara. Betul-betul terobosan baru di dunia pemasaran penerbangan. Memangkas ongkos-ongkos kecil untuk mampu menyuguhkan harga yang sangat bersaing dan meraih keuntungan dari omset penjualan tiket. Maskapai tersebut bisa membaca animo masyarakat dan memanfaatkannya sehingga pada akhirnya roda ekonomi bisa berjalan karena kita semua… mengeluarkan uang selama perjalanan. Pandai!Ubud terlihat lengang. Aku mengunjungi Pallava untuk memilah barang yang menurutku tidak sesuai dijual di Ubud. Tidak semua stok dari bekas tokoku di Jakarta sesuai dengan karakter yang ingin aku terapkan di dua tokoku sekarang. Aku mempunyai rencana ‘penertiban’ ini sudah lama sekali. Sering aku patah semangat hanya karena melihat timbunan barang itu di dalam toko. Timbunan disini tentunya bukan berarti barang-barang itu tertumpuk bak sampah tetapi ragam barang itu begitu banyak sehingga aku tidak tahu harus mulai dari mana. Hari ini aku memproyeksikan keinginanku dengan seksama. Dan, ide pengaturan muncul waktu aku sedang menyetir di daerah Jalan Hanoman. Satu ide dengan semangat yang belum pernah aku pikirkan. Aku senang tapi sedih pada saat yang sama karena di saat semangatku untuk bebenah tinggi, besok aku akan pergi keluar pulau dalam jangka waktu yang cukup lama.Kawan baikku yang tetanggaku membagi resep untuk memutar barang yang sudah tidak kita minat menjual. Cara dia baik secara teori tapi tidak mudah diaplikasikan terutama pada kasusku karena pemasok barangku tidak berada di Bali. Aku sempat merenung, mengolah barang bernilai ekonomi saja tidak mudah, apalagi mengolah sampah yang nilai ekonominya harus diciptakan dulu? Baru aku mengerti betapa besarnya jasa para pahlawan sampah yang terus giat menciptakan cara baru untuk membuat sampah bisa dikelola atau bernilai ekonomi.Pekerjaan rumah tidak ada habisnya tetapi itu yang membuat hidup semakin hidup. Katanya. Waktu aku bekerja, aku membayangkan liburan. Waktu aku liburan, aku membayangkan ide baru untuk berkarya. Untuk kami, para wiraswasta, sebetulnya tidak ada liburan yang hakiki. Setiap waktu adalah petualangan. Akhirnya aku menemukan petualanganku.Petualangan kawanku di India baru-baru ini.