Jumat, 22 Januari 2010

Ah lainnya bisa menunggu sampai Senin…


Aku berkata pada diriku sesudah menyelesaikan rutin pagi hariku di rumah. Aku memulai hari setengah jam lebih siang dari biasanya karena aku… menikmati waktuku memandang langit pagi berubah warnanya dari tempat tidur. Kemewahan khas rumahku di Ubud. Aku telentang sambil berputar-putar sampai harus mengatakan pada diri sendiri: Ayo bangun!

Rumahku sebagian besar sudah bersih karena aku sudah bekerja keras waktu baru tiba kemarin. Pagi ini aku mencuci baju dan memfokuskan pada kebersihan di kamar mandi dan dapur. Hari makin beranjak siang, aku tidak mempunyai waktu untuk mempersiapkan diri mengikuti kelas yoga yang dimulai pukul 9:00. Ya, itu hanya alasan saja karena kalau aku benar-benar ingin pergi, aku sebetulnya bisa siap tepat pada waktunya. Dan karena aku tidak melakukan satu hal di luar rumah sejak pagi maka aku tidak berminat mengerjakan pekerjaan rumahku yang lain yaitu pergi ke bank dan mengunjungi beberapa kantor untuk mengecek beberapa hal.

Tengah hari baru saja lewat waktu aku mendapat ide untuk melakukan yoga di kamar tidurku yang berhawa panas, sekitar 2-3 derajat lebih panas daripada ruang tamuku di lantai satu. Mungkin karena lokasinya yang di lantai dua ditambah lantai kayu yang biasanya dipakai untuk rumah di pegunungan. Aku teringat yoga bikram waktu tubuhku mulai menitik keringat. Yoga bikram (diambil dari nama penemunya) dilakukan pada suhu ruangan sekitar 40.5 derajat Celcius dengan tingkat kelembaban pada 40%. Suhu kamar waktu aku melakukan yoga adalah 31.5 derajat dengan tingkat kelembaban pada 53%. Mendekati ideal karena suhu dan kelembaban saling mengkompensasi. Yang pasti, baru sepuluh menit tubuhku sudah basah kuyup karena keringat. Aku merasakan keringat mengalir di dada dan punggung.

Aku melakukan peregangan yang idealnya terdiri dari 26 posisi yoga dan dua posisi yoga pranayama (pernapasan). Yoga bikram berguna untuk peregangan yang lebih dalam, mencegah cedera, dan membebaskan rasa tegang. Gerakannya konon bisa menstimulasi tubuh secara sistematis dan memulihkan kebugaran sampai ke otot-otot, sendi, dan organ tubuh. Ini untuk pertama kalinya aku melakukan yoga pada suhu 'tinggi' di Ubud. Di Jakarta aku dapat dengan mudah melakukannya di pagi hari dengan mematikan mesin pendingin dan membuka jendela. Suhu dan kelembaban Jakarta cukup tinggi untuk menciptakan suhu ruangan prasyarat untuk melakukan yoga bikram, tidak di Ubud yang suhunya relatif sejuk. Suhu prasyarat ini bisa membantu meningkatkan pemakaian kapasitas paru-paru yang biasanya hanya digunakan 50%. Dengan lebih banyak oksigen yang kita hirup, kita akan lebih segar karena sirkulasi darah lancar juga. Wikipedia telah membantu aku menguasai aspek-aspek yoga bikram.

Aku membuka kaosku yang basah kuyup dan menunggu beberapa saat sebelum menuju ke pancuran di kamar mandi menikmati air agak hangat. Sensasinya luar biasa. Aku senang dengan penemuanku ini. Sekarang tidak ada lagi alasan terlambat untuk melakukan yoga di rumah di pagi hari karena melakukannya sesudah matahari meninggi ternyata justru lebih efektif dalam membentuk otot dan membakar lemak.

Aku menghabiskan hari dengan terus bebenah dan membaca. Kegiatanku di Ubud baru akan dimulai besok. Hari Sabtu?

Lambang suasana semua-bisa-menunggu di Phi Phi Island, Thailand.