Rabu, 20 Januari 2010

Ah aku pasti terdengar tidak bersemangat…


Aku berpikir waktu kawanku menganjurkan aku untuk lebih ‘hidup’ di pagi hari untuk mengawali hari yang ceria. Hm. Aku baru sadar kalau di kebanyakan pagi aku menjadi pendiam karena aku justru masuk ke gua pikiranku, menggodok apa yang hendak aku lakukan hari ini. Kebanyakan ide berkumpul waktu aku bangun pagi dan dalam proses pengolahan ide-ide itu aku masuk kedalam gua sehingga untuk kebanyakan orang aku kelihatan tidak ‘hidup.’

Kemarin aku melewatkan hari di rumah saja bersama sanak saudara. Keponakanku masih libur jadi kami mempunyai kesempatan berbincang, juga waktu bibi dan paman datang lalu bergabung santap siang. Diantara waktu bersama sanak saudara, aku masih sempat meneruskan membaca buku yang menarik itu, dan melakukan riset untuk memilih kamera semi-pro di internet. Perjalananku kali ini telah menginspirasiku untuk mulai berkarya foto dengan menggunakan kamera yang lebih 'serius' daripada kamera saku yang sebetulnya sudah memuaskan bagiku. Banyak kawanku percaya, aku bisa menghasilkan karya yang lebih dengan peralatan yang lebih baik. Baiklah.

Kawan dekatku yang memiliki sebuah persinggahan libur di daerah Batu menghubungiku semalam. Aku tidak ingat kalau dia sedang berada di Malang. Tadi pagi aku datang ke proyek mega dia sejak tiga tahun belakangan bersama rombongan besarku yang berjumlah delapan orang. Ya; bibi, paman, sepupu, keponakan, dan teman kecilku aku ajak semua. Aku senang berbagi hal-hal yang menimbulkan inspirasi dengan orang-orang dekatku. Aku juga perlu inspirasi besar itu, jadi bersama orang lain gelombang inspirasi itu akan terasa hempasannya.

Sobatku semasa kuliah sejak hampir tigapuluh tahun ini hampir tidak pernah pergi dari kehidupanku. Kami saling mengikuti tahapan kehidupan masing-masing, sejak dia menapak pekerjaan dari tahap yang paling rendah sampai paling tinggi, sampai dia memutuskan berhenti bekerja di perusahaan orang dua tahun yang lalu. Dia mengatakan dia sudah sampai tahap dimana dia tidak bisa lagi mendengar teguran dari atasan. Aku sudah terlalu tua untuk itu, katanya. Aku mengerti apa yang dia maksud.

Dia melakukan investasi di waktu yang tepat. Baru setengah proyek berjalan tetapi sudah bisa menghasilkan pendapatan untuk investasi pengembangannya. Kawanku menggiring kami melakukan peninjauan ke beberapa sudut propertinya. Dia memberi keterangan mengenai konsep persinggahannya dan harapannya di masa depan. Aku menikmati keterangannya, seperti cambuk kecil-kecil yang mencambukiku. Di satu titik dia mengingatkanku, kalau aku adalah orang yang mempunyai banyak ide besar, dan aku mengingatkan dia kalau dia adalah orang yang mempunyai ide besar sekaligus pelaksana ide yang baik. Apa yang bisa aku petik dari contoh ini?

Kami menyelesaikan kunjungan itu dalam dua jam. Aku menceritakan mengenai perjalanan perjuangan kawanku dari bawah sejak dua puluh tahun yang lalu sambil menyantap hidangan siang di sebuah rumah makan kegemaran kami di kota Batu. Senang mempunyai kesempatan berkumpul lagi dengan para saudara. Waktu seperti ini tidak sering kami dapatkan, tapi setiap kesempatannya selalu menyenangkan. Di rumah, kalau ada aku, seperti ada pesta kecil terus-menerus. Yu Sih yang sudah mengabdi di rumah keluargaku lebih dari dua puluh tahun selalu membuat masakan kesukaanku, setiap hari. Bibi membakar berloyang-loyang kukis coklat kegemaranku, untuk aku bawa pulang, sejak kami kembali dari bepergian. Dan baru saja keponakanku mengumumkan menu istimewa untuk malam ini karena kami semua akan berkumpul lagi: pencuci mulut yang dibuat dari pepaya.

Aku tidak bisa menerka!

Pemandangan dari kolam renang persinggahan libur milik kawanku.