Kamis, 14 Januari 2010

Kop kun kaa…


Terimakasih dalam Bahasa Thai. Aku tidak tahu persis bagaimana menulisnya karena Bahasa Thai tidak ditulis dalam tulisan latin kita. Tetapi itu ‘lagu’ yang aku dengar. Jawabannya pun mudah Kaa… Aku mulai terbiasa mengatakannya dan mereka kelihatan senang kalau aku meluangkan waktu untuk mengucapkan terimakasih dalam bahasa mereka, dengan benar.

Orang Thai berwajah ramah meskipun mereka tidak mengerti apa yang kita maksud. Berkomunikasi dengan mereka ada tantangannya sendiri. Kalau putus asa, mereka terbahak-bahak sendiri, dan aku tersenyum-senyum berusaha mencari jalan untuk bisa dimengerti. Pengemudi taksiku ke bandara tadi pagi berbicara dalam Bahasa Inggris yang baik. Dia memberi aku kartu nama untuk perjalananku ke Krabi berikutnya. Aku ingin kembali tetapi aku belum tahu kapan. Aku menghargai usaha dia.

Ada beberapa hal yang aku perhatikan dari orang Thai. Banyak dari mereka menggunakan tangan kirinya, artinya tidak seperti di Jawa, dimana pengguna-tangan-kiri ‘dipaksa’ oleh kultur untuk menggunakan tangan kanan. Itu terlihat juga dari cara orang Thai menerima dan memberi dengan menggunakan tangan kiri tanpa canggung. Mengejutkan untuk orang Jawa seperti aku. Aku berpikir untuk tidak mengikuti cara mereka tapi aku juga berharap tangan kanan tidak berarti ‘tidak baik’ untuk mereka. Hal lain, aku juga harus memperhatikan letak tangan dalam ‘sembah’ sebagai tanda berterimakasih karena tangan harus berada minimal setinggi tenggorokan, tidak dibawah itu.

Meskipun Krabi adalah kota kecil yang sarat wisatawan seperti di Ubud, tetapi ternyata bandaranya baru dan modern. Seperti kebanyakan bandara sekarang yang menggunakan konstruksi metal. Kelihatannya bandara ini tidak terlalu sibuk (pintu domestiknya hanya ada tiga) tetapi bandaranya mengakomodasi penerbangan internasional juga. Aku melihat hanya ada dua konter dua maskapai utama, maskapai nasional dan maskapai bujet dari Malaysia yang aku tumpangi ini. Ada juga beberapa maskapai bujet lokal yang tidak aku kenal namanya. Diluar aku bisa melihat rimbunan hutan kecil dan pegunungan sebagai latar belakang. Indah sekali, mirip bandara di Malang dan Bandung.

Waktu menunggu konter dibuka, aku sempat berbincang-bincang dengan pasangan muda dari Jerman yang berwisata setengah-berpetualang. Mereka tinggal di Thailand selama satu bulan sampai hari Jumat lusa. Mereka bercerita mengenai gaya hidup backpacker-klasik (istilah mereka) yang sudah tidak seperti gaya backpacker di masa lalu (dimana aku sebetulnya tidak tahu bedanya backpacker dulu dan sekarang). Mereka sekarang hidup lebih bebas dalam arti yang sebebas-bebasnya. Aku tidak ada ide mengenai hal itu. Aku bukan backpacker meskipun aku bisa berwisata tanpa perlu embel-embel kenyamanan ekstra. Lalu pasangan itu menceritakan pengalaman mereka menaiki bis di Thailand yang tidak seperti mereka bayangkan mengenai ‘standar naik bis.’ Pengalaman mereka adalah naik bis tanpa pendingin, penumpang lain minum minuman keras, dan merokok di toilet. Aku jadi was-was mengingat keempat kawanku menaiki bis dari Krabi menuju Bangkok malam ini, yang perjalananannya ditempuh dalam waktu duabelas jam. Aku merasa tidak enak telah meninggalkan mereka tetapi saat ini aku tidak siap menantang diri untuk duduk selama duabelas jam, apalagi kalau kata wisatawan Jerman itu benar mengenai bis di Thailand. Mudah-mudahan mereka baik, aku baru bisa mendengar komentar mereka besok pagi.

Aku tiba di apartemen kawanku di Bangkok di sore hari. Jalanan di Bangkok mirip di Jakarta, serba tidak pasti karena arus lalu lintas bisa berhenti sama sekali tanpa ada sebab yang jelas. Aku beruntung bisa bertemu dengan kawan pasangan ini di Bangkok karena biasanya mereka banyak melakukan perjalanan keluar negeri sebagai bagian dari pekerjaan mereka sebagai jurnalis media ternama di Amerika. Kami tidak berjumpa hampir tiga tahun lamanya sehingga dua jam tidak cukup untuk menyamakan cerita kehidupan kami tiga tahun terakhir. Kami menghadiri undangan makan malam di rumah teman baik kawanku ini. Kami menghabiskan waktu hampir lima jam disana karena cerita seperti mengalir tidak ada habisnya. Kawan kawanku ini adalah jurnalis foto untuk satu media Amerika terkenal yang ditugaskan di Pakistan. Banyak cerita menarik dari pekerjaannya. Aku sudah tidak bisa berpikir dengan baik dua jam terakhir karena ingin beristirahat. Hariku panjang. Terasa penuh namun menyenangkan.

Matahari terbenam dari teras apartemen kawanku di Bangkok.