Selasa, 12 Januari 2010

Sesudah melewati trans Sumatra, sampai juga kita di Cirebon!


Kami termangu di lobi hotel kami di Krabi kemarin. Setelah melewati hampir empat jam perjalanan dari Phuket dengan suasana mirip jalan trans Sumatra (kata kawanku yang pernah melewatinya), kami mendapati hotel tempat kami menginap mirip gaya hotel di Cirebon. Kami baru mengetahui kalau hotel yang dipesan kawanku melalui internet ini letaknya cukup jauh dari pusat keramaian di tepi pantai, Ao Nang. Seperti membeli kucing dalam karung, memesan hotel melalui internet bisa memberikan kejutan. Kejutan lain sudah kami dapatkan sejak kami memulai hari. Kami membeli tiket perjalanan Phuket – Krabi di agen perjalanan dekat hotel kami di Phuket. Perjalanan kami ke Pulau Phi Phi hari sebelumnya berlangsung lancar sehingga kami memakai agen yang sama untuk mengatur perjalanan lewat darat ke Krabi yang jaraknya sekitar 120 kilometer dari Phuket.

Kami masih menyantap setengah sarapan kami waktu mobil datang menjemput. Mobilnya tua dengan pernak pernik yang ramai; gorden berumbai berwarna hijau, tempat duduk yang joknya sudah sobek di sana-sini, dan pesawat televisi rusak yang ujungnya bisa menghantam kepala yang tidak berhati-hati melewati bawahnya. Aku duduk di bawah televisi itu. Mobil tiba dengan tiga penumpang sekeluarga dari Australia. Wajah mereka nampak masam karena kami berlima masih berhamburan dengan barang-barang kami karena kami baru dari tempat makan. Karena bagasi telah penuh terisi koper penumpang sebelumnya, sebagian besar koper kami diletakkan di atap luar mobil! Dan… tidak diikat! Aku terdiam, menyimpan kekuatiranku. Waktu mobil berjalan menjemput tiga orang lagi, kami berkesempatan melihat pantulan di kaca jendela toko tas kami masih aman di tempat. Untung sebelum akhirnya memulai perjalanan, tas kami diikat tali.

Oleh agen perjalanan tempat kami membeli tiket, disampaikan kalau kami akan dijemput di hotel dengan mobil kecil, lalu dipindahkan ke bis, dan sesampai di Krabi akan diantar ke hotel dengan mobil kecil lagi. Kami sempat mengernyitkan dahi mendengarkan pengaturan rumit untuk perjalanan nan singkat tapi tidak berkata apa-apa. Tiba-tiba waktu berlalu satu-setengah jam; belum ada tanda-tanda kami akan dibawa ke terminal bis untuk dipindahkan. Pengemudinya kalau ditanyai selalu mengelak menjawab, entah karena tidak mengerti Bahasa Inggris atau memang ‘ada sesuatu.’ Sesudah dua jam berlalu, waktu kami berhenti untuk ke toilet, aku bertanya kepada keluarga Australia itu untuk mengetahui untuk pelayanan apa mereka telah membayar. Lebih parah! Mereka membayar untuk naik kapal yang harga tiketnya bisa dua kali dari apa yang kami bayarkan. Akhirnya, kami semua tertawa. Tertipu bersama!

Di sisa perjalanan, kami tidak menggerutu lagi. Sudah pasrah. Aku membayangkan isi tasku yang membara karena panas matahari di atap mobil, aku punya vitamin dan krim perawatan tubuh. Ternyata, kawanku lebih kuatir lagi mengenai keselamatan tas sampai di tujuan. Belum lama diskusi kami berakhir, perjalanan dinyatakan berakhir di satu tempat yang konon sudah di daerah Krabi. Tempat ini seperti tempat makan tetapi luas dan terlihat banyak orang asing menunggu sesuatu yang tidak jelas di tempat ini. Rupanya ini pusat perpindahan transportasi untuk wilayah Krabi. Disini kami dipindahkan ke mobil yang membawa kami ke hotel, mobil tanpa pendingin. Semuanya membingungkan karena mereka berbicara dengan Bahasa Inggris yang minimal dan kami belum mengerti sistem transportasinya. Kami hanya bisa saling mengucap Have fun! kepada sesama wisatawan.

Krabi ternyata indah sekali. Karang tinggi menjulang terlihat sepanjang jalan menuju ke Pantai Ao Nang. Kami menempuh sekitar duapuluh menit untuk sampai di pusat keramaian yang rapi tertata itu. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Aku bisa membayangkan aku menghabiskan waktu untuk liburan di tempat ini meskipun secara umum suasananya tidak berbeda dengan pantai-pantai di Bali. Tetap terasa berbeda!

Kami menghabiskan sore hari di sekitar pantai, menikmati makan siang, dan minum kopi di sore hari. Dan sesudah itu, kami bersama-sama memotret matahari terbenam dari perbatasan jalan dan pantai. Pantai nampak indah dengan kapal-kapal berlalu lalang. Beberapa hari ini aku menggali fitur kamera sakuku yang ternyata lumayan ragamnya. Kawanku dengan sabar mengajariku memakai beberapa fitur yang serupa di kamera semi-profesionalnya. Jadi matahari terbenam menjadi percobaan kami semua. Aku baru menyadari ternyata matahari tenggelam lumayan cepat sehingga kami tidak mempunyai waktu cukup banyak untuk bermain-main dengan kamera kami.

Kawan-kawanku memang luar biasa! Mereka benar-benar mempunyai kegemaran mengambil foto. Aku bisa merasakan sensasi bermain dengan kamera meskipun hanya menggunakan kamera saku. Aku mulai menimbang untuk mulai belajar fotografi secara lebih serius. Beberapa kawanku percaya aku mempunyai ‘mata’ untuk komposisi yang bagus, yang aku percaya juga. Mungkin waktunya sudah mendekat gara-gara perjalanan ini!

Matahari terbenam di Pantai Ao Nang, Krabi, hasil jepretanku.