Minggu, 10 Januari 2010

Seperti di Balikpapan…


Aku menggumam sambil melihat keluar jendela di perjalanan dari bandara menuju hotel kami di Phuket kemarin. Kawan baruku di belakang mengiyakan. Kombinasi antara hutan kecil dan rumah atau toko diantaranya memberi suasana seperti di Kalimantan atau kota-kota di Indonesia bagian timur. Tentu kondisi infrastrukturnya berbeda, jalannya mulus, dan mobil-mobil yang lalu lalang nampak modern. Aku banyak melihat Jazz!

Aku sempat bersin di pagi hari dan hidung langsung basah. Aku agak panik karena mendengar satu kawan baruku terkena flu beberapa hari sebelum keberangkatan jadi aku langsung meminum obat untuk menangkal flu. Aku tertidur nyenyak hampir satu setengah jam di perjalanan dua setengah jam antara Jakarta dan Phuket. Aku merasa segar dan sehat waktu mendarat. Ternyata letak Thailand tidak sejauh yang aku duga bila diterbangi langsung dari Jakarta. Di masa lalu, kita harus terbang melalui Singapura sehingga membuat perjalanan ke Thailand menjadi perjalanan yang memakan waktu sehari.

Ini kunjungan keduaku di Thailand. Kunjungan pertamaku adalah di akhir tahun beberapa hari sesudah terjadi tsunami di daerah Phuket tahun 2004. Waktu itu aku hanya menjelajahi kota Bangkok. Aku suka ke pantai tapi aku lebih memilih mengunjungi tempat-tempat kultural bila bepergian ke satu tempat untuk pertama kalinya jadi kunjunganku ke Phuket dan besok ke Krabi ini tepat, kunjungan kedua ke Thailand yang non-kultural. Aku mendapat kawan yang gemar mengambil foto dan berenang di pantai melihat koral untuk menemaniku mengunjungi salah satu tujuan wisata terkenal di Asia. Kalau tidak, jangan-jangan aku tidak akan pernah bisa membayangkan tempat lain semacam Bali, yang sama terkenalnya.

Hotel kami terletak agak jauh dari pusat keramaian. Kami harus menaiki tuktuk untuk bisa ke pantai utama tempat keramaian berada, seperti di Pantai Kuta dan Seminyak di Bali. Kawanku yang mengenal Thailand luar-dalam sempat memberiku sekilas pandang mengenai tempat-tempat yang akan aku kunjungi. Bahwa Phuket pun seperti Bali, mempunyai beberapa pantai dengan karakter yang berbeda-beda. Ada yang komersial dan ada pula yang eksklusif. Yang menarik buat aku adalah melihat bagian dimana kebanyakan orang menghabiskan liburannya, bukan di bagian yang eksklusif, karena tempat eksklusif menurutku cenderung ‘tidak berkarakter lokal.’ Artinya, karena keindahan tempatnya dan karakter pengunjungnya, maka pantai eksklusif di Phuket bisa terasa sama seperti di pantai-pantai eksklusif di belahan dunia lain. Apapun, aku senang melihat banyaknya orang berkeliaran di daerah ini.

Kami menghabiskan sore hari dengan berjalan menyusuri pantai diantara keramaian mencari makan siang sekalian makan malam. Dari kami berlima, tiga kawan membawa kamera semi-profesional sehingga kami banyak berhenti untuk mengambil foto. Aku belajar untuk berjalan kaki lebih pelan di perjalanan kali ini. Pengalaman baru. Aku tidak keberatan karena toh tidak banyak hal baru yang bisa dinikmati. Aku menikmati suasananya. ‘Indonesia’ di negara lain.

Satu hal yang menyenangkan aku, disini aku tidak disangka sebagai orang Thai. Mereka langsung tahu kalau aku dari Indonesia. Paling-paling mereka memulai pembicaraan dengan Bahasa Melayu, mungkin karena melihat ketiga kawan kami yang berkerudung. Disini aku belajar lebih jauh mengenai Asia dan karakter orangnya.

Suasana Pantai Patong di malam hari.