Selasa, 26 Januari 2010

Kenapa jadi begini?


Aku sedang menyetir di dekat Wana Monyet (ya ya Monkey Forest) waktu aku berpikir, mungkin gara-gara bahasa ibu yang aku pakai untuk menulis jurnal ini aku jadi kurang produktif akhir-akhir ini. Aku masih merangkai kerangka tulisan di kepala dalam Bahasa Inggris yang kemudian aku terjemahkan dalam Bahasa Indonesia waktu menulis. Ada beberapa ungkapan yang sulit aku uraikan dalam bahasaku sehingga aku masih belum lancar berpikir dan menulis. Hm… kurang baik ini.

Dua hari ini aku lumayan disibukkan oleh berbagai kegiatan yang aku ciptakan. Aku mengurus beberapa hal administrasi sepanjang pagi kemarin, lalu melewatkan setengah jam di tokoku untuk mendesain ulang tata letak barang-barang. Aku membagi toko menjadi dua bagian, aku mengumpulkan barang-barang yang berharga super mahal di satu sisi, dan yang berharga ‘pasar’ di satu sisi. Aku mempunyai agenda. Menyadari kalau bisnis barang-lama tidak selancar di masa lalu, aku memutuskan untuk menyimpan beberapa barang yang aku suka untuk aku pakai di propertiku kelak. Yang aku maksud dengan menyimpan adalah menyisihkannya di satu sisi dan memberi harga tinggi agar aku tidak kehilangan atau ‘merasa kehilangan’ bila akhirnya kehilangan juga akibat terjual. Aku siap untuk memulai sesuatu yang baru, yang belum aku ketahui apa wujudnya.

Sorenya, aku menghadiri kegiatan pertamaku menghadiri pertemuan sebuah organisasi sosial internasional yang bermarkas di Ubud. Aku baru mengetahui kemudian kalau organisasi ini, meskipun skalanya internasional, tetapi dapat dibentuk oleh sekelompok orang tanpa harus bergabung dengan organisasi yang sama yang sudah ada di satu wilayah, misalnya, propinsi. Jadi seperti di Bali, konon organisasi ini ada di setiap daerah (Nusa Dua, Seminyak, Sanur, Denpasar). Menarik!

Pembicara di pertemuan kali ini adalah aktivis berkebangsaan Australia yang sibuk mengkampanyekan hidup tanpa menggunakan kantong plastik di Bali. Seperti juga di kota besar di Jakarta, kantong plastik merupakan bagian dari gaya hidup sehari-hari. Organisasi ini bekerjasama dengan sebuah pasar swalayan besar di Denpasar untuk mengkampanyekan tas yang dapat dipakai berulang-ulang sebagai pengganti kantong plastik untuk membawa belanjaan. Aku merasakan kalau usaha mereka ini tidak mudah dilakukan karena tidak mudah, atau memerlukan waktu, untuk mengubah pola pikir masyarakat. Atau, mereka dapat melakukan hal yang drastis seperti yang sudah diterapkan di Bangladesh dimana penggunaan kantong plastik dilarang secara hukum. Sebagai gantinya, Pemerintah mengkampanyekan penggunaan tas terbuat dari bahan yute (seperti karung goni).

Di pertemuan itu; aku bertemu dengan beberapa figur yang aku kenal di masa lalu, figur ternama di Bali, dan tentunya figur yang baru aku temui kemarin malam. Temanku mengatakan padaku betapa luasnya perkawananku sampai-sampai aku bisa terkait dengan beberapa orang melalui jaringan yang tidak terduga. Aku pun terheran-heran menyadari itu. Dunia benar-benar telah mengecil sekarang.

Sesudah yoga yang melelahkan pagi ini, aku bersantap siang dengan dua kawan dan seorang kenalan baru. Pembatik berkebangsaan Amerika yang sudah lama berkarya dari Ubud. Pembicaraan tentunya menarik. Aku selalu tertarik pada figur yang berkarya ‘dari jauh.’ ‘Dari jauh’ artinya dia berkarya di Indonesia untuk memenuhi pasar Amerika. Sebagai orang Indonesia, aku merasa tidak mudah untuk membina jaringan sehingga aku bisa berkarya disini. Aku tahu, kadang-kadang aku yang membuat batasan itu sendiri.

Dua hariku terasa 'penuh' dan bermakna. Kehidupanku di Ubud sudah dimulai…

Halaman hotel yang aku kunjungi kemarin.