
Aku geli sendiri membayangkan diriku yang bisa begitu kukuh memegang satu prinsip yang aku percaya benar. Aku sedang menyapu di teras waktu menyadari itu. Dua malam ini rumahku mendapat serbuan laron padahal sebelumnya hujan tidak turun dengan deras. Menurut Wikipedia, laron muncul di saat bumi berhawa panas dan lembab tanpa angin sesudah hujan. Aku harus mempelajari beberapa situs mengenai hewan ini semalam karena mereka telah merepotkan hidupku. Sayap-sayap laron yang lepas banyak bertebaran di teras waktu pagi, untung hanya sedikit di dalam rumah karena aku tidak menyalakan banyak lampu. Sekarang jadi ada pertentangan antara perlunya memasang lampu diluar, di satu sisi bisa menghalau kelelawar, tapi di sisi lain bisa mengundang laron.
Lalu apa prinsip yang aku pertahankan dalam kaitannya dengan laron ini? Sapu! Aku bukan pengguna sapu, aku lebih memilih membersihkan lantai langsung dengan pel bertangkai. Entah kenapa aku percaya sapu hanya membuat debu beterbangan di dalam rumah dan itu yang tidak aku suka. Kemarin aku memperlakukan sayap-sayap laron itu sama dengan debu yaitu dengan langsung mengepelnya. Hasilnya? Tidak hanya dua kali kerja tapi berkali-kali kerja karena sayap-sayap yang rapuh itu jadi berkeping-keping sesudah terkena pel yang basah. Tadi pagi aku memutuskan mencoba memakai sapu dulu sebelum mengepel. Aku tersenyum. Dasar keras kepala!
Hari ini aku mencoret satu butir dari daftar PR (Pekerjaan Rumah) yang sudah aku rencanakan kulakukan sejak lama. Aku mengeluarkan sebagian besar patung Buda dari rumahku, juga dari Neru. Aku baru menyadari belakangan ini kalau peletakan patung Buda memerlukan perlakuan khusus: harus di titik tertinggi di satu tempat, tidak boleh berdekatan dengan barang lain, harus menghadap kesana-kesini, dan mungkin masih banyak aturan lain. Aku mendapat konfirmasi akan hal ini waktu bertemu kawan baru yang orang Thailand di Festival Ubud yang lalu. Sebagai pemeluk agama Buda, dia merasa tidak pas melihat orang Bali menjual patung Buda sebagai obyek hiasan rumah, bukan untuk keperluan spiritual. Aku jadi berpikir. Meskipun aku melihat patung Buda sebagai ‘patung’ tapi aku juga ingin menghormati keyakinan orang lain.
Di Bali yang mayoritas penduduknya menganut agama Hindu, figur Atintya (Tuhan dalam agama Hindu) dan Ganesha adalah figur yang dihormati. Tepatnya figur yang mendapat tempat khusus di sebuah ruangan. Atintya sebaiknya diletakkan di tempat tertinggi dan di tempat kita lebih sering menghabiskan waktu misalnya di studio, ruang tamu, atau bahkan kamar tidur. Figur Ganesha lebih fleksibel peletakkannya karena bisa diletakkan dimana saja tapi peletakan Ganesha yang lebih tepat adalah di dekat pintu masuk sesuai dengan karakternya sebagai penjaga. Aku mempunyai patung kedua figur itu. Atintya yang sekarang ada di atas lemari bajuku kuselamatkan dari letaknya di lantai sebuah toko di dekat rumah waktu kawanku dari Amerika membeli Ganesha. Ganesha di depan pintu gerbangku aku temukan di tempat berdagang pemasok patung batuku di Singapadu. Ya, keduanya aku temukan, Atintya aku selamatkan dari letaknya di lantai toko dan Ganesha aku pilih karena bentuknya yang unik (aku harus mengakui kalau Ganesha-ku aku pilih karena posenya seksi dengan sarung a la Bali).
Sesudah memutuskan untuk mundur dari Facebook dengan cara tidak aktif berbagi tapi tetap memberi perhatian kepada teman-teman baikku, hari ini aku juga memutuskan untuk tidak mengaktifkan semua mesin percakapan ‘di udara’ (online) kecuali ada permintaan untuk berkomunikasi. Meskipun aku sering mengudara tapi aku bukan orang yang baik untuk diajak berbicara di saat aku sedang sibuk mengerjakan yang lain. Sementara aku merasa senang bercakap dengan kawan dan ingin menyenangkannya pada saat yang sama, rupanya aku dapat memberi respon yang kurang baik karena konsentrasiku terpecah oleh hal yang sedang aku kerjakan. Akibatnya jawabanku terlalu singkat langsung menuju sasaran karena alasan praktis sehingga tidak sesuai untuk mengakomodasi kepentingan kawan yang ingin berbagi perasaan. Jadi untuk amannya, sekarang aku perlakukan saja mesin percakapan itu seperti telpon. Harus diputar nomornya dulu (dengan menghubungi aku melalui pesan singkat atau pesan elektronik) untuk bisa bercakap-cakap sehingga aku bisa mempersiapkan waktu (dan mental) untuk berkomunikasi. Ini merupakan hasil observasiku terhadap diriku sendiri selama ini.
Label berslogan unik yang aku potong dari tas baruku. Aku tidak mengerti apa semangatnya.