Selasa, 05 Januari 2010

Ini tidak enak sekali…


Aku terbangun dengan tenggorokan terasa kering. Semalam aku tidur karena sakit kepala yang lumayan mengganggu dan pagi ini tenggorokan berulah. Aku memutuskan untuk tinggal di rumah saja, tidak mengikuti kelas yoga yang sudah sebulan aku tinggalkan. Teman yogaku berpikir aku begitu sakitnya sampai tidak mampu pergi. Aku berterimakasih atas perhatiannya. Aku sampaikan kepadanya kalau aku tetap melakukan peregangan di bawah sinar matahari ditambah angkat beban untuk melemaskan otot. Aku juga tetap melakukan pekerjaan rumah tangga di pagi hari yaitu mengepel dan mencuci baju meskipun dengan tempo yang lebih lambat daripada biasanya. Hanya mengelap mobil saja yang sudah dua hari ini tidak aku kerjakan. Ada juga saat dimana aku mogok. Aku menghemat energiku.

Seperti biasa aku menghabiskan waktu di depan komputer bila menghabiskan minuman pagi, kopi dan jus buah-buahan. Itu adalah saat primaku dimana aku mampu berpikir jernih dan bersemangat untuk membaca banyak jadi itu waktu yang tepat untuk memutakhirkan diri dengan membaca situs-situs berita di dalam dan luar negeri, sekalian memeriksa situs-situs menarik yang acapkali aku kunjungi. Pagi ini aku mendapat ide dari salah satu situs mengenai mengkondisikan pikiran untuk berbuat sesuatu dengan menempelkan catatan kecil apa yang ingin kita fokuskan. Misalnya kita menempel tulisan “turun berat badan” di dapur untuk mengingatkan kita akan tujuan yang ingin kita capai dalam waktu dekat.

Beberapa waktu yang lalu kawanku memperkenalkan satu program yang bisa diunduh dari internet. Program ini diciptakan untuk memasang semacam catatan kecil di pintu kulkas itu tetapi untuk dipasang di layar komputer tanpa kita harus melihat tulisannya. Telah dipercaya kalau alam dibawah sadar kita pun bisa dirangsang sedemikian rupa sehingga secara tidak sadar kita bertindak menuju tujuan yang ingin kita capai. Aku tidak (atau belum) mengunduh program tersebut, aku ingin mendengar komentar kawanku dulu mengenai keefektifannya sebelum melakukan sendiri. Ada saat dimana aku tidak begitu ingin berpetualang untuk hal-hal yang baru. Tidak apa. Tidak harus semua diperlakukan sama.

Ya, jadi sekarang aku punya satu catatan kecil yang aku pasang di ujung kiri atas layar televisiku berisi pesan untuk “menunggu sebelum merespon.” Beberapa waktu yang lalu aku mencanangkan semangat untuk tidak membiarkan apapun ‘menunggu,’ bahwa semua hal yang masuk dalam ‘tugasku’ harus segera aku eksekusi sehingga tugas tersebut bisa segera keluar dari ‘daftar harus dikerjakan.’ Semangat itu ada baiknya karena aku tidak keburu kehilangan ‘rasa’ waktu mengerjakannya tetapi rupanya kehilangan rasa ada baiknya juga karena rasa kita berubah sejalan dengan waktu. Dengan berlaku tidak terlalu tanggap, aku memberi waktu diriku untuk ‘berpikir.’ Jadi sekarang aku menerapkan waktu tunggu satu hari penuh sebelum merespon surat elektronik, lebih gawat lagi, aku sekarang tega membalas semua pesan singkat sebelum tidur malam jadi satu kali sehari saja kecuali untuk pesan penting terutama dari kedua tokoku. Mudah-mudahan aku tidak mengalami kemunduran karena ini. Aku melihatnya efisien secara waktu dan ‘aman’ secara hubungan komunikasi. Seperti keyakinan yang baru kuadopsi yaitu ‘semua bisa menunggu.’

Dan aku pun menunggu listrik kembali menyala selama lebih dari delapan jam hari ini. Hari Selasa adalah giliran listrik padam di desaku. Dua bulan ini jadual listrik padam berkisar antara jam 18:00 sampai 22:00. Kalau beruntung, bisa menyala satu atau satu setengah jam lebih awal. Namun hari ini istimewa karena listrik padam sepanjang hari. Aku menghabiskan waktu dengan membaca edisi akhir tahun majalah Time yang berisi figur-figur penting sepanjang 2009, menarik sekali. Aku juga sempat merebus kentang untuk makan siangku.

Semalam aku menyelesaikan buku baru mengenai Ubud. Seperti dugaanku, buku yang nampak seperti buku pariwisata ini sebetulnya adalah buku pemasaran. Aku setuju dengan ide Marketing 3.0 yang diperkenalkan di buku ini yaitu menggabungkan pemasaran produk dan nilai sehingga bermanfaat bagi komunitas. Jadi praktisi yang bergerak dibidang komersil tidak melulu melihat keuntungan sebagai tujuan akhir tetapi juga bagaimana kegiatan ekonomi ini memberi dampak positif pada lingkungannya. Ini semangat baru yang sedang giat dipopulerkan di dunia pemasaran belakangan ini. Pesannya adalah jangan hanya mengeksploitasi tapi juga memberikan kembali keuntungan itu kepada masyarakat dan alam.

Tadi pagi sesudah mandi tiba-tiba terbesit pikiran ‘buruk’ di benakku. Apa benar buku ini tidak bertujuan ‘ganda’ mengingat penulis juga menulis habis-habisan mengenai manajemen salah satu hotel ternama di Ubud dengan mengambilnya sebagai contoh yang benar dalam pengaplikasian Marketing 3.0? Mungkin aku salah. Yang aku tahu, tidak ada hal yang cuma-cuma di dunia ini. Apapun, akhirnya ada juga buku ‘kecil’ nan padat mengenai desa tempat tinggalku yang bisa aku hadiahkan kepada kawan-kawanku dari manca negara.


Tangan Tao-tao di Neru.