
Teman baruku yang duduk di kursi belakang bertanya kepadaku waktu perjalanan kami kembali ke hotel dari wisata kemarin. Aku pasti nampak lelah dan memang aku tidak enak badan di mobil yang membawa kami. Kelihatannya aku lupa minum air cukup banyak terutama sesudah makan siang. Kami menghabiskan satu hari penuh di pantai sekitar Pulau Phi Phi yang terkenal itu. Kami mengambil paket wisata satu hari yang dimulai pukul 8:00 dan berakhir pukul 18:00.
Wisata dimulai di satu pelabuhan kecil yang khusus disediakan untuk wisata bahari di Pulau Phi Phi. Jaket penyelamat, sepatu katak, dan peralatan snorkeling telah tersedia; bahkan lonjoran roti tawar untuk memberi makan ikan dan sendiri, kalau mau. Grup kami kebagian pemandu wisata berkebangsaan Inggris; masih muda, cekatan dan menguasai medan. Aku sempat terkejut karena tidak menduga melihat wajah asing sebagai tuan rumah wisata kami di Asia. Kapal kami bermuatan sekitar empat puluh wisatawan, satu pemandu wisata, pengemudi kapal, dan dua asistennya. Kapalnya nampak baru dan bersih, dilengkapi dengan kotak pendingin berisi botol air minum dan minuman karbonat; dan di siang hari aku mendapati dua kotak irisan nenas dan semangka. Ya, aku yang mendapati pertama kali lalu membukanya sebelum seluruh kapal ikut menyerbu potongan buah-buahan itu sampai ludes.
Perjalanan sektor pertama hanya memakan waktu sekitar tigapuluh menit. Aku masih menikmati udara laut waktu kami berhenti di Pulau Telur Mata Sapi (yang dinamai karena bentuknya). Di pulau ini kami berhenti sekitar empat jam untuk memberi kesempatan para penumpang berenang dan snorkeling. Matahari sudah tinggi waktu kami merapat di pulau ini. Banyak sekali orang di dalam air; dari grup kami, dan grup-grup yang lain. Luar biasa! Aku pusing membayangkan berenang tetapi tidak bebas mengayuh karena padatnya laut. Aku menyempatkan berjalan-jalan sebentar lalu kembali ke tempat teduh dibawah payung lebar. Matahari terlalu panas dan silau untukku.
Sedari awal aku tidak merencanakan untuk masuk ke air karena laut memang bukan ‘daerah’ku tetapi keempat kawanku semua sudah siap untuk masuk air. Melihat gadis berkerudung berpakaian renang adalah hal baru bagiku. Baju berenang mereka khusus, mirip baju menyelam, persis seperti pakaian berkerudung kecuali terbuat dari bahan spandex. Aku kagum pada ketahanan fisik mereka. Mereka mengenakan pakaian renang sejak berangkat dari hotel dan sepanjang perjalanan mereka duduk di dek terbuka di bagian depan kapal; tempat yang paling strategis untuk mengambil foto, kegemaran mereka.
Setelah pemberhentian pertama sekalian makan siang, kami berlayar memutari kepulauan karang di sekitar Pulau Phi Phi berpasir halus dan putih itu. Aku menikmati pulau-pulau berkarang yang tidak aku nikmati di Indonesia. Airnya bening sehingga ikan nampak dekat di permukaan. Para penumpang sibuk melempar roti yang langsung diserbu oleh ikan-ikan itu. Kami berhenti dan turun di dua teluk (salah satunya berhutan dengan monyet), lalu berlayar pelan memutari pulau-pulau karang itu menikmati perairan di daerah itu. Cuacanya bagus karena tidak ada awan dan hawanya tidak lembab. Sebetulnya matahari juga tidak bersinar terlalu terik tetapi aku melihat kawan-kawanku sudah berubah warna.
Aku senang telah menghabiskan waktu di pantai dan melihat pulau-pulau karang yang tidak aku jumpai di Indonesia, tetapi aku berpikir apakah aku hendak menjalani wisata serupa di Krabi besok? Kawanku bilang ini liburan, jadi sebaiknya aku mengikuti semua program. Namun aku juga berpikir, liburan adalah pilihan. Aku punya pilihan apa yang hendak aku lakukan.
Ketika kami melewati teluk tertutup di perairan Pulau Phi Phi.