Jumat, 15 Januari 2010

Hatiku sudah setengah jalan pulang…


Temanku bertanya semalam, aku menjawab. Aku dan kawan-kawanku mendiskusikan tentang berapa lama sebaiknya kita merencanakan sebuah perjalanan selama perjalanan kami ke Ayutthaya kemarin. Sedari dulu aku lebih suka merencanakan perjalanan singkat untuk perjalanan melihat-lihat tempat, untuk perjalanan santai dimana kami hanya menghabiskan waktu bersantai, bisa tinggal lebih lama. Yang pertama, kalau perjalanannya terlalu lama, sensasi pengalaman di hari-hari pertama menghilang karena tertumpuk sensasi berikutnya. Yang kedua, badan kita lelah sesudah mengalami beberapa sensasi baru sehingga tidak bisa menikmati lagi sensasi yang datang di hari-hari terakhir kita tinggal. Seperti waktu kemarin kami berada di mobil hampir dua jam waktu berangkat dan dua jam waktu kembali (untuk aku tiga-setengah jam malah untuk sampai di apartemen kawanku), kami semua jadi beku. Ternyata, lebih mudah merencanakan liburan diatas kertas, karena kelihatan mudah dijalani.

Meskipun lelah, kami tetap menikmati Istana Bang Pa-In tujuan pertama kami. Kami tiba waktu matahari sudah tinggi dan dekat makan siang. Setengah menyeret kaki, kami menapaki kompleks istana yang hijau asri itu. Bangunan dan patung-patungnya bergaya campuran Thai dan Eropa jadi di beberapa tempat kami tidak merasa seperti berada di Asia. Kawan-kawanku seperti biasa sibuk mengambil foto. Kebetulan tidak terlalu banyak turis di kompleks ini sehingga foto-foto hasil jepretan kami bisa nampak hening. Aku tidak begitu eksploratif kali ini, matahari sudah melumpuhkan sebagian semangatku, tetapi aku tidak keberatan menjadi model percobaan kawanku yang memotretiku karena blus merahku baik untuk komposisi. Menurut mereka. Apapun, aku membiarkan diriku lebih bebas sampai kawan baikku menyentil kenapa aku terlihat riang kemarin.

Seperti di Indonesia, sejarah mengenai satu tempat tidak ditulis dalam Bahasa Inggris sehingga kami harus mereka-reka sendiri sejarahnya. Dengan bantuan Google! Istana Bang Pa-In adalah istana musim panas Raja Rama V di akhir abad 18, jadi masih relatif baru. Di situsnya disebutkan juga kalau Raja sengaja membangun beberapa bagian istana, bahkan kuilnya, bergaya Barat untuk menciptakan sesuatu yang baru dan orisinil. Tapi memang menarik istana ini. Ada bagian yang mengingatkan kami pada salah satu merek furnitur dari Itali yang bergaya barok. Gaya Eropa-nya kelihatan mencuat dari keseluruhan nuansa Thai di istana ini.

Perjalanan dilanjutkan dengan pencarian hidangan Muslim untuk kawan-kawanku. Ternyata hidangan Muslim tidak mudah didapatkan di beberapa tempat di Thai. Para Muslim keberatan mencoba hidangan Thai karena mereka juga memasak babi. Restoran India bisa menjadi pilihan tetapi tidak setiap saat kami ingin menyantap hidangan yang sarat bumbu dan rasa itu. Jadi kami lega waktu pengemudi akhirnya menepi di sebuah stan makanan di tepi jalan yang pemilik stannya mengenakan jilbab lengkap dengan tutup wajah. Pad thai-nya enak dan porsinya mungil, tepat untuk aku. Pengemudi kami berbaik membelikan kami dua wadah nasi a la Hainam tetapi dengan rasa kari dari restoran di seberang. Kami puas dengan santap siang kami yang seadanya karena… kami semua sudah siap tumbang sejak keluar dari Istana Bang Pa-In.

Perjalanan dilanjutkan ke tujuan utama kami, kota tua Ayutthaya. Ayutthaya, dulunya bernama Siam, adalah ibukota dari Thailand selama sekitar 400 tahun di abad 13. Salah satu obyek wisata terkenal di kota ini adalah Wat Chaiwatthanaram, kompleks candi yang terbuat dari batu bata terakota seperti candi-candi jaman Majapahit di Trowulan, Jawa Timur. Reruntuhan candi di kompleks ini masih nampak kokoh meskipun beberapa stupa nampak miring. Arsitektur candi ini dipengaruhi oleh Khmer sehingga buat yang pernah mengunjungi Kamboja, bentuk candi ini tidak asing lagi. Yang paling ideal untuk melihat kota ini adalah menaiki sepeda keliling kota karena peninggalan arsitektur dari jaman itu tersebar diseluruh kota, mirip di Siem Reap, Kamboja. Namun kami puas bisa menikmati keindahan bangunan oranye ini dan tentunya mengambil foto dari berbagai sudut.

Aku terdiam berusaha menikmati lalu lintas yang berhenti di dalam kota Bangkok, dalam perjalanan kembali ke apartemen kawanku sesudah menurunkan kawan-kawanku di penginapannya. Kunjungan ke Thailand-ku sudah selesai. Perjalanan wisataku berikutnya bisa tanpa singgah di negara ini.

Phra Thinang Aisawan Thiphya-Art adalah paviliun bergaya Thai dengan empat teras dan atap bersusun yang dibangun oleh Raja Chulalongkorn di tengah kolam sisi luar Istana Bang Pa-In, di tahun 1876.