
Aku tersenyum di akhir hari bersama teman perempuanku kemarin. Kami melewati satu hari penuh bersama sejak bangun tidur sampai tidur malam. Aku tidak mempunyai rencana apa-apa jadi waktu kawanku keluar dari kamar tidurnya sekitar pukul 8:00, kami duduk di ruang tamu dan berbicara tidak ada habis-habisnya berjam-jam ditemani secangkir teh. Partnernya bergabung dan pembicaraan semakin seru sampai jam santap siang tiba.
Kami memutuskan untuk pergi ke spa dekat apartemennya untuk pijit Thai selama sembilanpuluh menit sebelum santap siang. Kami tertawa-tawa terus sepanjang jalan. Kami beruntung karena mereka mempunyai kamar terpisah untuk kami berdua sehingga kami bisa bebas berbicara. Sembilanpuluh menit berlalu begitu saja, meskipun aku merasa lelah tetapi aku tidak terlelap. Pikiranku berjalan-jalan, mengadopsi ide baru berkarya yang aku dapatkan di pagi hari waktu kawanku menunjukkan buku fotografi untuk kesekian kalinya selama aku tinggal. Entah kenapa selama perjalananku kali ini aku banyak menjumpai hal-hal yang berkaitan dengan fotografi. Yang pertama, tentunya kawan-kawan seperjalananku yang gemar memotret. Lalu, kawan tempat aku menginap ini banyak mempunyai kawan fotografer dan buku-buku fotografi di apartemennya adalah hasil pertemanannya dengan para fotografer itu.
Apapun, aku mengolah ideku ini selama sembilanpuluh menit diplintir seperti layaknya pijit gaya Thai. Di pagi harinya, kami berbicara mengenai ‘ketakutan’ kami untuk membuat resolusi tahunan karena kekuatiran kami atas ketidakmampuan kami untuk mewujudkannya. Selanjutnya kami membahas apakah sebetulnya kita perlu menyatakan tujuan hidup sehingga kita bisa menuju ke arah perwujudannya, atau, lebih baik kita diam-diam saja tanpa membuat pernyataan tetapi kami menuju ke arah perwujudan tujuan hidup kita? Kami membandingkan pengalaman masing-masing dan kawan-kawan yang kami tahu. Kami saling memuja dan memberi komentar atas pendapat satu sama lain. Kami menciptakan sebuah diskusi seru untuk mendapatkan jawaban yang kami cari dan belum kami temukan sampai akhir hari.
Pembicaraan berlanjut di rumah makan sederhana di sebuah jalan dekat apartemen kawanku. Kami terus berbicara sambil meminum kopi di sebuah hotel besar di daerah yang sama. Waktu sudah menunjukkan pukul 6:30 waktu kami memutuskan untuk berjalan pulang karena kami akan menghadiri undangan santap malam untuk merayakan ulang tahun salah seorang kawan kawanku. Lagi-lagi seorang perekam momen tetapi kali ini adalah pembuat video perang yang selama masa karirnya menemui beberapa momen dimana ajalnya hampir berakhir. Kami datang ke undangan ini bersama dua fotografer yang baru datang dari Vietnam. Aku tidak percaya dalam delapan hari kunjunganku di Thailand, setiap hari aku dikelilingi oleh hal-hal yang berkaitan erat dengan fotografi.
Pesta ulang tahun berlangsung menyenangkan. Aku berbicara dengan banyak pribadi menarik semalam itu. Bahkan dengan si empunya rumah yang berulang tahun. Waktu berada di taksi yang membawa kami pulang, kawanku berkata kalau si empunya rumah adalah pemalu dan jarang bercakap-cakap tetapi kawanku melihat kalau dia nampak santai berbincang denganku. Tentu, kami berbicang mengenai kegemaran kami mengkoleksi barang lama. Rupanya ada satu kesamaan yang membuat dia menjadi terbuka padaku.
Aku berterimakasih kepada kawan perempuanku sebelum tidur untuk hari yang indah bersama. Dia masih asik di depan televisi yang menyiarkan pertandingan tenis. Dia mengatakan, aku seharusnya hidup satu kota dengannya. Aku tidak tertarik hidup di Bangkok tetapi ide untuk tinggal dekatnya sangat menggodaku. Dia termasuk kawan yang bisa memberiku energi baru, dan aku kawan yang bisa membuatnya tertawa terbahak-bahak, katanya. Jadi aku akan melanjutkan usaha intimidasiku untuk membuat dia tinggal di Ubud dalam waktu dekat. Aku sudah mencium aroma keberhasilan usahaku ini di hari pertama. Aku tidak akan menyerah.
Kopi kami.