
Aku kelelahan mereka-reka kalimat yang mudah dimengerti oleh resepsionis hotel kami di Krabi. Menurut kawanku, mereka berani menaruh orang yang tidak bisa berkomunikasi dalam Bahasa Inggris di garis depan usaha hotel mereka. Kawanku benar tetapi aku perhatikan tidak banyak orang yang mengerti Bahasa Inggris sederhana disini. Jadi kami berlaku seperti Tarzan di banyak tempat dan kalkulator membantu untuk menawar barang di toko. Selebihnya, luangkan kesabaran saja.
Hotel kami di Krabi jauh lebih baik kamarnya daripada hotel kami di Phuket. Satu hal saja, koneksi internet di kamar sempat terganggu karena jaringan rusak, katanya. Tadi pagi aku pergi ke warung internet di seberang jalan untuk memeriksa email dan mengunggah pos blogku hari ini. Aku termangu-mangu karena Google dan program yang mereka pakai memakai bahasa lokal dengan tulisan keriting jadi aku kembali harus menebak-nebak. Kibordnya pun bertanda tulisan keriting itu. Jadi ada tantangan untuk mengira-ira.
Hari ini kawan-kawanku mengikuti wisata bahari satu hari ke empat pulau di sekitar Krabi. Mereka ingin berenang lagi. Aku menyerah, tidak berminat bergabung dengan mereka terutama karena matahari disini lebih terik daripada di Phuket. Aku mengambil wisata setengah hari di siang hari mengunjungi Kuil Gua Harimau (Tiger Cave Temple) dan air terjun air panas (tanpa nama). Pemandu wisata menjemputku sebagai orang ke-13, terakhir, di hotel pukul 13:00. Mini-van yang kami tumpangi nampak baru dan mewah, jalannya halus dan lancar. Kuil yang dituju jaraknya sekitar empatpuluh menit dari hotelku. Kami kebingungan waktu pemandunya mengatakan kalau waktu kami untuk melihat kuil hanya satu jam. Kami tidak tahu tata letak kompleksnya karena tidak ada peta dan panduan dari kuil maupun pemandu kami. Akhirnya kami hanya menduga-duga saja apa yang bisa kami kunjungi.
Ada beberapa gua di kompleks itu dimana para biksu bermeditasi. Konon jumlah mereka mencapai 250. Gua-gua di dinding karang itu dapat dicapai menggunakan tangga. Salah satunya sebanyak 1.237 anak tangga. Aku bersama satu keluarga dari Finlandia berusaha menaikinya tapi kami berhenti di anak tangga ke 163, nomornya tertera di pegangan tangan setiap pemberhentian. Aku ingin menaikinya tetapi waktu satu jam yang diberikan nampaknya terlalu singkat untuk memaksa tubuh keatas dan turun. Kami berjalan kembali. Tangganya curam sekali dan banyak monyet di sekitarnya. Monyet-monyet itu nampak tidak peduli tapi kita tidak pernah tahu apa yang ada di pikiran mereka sehingga aku menghindar kontak mata dengan mereka. Mereka aktif sekali melompat dan bercengkerama dengan kawan-kawannya.
Akhirnya aku meluangkan waktu untuk berdoa di hadapan Dewi Kwan-Im sesuai tata cara agama Buda dengan menggunakan dupa dan lilin, dan setangkai bunga sebagai persembahan. Seorang Ibu dari Inggris meminta aku mengambil foto beliau waktu sedang berdoa, kemudian beliau menawarkan mengambil fotoku. Kami tidak mengerti bagaimana urutannya karena tidak ada yang menjelaskan kepada kami. Lagi-lagi semua petunjuk ditulis dengan tulisan Thai.
Tujuan berikutnya adalah air terjun air panas yang jaraknya sekitar empatpuluhlima menit dari kuil tersebut. Kompleks air terjunnya sangat bagus, tertata rapi, mengingatkanku pada kebun raya mini di Ubud. Airnya tidak terjun setinggi yang aku bayangkan, lebih mirip sungai kecil yang berarus deras. Suhu airnya mencapai 40-42 derajat Celcius, nampak asap tipis di atas air. Aku telah membawa pakaian ganti kalau aku ingin merendam tubuh tapi aku urung turun ke air karena waktu yang diberikan hanya tiga puluh menit. Aku hanya duduk di batu dan merendam kakiku sampai sepaha. Airnya luar biasa panas, seperti membuka pori-pori sampai ke wajah. Badanku terasa panas setelah beberapa saat.
Aku hampir terlelap waktu perjalanan kembali. Kami semua terdiam. Matahari bersinar terik di luar sedangkan suhu di mobil sangat sejuk. Aku senang kembali ke hotel, mendapati kawanku sudah kembali dari petualangan mereka di empat pulau, dan koneksi internet sudah dapat digunakan meskipun tidak lancar!
Monyet di Kuil Gua Harimau.