Minggu, 17 Januari 2010

Kenapa jadi capai begini ya?


Aku bertanya pada diriku sepanjang pagi ini. Aku bergerak tapi seperti zombi rasanya. Badannya berjalan tetapi pikirannya beku. Badanku remuk-remuk sejak bangun pagi. Semalam aku tiba di rumah pukul 1:00 dan naik ke tempat tidur satu jam kemudian. Pukul 6:00 tadi pagi aku sudah beredar lagi.

Aku tidak bisa memutuskan apa yang aku mau saat ini. Aku mengatakan kepada kawanku betapa indahnya kalau mempunyai keinginan untuk berbelanja. Kemana keinginan yang dulu sulit aku hilangkan itu pergi? Aku mengamati penumpang pesawat dari Bangkok ke Jakarta semalam. Maskapai bujet dari Malaysia yang aku tumpangi ini ternyata murah hati sekali dalam hal berat barang yang boleh penumpangnya bawa, tidak seperti maskapai bujet dari Filipina yang biasa aku tumpangi.

Yang pasti aku keheranan karena berat tasku menjadi lebih dari 20 kilogram dimana kelihatannya itu tidak mungkin terjadi. Aku hanya membawa tambahan tiga kantong-kering (dry bag) yang tidak aku temukan di Indonesia dan satu tas tangan dari perancang tekstil Amerika kenamaan di Thailand. Aku percaya berat belanjaan itu tidak lebih dari 5 kilogram. Apapun, yang pasti penumpang lain membawa bertas-tas yang ukurannya sama dengan tas berisi pakaian kotor yang aku masukkan bagasi. Luar biasa bahwa maskapainya membiarkan para penumpang membawa barang berbobot lebih dari 7 kilogram standar internasional untuk bawaan tentengan dalam kabin.

Kembali ke pertanyaan semula kepada diriku? Kalau aku mempunyai energi dan kesempatan berbelanja di Bangkok, apa yang hendak aku beli? Beberapa kenalan baruku di Bangkok melontarkan pertanyaan mengenai apa saja yang sudah aku belanjai. Mungkin untuk kebanyakan orang, kunjungan ke Bangkok belum lengkap sebelum berbelanja. Temanku dari Perancis yang juga tinggal di Bali, yang aku temui di dalam pesawat, juga heran waktu aku mengatakan kalau aku menghabiskan dua hari di apartemen kawanku saja. Memang benar, aku hanya mengunjungi Ayutthaya pada hari pertamaku di Bangkok dan dua hari sisanya aku lebih dari senang menghabiskan waktu bersama kawan baikku di rumah saja. Kami berbicara tanpa henti sejak bangun tidur sampai aku berangkat ke bandara di sore hari.

Aku belum mempunyai rencana untuk hari ini. Aku mempunyai beberapa keinginan dan ketidakinginan. Antara lain aku harus segera merencanakan perjalananku berikutnya yang kemungkinan aku lakukan sebelum dua minggu dari sekarang. Ide untuk bepergian selalu menarikku namun ide untuk tidur di tempat tidur sendiri juga selalu menggodaku.

Thailand memang unik untuk urusan papan pemberitahuan.