
Aku menggumam sendiri dalam perjalananku dengan pesawat kelima dari enam yang bakal aku selesaikan dalam tigabelas hari lusa. Aku sudah rindu kehidupanku di rumah tapi aku ingin membuat perjalanan ini lengkap dengan mengunjungi keponakanku di Malang sebelum pulang. Kemarin adalah hari ulang tahunnya, seperti ritual tahun sebelumnya, kami menghabiskan waktu bersama. Aku menikmati.
Aku masih setengah bingung tadi pagi. Seperti yang aku bilang, aku bukan petualang sejati karena aku masih sering merasa tidak nyaman berada di situasi yang tidak menentu dimana itu sebetulnya adalah bagian dari sebuah petualangan. Aku merasa tidak pasti karena aku belum mempunyai tiket untuk ke Malang. Aku masih bimbang antara ingin tinggal lebih lama di Jakarta, keinginan untuk pulang, dan mampir di Malang sebelum pulang. Aku bukan praktisi ‘nikmati waktumu sekarang’ dalam hal ini.
Apapun, buku yang menemaniku selama perjalanan ini sesuai dengan ‘tema’ perjalananku. Aku mendapatkan buku The Geography of Bliss karangan Eric Weiner ini dari pasangan kawanku di Bangkok sebagai hadiah ulang tahun. Mereka mengundangku untuk merayakan ulang tahunku bersama mereka di Phnom Penh tetapi aku memutuskan tidak pergi karena penerbangannya tidak langsung dari Denpasar. Aku menghargai ide mereka yang manis sekali untuk bersamaku di hari ulang tahunku yang istimewa tahun ini. Menurut kepercayaan orang Cina, tahun ini usiaku adalah angka keberuntungan. 8!
Ya, buku itu menarik sekali. Ringan dibaca karena topiknya, dan menyenangkan dibaca karena cara penulisannya yang penuh humor. Penulisnya adalah jurnalis Amerika yang bekerja di daerah yang ‘unhappy’ yaitu di Irak, Afghanistan, dan… Indonesia. Sedih juga karena Indonesia tidak merupakan negara yang dia teliti untuk penulisannya mengenai ‘pengukuran kadar kebahagiaan’ tetapi langsung masuk di kategori ‘tidak bahagia.’
Sampai saat ini aku sudah membaca mengenai situasi ‘kebahagiaan’ di dua negara: Belanda dan Swiss. Menarik sekali bagaimana penulis ini benar-benar merencanakan perjalanannya ke sepuluh negara untuk mencari tahu apa yang bisa membuat satu bangsa merasa berbahagia. Dan lucunya, paling tidak di Belanda, ada profesor yang khusus meneliti ‘tingkat kebahagiaan’ orang Belanda. Lembaga penelitian ini bernaung dibawah sebuah universitas jadi paling tidak tingkat keilmiahan penelitiannya tinggi. Penulis tidak terlalu lama berkutat dengan data dalam angka. Dia berusaha mengerti bagaimana faktor-faktor penentu kebahagiaan ini dinilai dalam angka. Studinya jadi mirip studi antropologi karena dia melihat bagaimana budaya sebuah bangsa dibandingkan dengan budaya dari bangsa lain.
Aku belum selesai membaca mengenai bagaimana tingkat kebahagiaan di Swiss diukur tapi aku sudah membayangkan kebenaran tulisan penulis ini karena kawan kentalku di Ubud berasal dari Swiss. Meskipun dia sudah meninggalkan Swiss sekitar empat puluh tahun tetapi dia masih mampu melihat orang Swiss dari kacamata orang Swiss. Aku merasakan kebenaran ceritanya dari buku ini. Kadang-kadang aku mengulum senyum karena penulis bisa begitu lucu dalam menggambarkan sebuah tingkah polah orang. Aku salut akan kesensitifan dia menulis sesuatu yang pelik yaitu mempelajari tingkah laku orang dalam waktu singkat. Hidung jurnalisnya masih tajam di bidang lain. Singkatnya, dia memang mempunyai wawasan yang dalam dan luas sebagai seorang penulis.
Aku membayangkan kawan-kawan yang baru kujumpai lagi di perjalananku. Kawan perempuanku di Bangkok dan suami kawanku yang aku jumpai semalam adalah tipe orang yang selalu berbahagia di semua waktu. Meskipun kata orang tidak ada orang yang selalu berbahagia, yang ada adalah orang yang selalu nampak berbahagia. Tapi aku benar-benar menikmati waktuku bersama kawan-kawan dekat yang selalu nampak berbahagia itu karena mereka memberi enerji baik padaku. Sementara kedua kawanku itu mengatakan kalau aku telah membawa matahari bagi mereka karena aku bisa membuat mereka terbahak-bahak. Mudah-mudahan karena mereka juga melihat enerji baik terpancar dariku.
Ya, aku menikmati separuh hari Minggu-ku di Jakarta dengan bermalasan dan terbahak-bahak dengan pasangan kawanku sambil santap malam semalam. Seperti kunjunganku yang sebelumnya di Jakarta, aku merasa cukup sesudah melakukan: istirahat, berbelanja keperluan, bertemu kawan baik. Selesai. Bahagia yang sederhana (apakah ini terjemahan dari simple pleasure?).
Tampaknya kawan baikku menengarai rencanaku menghabiskan hari ulang tahunku secara serius. Aku tidak sadar. Kelihatannya aku telah memandang satu hari dalam tiga-ratus-enam-puluh hari dalam setahun ini begitu istimewa. Bisa jadi aku salah! Itu bukan ukuran tingkat kebahagiaan ha-ha.
Pagi yang menyilaukan di Krabi.